Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Jangan pisahkan Anak dan Ibunya


__ADS_3

...Terkadang mencoba memberikan maaf pada sebuah kesalahan seseorang bukanlah hal yang salah. Hanya saja kita mencoba berdamai dengan masa lalu agar semuanya menjadi lebih baik....


...~JBlack...


...****************...


"Darimana kamu, Bi?" Tanya suara yang hampir menggelegar dan membuat perempuan yang berjalan dengan lesu dan kepala menunduk itu spontan mendongak.


Dia menatap ke arah pria yang terlihat marah dan berdiri di dekat pintu utama rumahnya.


"Mas Shaka?"


"Kamu dari mana?" Tanya Shaka lagi yang membuat Bia menelan ludahnya paksa.


Akhh ini bukan waktu yang tepat. Jujur kepalanya sakit. Dirinya merasa pusing dengan semua yang terjadi hari ini padanya.


Pertemuan dirinya dengan Semi membuat pikirannya terkuras habis. Pertemuan dan pembahasan di masa lalu membuatnya merasa sedikit menjalani hari ini dengan berat.


"Aku dari rumah sakit," Jawab Bia dengan pelan.


"Siapa yang mengizinkan kamu bekerja, Bi? Apalagi membawa mobil dan mengendarainya sendiri. Siapa?" Bentak Shaka sampai Bia terperanjat kaget. "Kamu bisa menghubungiku, Bi. Pamit padaku dan aku akan mengantarmu. Aku takut terjadi sesuatu… "


"Pada anakmu kan, Mas?" Sela Bia dengan pandangan amat sangat lelah. "Aku tau! Aku tau kalau anak ini penting buat kamu. Aku tau anak ini berarti buat kamu tapi aku juga sayang dengan pekerjaanku. Pekerjaan yang aku lakukan sebelum anak ini hadir."


Bia mengatakan semuanya dengan mata berkaca-kaca. Dia sudah teramat lelah. Dirinya benar-benar merasa sakit dan pusing memikirkan semuanya. Memikirkan kejadian hari ini lalu ditambah kedatangan dirinya disambut oleh bentakan dan perkataan menyakitkan dari Shaka.


"Aku tau anak ini penting buat kamu. Aku janji bakalan jagain dia, Mas. Aku janji bakalan jaga dia buat kamu dan Mbak Dhira. Kamu gak perlu ingatin aku akan hal itu! Itu tugasku. Tugasku yang hanyalah seorang ibu pengganti dan rahim pengganti."


Setelah mengatakan itu Bia lekas berjalan lebih dulu. Dia melewati Shaka dengan mengusap air matanya. Jujur Bia sudah lelah dengan semua hal yang dia dengar.


Dari semua perkataan yang menyakitinya. Hanya kali ini dia berani mengutarakannya. Hanya kali ini Bia berani menumpahkan segala hal yang menyakitinya.


"Bia. Aku… "

__ADS_1


Bia tak mendengar apapun. Dia lekas masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Lalu dengan dengan pelan dia menyandarkan punggungnya di pintu kamar. Badannya merosot ke bawah lalu Bia memegang kedua kakinya yang ia tekuk dan di peluknya erat.


"Ibu… ayah," Lirinya dengan air mata yang mengalir deras. "Bia kangen kalian. Bia ingin cerita sama ibu dan ayah."


"Bi. Maafin aku, Bi. Aku tak bermaksud mengatakan itu. Bi… Bia!" Kata Shaka dengan mengetuk pintu kamar itu berulang kali.


Bia tak menjawab. Dia hanya menangis dan mengusap air matanya berulang kali. Baju yang ia pakai telah basah karena Bia gunakan mengusap air mata dan ingusnya.


Bia benar-benar tak peduli. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah dirinya sendiri. Kenapa Shaka selalu tak memikirkan dirinya. Yang ada dalam otaknya hanya anak ini, anak ini dan anak ini saja.


"Bia… buka pintunya. Aku serius minta maaf, Bi. Aku… "


"Pergi!" Teriak Bia dengan keras. "Pulanglah ke rumahmu. Tinggalkan aku sendiri!" Teriak Bia dengan marah.


Dia benar-benar tak mau bertemu dengan Shaka dulu. Bia benar-benar tak mau berbicara dan bertatapan dengan pria itu. Suasana hatinya sangat amat runyam. Suasana hatinya benar-benar buruk dan membuatnya sangat ingin marah pada orang disekitarnya.


