
Terkadang tak ada kata terlambat untuk meminta maaf pada orang tua setelah apa yang sudah kita lakukan tanpa sepengetahuan mereka.
~JBlack
***
"Ibu," Panggil Bia saat di baru saja keluar dari mobil dan langsung disambut oleh sosok Almeera yang sudah berdiri di teras rumah.
Kedua bola mata seorang ibu dari empat orang anak itu memerah dengan bekas air mata ada disana. Sebuah tatapan yang mengandung arti kekecewaan bisa terlihat disana.
Bia paham dirinya bersalah dan dia juga bersedia untuk menanggung semua konsekuensi yang sudah dia lakukan. Tak ada kata mundur, tak ada kata terlambat untuk mengakui semuanya.
Dirinya memang bersalah. Dirinya memang sudah mengambil keputusan sebesar ini. Jadi apapun yang terjadi, dia sudah siap untuk melewati semuanya sendiri.
"Putriku," Lirih Almeera lalu segera memeluk putrinya dengan pelan.
Sebuah pelukan yang begitu terasa hangat dan tenang. Sebuah pelukan yang begitu Bia inginkan sejak lama. Dirinya benar-benar merindukan pelukan yang begitu menenangkan. Pelukan yang selalu ada untuknya disaat dirinya berada di masa duka maupun senang.
Air mata tak mampu ditahan. Air mata tak ada yang mampu membendungnya.
Baik Almeera maupun Bara. Keduanya sama-sama menangis hebat. Keduanya sama-sama mengeluarkan keluh kesah itu melalui tangisan dan pelukan di antara keduanya.
"Maafkan Bia, Bu. Maafkan Bia yang sudah membuat Ibu dan Ayah malu. Maafkan Bia karena sudah… "
Almeera menggelengkan kepalanya. Dia memberikan tanda agar anaknya tak mengatakan itu lagi. Jujur hati seorang ibu merasa sakit saat sosok suaminya menceritakan semuanya melalui panggilan singkat kepadanya.
Apa yang Bara lihat. Apa yang Bara ketahui. Semua dijelaskan oleh Bara melalui ponselnya. Dia menghubungi istrinya sebelum keduanya pulang.
Bara hanya tak mau istrinya terkejut. Bara tak mau sakit istrinya kembali kambuh. Namun, semua dugaan dan kecurigaan pada diri Almeera dan Bara membuatnya tak terkejut begitu lebih.
__ADS_1
Apalagi saat melihat susu hamil di rumah Bia. Almeera sudah bertanya-tanya dan curiga akan hal itu.
"Sudah berapa bulan?" Tanya Almeera pelan pada putrinya.
Ibu dari empat orang anak itu melepaskan pelukannya. Dia menatap ke arah perut Bia yang terlihat besar.
"Sudah delapan bulan, Bu," Jawab Bia dengan lirih.
Air mata Almeera kembali menetes. Dia tak menyangka putrinya melewati semuanya sendiri. Dia tak menyangka putrinya melewati masa sulit kehamilan dengan sendiri.
"Boleh ibu memegangnya?" Pinta Meera dengan pelan sambil menatap kedua bola mata Bia dengan pandangan yang begitu sedih.
"Tentu."
Almeera mengangkat tangannya pelan. Terlihat sekali tangan kanan ibu empat orang anak itu gemetar. Namun, jujur didasar hati Almeera, dia benar-benar tak menyangka putrinya mampu melewati masa sulit kehamilan sendiri.
Mampu menyembunyikan semuanya dari mereka dan juga mengambil keputusan sebesar ini.
Deg.
Jantung Bia berdegup kencang. Dia merasa bersalah saat melihat ibunya dan ayahnya benar-benar menerima keadaan dirinya. Bahkan kehadiran cucu yang tak pernah diketahui oleh mereka langsung diterima dengan baik.
"Sehat, Bu," Sahut Bia dengan tersenyum meski air matanya menetes. "Meski ya, Bia sering mengalami pendarahan. Bia… "
"Kamu stress?" Tebak Almeera pelan yang langsung tepat sasaran.
Bia mengangguk. Apa yang dikatakan ibunya memang benar. Terlalu mencintai Shaka sepenuh hati. Terlalu memikirkan pria itu sampai melupakan kesehatan dirinya. Membuat Bia sering mengorbankan anak yang ia kandung.
Namun, ternyata sekarang.
__ADS_1
Hanya anak yang dia kandung yang bertahan dengannya.
Hanya anak yang saat ini tumbuh di perutnya yang bersama dengannya.
"Nak," Panggil Almeera pelan yang membuat Bia mendongak.
"Ya, Bu?"
"Abangmu sudah tahu semuanya bukan? Dia yang menjadi wali nikahmu bukan?" Tanya Almeera pada Bia dengan pelan.
Bia mampu melihat kesedihan di kedua mata ibunya. Namun, dirinya berjanji tak mau berbohong lagi. Dia berjanji akan mengatakan semuanya pada keluarganya sekarang.
"Iya, Bu. Abang yang Bia minta untuk menjadi wali. Tapi itupun, atas paksaan… "
"Jangan diteruskan!" Kata Almeera yang membuat Bia terdiam karena tak tahu apa yang diinginkan ibunya.
"Apa kamu masih mencintai Shaka?" Tanya Almeera yang membuat Bia terkejut bukan main.
"Bia… "
Almeera terdiam. Dia menunggu jawaban putrinya yang ingin dia dengar.
"Bia mencintanya, Bu. Tapi, mencintainya sakit. Bia bahkan sering mengorbankan anak Bia demi membelanya," Lirih Bia mulai mencurahkan semuanya.
"Bia sering keluar masuk rumah sakit, pendarahan tapi dia selalu telat datang untuk mengunjungi kami. Bahkan dia sering tak peduli pada kami berdua," Lanjut Bia pelan sambil menunduk dan menghapus air mata yang menetes di ujung matanya.
"Bia tak mau cinta yang seperti ini, Bu. Bia tak mau kembali padanya lagi. Bia ingin melupakan semuanya," Kata Bia dengan suara yang sangat amat menunjukkan dirinya begitu putus asa.
Almeera paham akan hal itu. Dia meraih kedua tangan putrinya dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Ayo kita pulang ke New York. Kita tinggalkan Indonesia dan besarkan anak ini disana!"
~Bersambung