
Percayalah terkadang seorang wanita pergi bukan karena dia membenci. Melainkan kekecewaan yang dipendam sudah begitu mendalam.
~Bia Quinsa Altafunisha
***
Bia menatap ibunya dengan pandangan sayu. Matanya sudah bengkak dengan air mata yang terus dikeluarkan. Dia benar-benar bisa melihat keseriusan di kedua bola mata wanita yang melahirkan dirinya di dunia ini.
Sosok wanita yang selalu menjaganya. Sosok wanita yang mendidiknya. Sosok yang wanita yang selalu ada untuknya kini memberikan saran dari semua masalahnya.
Memang terdengar egois. Namun, entah kenapa hati Bia tak bisa menolaknya. Seakan apa yang dia rasakan. Seakan semua yang sudah dilewati membuat kepalanya akhirnya mengangguk.
"Iya, Bu. Bia mau," Jawab Bia dengan mantap yang membuat Almeera dan Bara tersenyum bahagia.
Ibu dari empat orang anak itu memeluk Bia dengan erat. Dia mengusap punggung putrinya yang menanggung banyak masalah itu sendirian.
Bukan Almeera egois. Bukan Almeera jahat atau berusaha menjauhkan putrinya. Namun, semua penjelasan Bara di telefon. Semua perkataan putrinya yang dikatakan pada suaminya itu, membuat Almeera mengambil keputusan ini.
Dia akan melindungi putrinya. Dia akan melindungi cucu yang ada di perut anak keduanya itu.
Bagaimanapun anak itu ada. Bagaimanapun anak itu berada di antara mereka. Almeera menyayangi anak itu. Almeera menyayangi cucu yang hadir di perut putrinya itu.
"Ayah akan mengurus semuanya, Bi. Semua pekerjaan kamu di rumah sakit dan surat pindah. Semuanya akan selesai dengan segera!" Kata Bara pada Bia yang membuat ibu hamil itu hanya mampu tersenyum dengan pelan.
Akhirnya tak ada lagi masalah yang disembunyikan. Semua yang dia tutupi kini diketahui oleh orang tuanya. Ternyata masalah yang dia jalani karena terlalu takut untuk mengatakan pada orang tuanya.
__ADS_1
Bia tak percaya orang tuanya adalah sosok yang paling memahami mereka. Bia sempat ragu jika orang tuanya adalah orang tua yang selalu mendukung anak-anaknya.
"Ayah, Ibu," Panggil Bia pelan yang membuat Bara dan Almeera menoleh bersamaan.
"Iya, Nak?"
"Bia meminta izin untuk mengundang teman disini, boleh? Hanya untuk berpamitan sebentar, sebelum Bia akhirnya pergi meninggalkan negara ini," Pamit Bia pada orang tuanya yang langsung disetujui oleh Bara dan Almeera.
**"
Bia menatap kedatangan sebuah mobil yang baru saja masuk ke rumah orang tuanya. Mobil yang pemiliknya adalah seseorang yang mungkin merusak masa lalunya. Namun, menurut Bia, apa yang terjadi di masa lalu tetap terjadi karena campur tangan Tuhan.
"Bi," Panggil pria dengan pakaian rapi itu berjalan cepat ke arah Bia yang menunggunya disana.
"Ayo masuk, Sem!" Ajak Bia dan mengajak pria yang merupakan sosok yang telah menorehkan luka padanya itu masuk ke dalam rumahnya.
"Apa yang ingin kamu katakan, Bi? Untuk masalah kemarin, aku… "
"Kamu sudah mengatakan ribuan kali kata maaf. Untuk kali ini, aku tak menerimanya!" Kata Bia yang membuat bibir Semi bungkam.
Pria itu terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Dia menatap ke depan dan membuat Bia tersenyum kecil. Entah kenapa wajah Semi yang tegang seperti ini terlihat lucu di kedua matanya.
Namun, tujuan dia mengundang Semi bukan untuk itu. Melainkan dia akan mengatakan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Lusa aku akan pergi," Kata Bia memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Pergi kemana?" Tanya Semi dengan terkejut.
Pria itu bahkan sampai mengalihkan tatapannya. Menatap sosok wanita yang benar-benar membuatnya jatuh cinta. Menatap sosok wanita yang sudah dihancurkan di masa lalu tapi ternyata berhasil membuat hatinya yang sudah lama padam kini kembali bersinar.
"Aku akan pergi dari Indonesia, Sem. Aku akan ikut orang tuaku," Kata Bia dengan pelan dan menundukkan kepalanya.
"Jangan bilang kalau kamu… " Tebak Semi yang membuat kepala Bia mendongak.
"Ya. Aku akan pergi ke New York. Aku akan tinggal disana dan membesarkan anak ini bersama orang tuaku."
Semi benar-benar menatap Bia tak percaya. Dia terkejut dengan apa yang dikatakan wanita yang dia cintai itu. Keputusan yang tak pernah ada dalam benak Semi ternyata benar-benar terjadi.
"Jadi kamu memilih meninggalkan Shaka?"
Bia mengalihkan tatapannya. Dia menatap hamparan taman bunga yang begitu sejuk dan indah.
"Kamu sangat tahu siapa yang meninggalkan disini," Ujar Bia dengan lirih tapi masih bisa didengar oleh Semi.
"Aku tak pernah ingin meninggalkannya tapi dia yang memintaku pergi. Jadi, aku hanya mengabulkan sebagian perkataannya saja," Lanjut Bia yang membuat kedua mata Semi benar-benar mulai membendung air mata.
"Aku… "
"Ini bukan salahmu. Jangan merasa bersalah. Jangan meminta maaf pada kesalahan yang gak kamu buat!" Kata Bia dengan tegas yang membuat Semi menahan air mata itu agar tak menetes.
"Kamu memang cenayang. Tahu aja kalau aku mau minta maaf," Kata Semi menggoda yang membuat keduanya tertawa untuk menghangatkan situasi tegang di antara mereka.
__ADS_1
"Aku akan mendukung keputusanmu. Pergilah sejauh mungkin! Aku yakin jika Shaka akan menyesal ketika kamu pergi nanti!"
~Bersambung