"Bi… " Bujuk Shaka dengan pelan.


"Aku bilang pergi. Pergi!" Teriak Bia dengan memukul pintu itu dengan tangan dan membuat Shaka yang ada di depan pintu terperanjat kaget.


"Baiklah. Aku akan pulang. Jangan lupa makan dan minum vitamin, Bi!" Kata Shaka lalu dia mulai beranjak dari sana.


Dirinya menarik nafasnya begitu dalam. Pria itu terlihat frustasi dan menyesal. Shaka benar-benar merasa menyesal mengatakan itu. Dia sadar tentang apa yang dia lakukan dan katakan.


"Tuan Shaka?"


"Bibi?" Panggil Shaka yang terkejut dengan wanita yang tak lagi muda di depannya ini. "Apa kabar?"


Shaka memeluk wanita di depannya ini dengan hangat. Lalu dia mengajak Bibi Mar duduk di kursi makan untuk mengobrol dengannya.


"Bagaimana? Bibi betah disini?" Tanya Shaka yang penasaran.


Bibi Mar tersenyum dengan kepala mengangguk. "Tentu saja. Disini Bibi seperti menemukan anak sendiri. Non Bia sangat baik pada Bibi."

__ADS_1


Shaka terdiam. Namun, matanya menatap penuh antusias ke arah wanita yang sejak dulu merawatnya itu.


"Non Bia tak membedakan Bibi seperti pelayan. Dia anggap Bibi seperti neneknya sendiri. Bahkan Non Bia selalu melakukan beberapa hal sendiri, Tuan. Dia tak semanja itu. Dia benar-benar wanita hebat," Kata Bibi Mar memuji.


Shaka yang mendengar entah kenapa ikut tersenyum. Dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh pelayannya itu. Bia memang baik, bahkan wanita itu sangat amat baik. Dia lebih mementingkan kepentingan temannya daripada kepentingan dia sendiri.


"Terus, Bi?"


"Non Bia selalu makan dengan Bibi disini. Non Bia juga pandai memasak. Dia membuat makanan untuknya dan calon anaknya dengan beberapa menu yang berbeda. Dia juga membuat cemilan untuknya. Non Bia benar-benar paket komplit seorang istri idaman, Tuan. Anda benar-benar sempurna memiliki istri sepertinya."


Deg.


Jantung Shaka mencelos. Dia mengedipkan matanya sekali mendengar ucapan pelayan terbaiknya itu. Entah kenapa ada sesuatu yang menusuk hatinya saat mendengar kata-kata itu.


Seakan Shaka hanya melihat kelebihan Bia saja dimatanya. Seakan semua orang menyukai Bia dari tingkah lakunya dan itu juga dia rasakan.


"Jangan pernah sakiti Non Bia, Tuan," Kata Bibi Mar tiba-tiba yang membuat Shaka spontan menoleh.


"Maksud, Bibi? Bibi tau kan siapa dia?"


"Bia tau. Non Bia hanya istri siri yang digunakan untuk melahirkan dan hamil anak kalian. Tapi… "


Bibi Mar menjeda. Hal itu membuat Shaka penasaran dan menunggu.


"Anak yang dikandung oleh Non Bia adalah anak Tuan dan anak Non Bia. Jangan pisahkan anak dan ibu, Tuan. Mereka adalah satu kesatuan."


"Tuan bisa bayangkan bagaimana jika Tuan tiba-tiba dipisahkan oleh nyonya besar. Bibi yakin Tuan tak akan mau kan?"


Shaka seakan mendapatkan tamparan. Kata-kata yang keluar dari bibir Bibi Mar benar-benar mampu membuatnya sadar. Sadar akan kenyataan yang terjadi. Sadar jika apa yang dia lakukan berusan sangat amat salah.


"Tapi, Bi. Aku mencintai, Dhira. Karena dia juga, aku mau menikah lagi. Jadi Bia ada karena permintaan Dhira. Aku tak mungkin meninggalkan istriku hanya karena seorang anak dan perempuan yang baru saja hadir dalam hidupku."


~Bersambung

__ADS_1


Semoga Mas Shaka sadar yah. Biar gak ngeselin mulu.


__ADS_2