Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Pelukan Hangat Oleh Shaka


__ADS_3

...Percayalah terkadang seorang anak yang belum lahir tentu mulai bisa merasakan sentuhan ayahnya yang ada di dekatnya. ...


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...***...


Shaka terdiam cukup lama. Dia menatap ke arah dua bola mata Bia dengan lekat. Pria itu seakan masih menyelami dan memahami akan apa yang diminta oleh istrinya itu kepadanya. 


"Mas," Panggil Bia pelan yang membuat lamunan Shaka buyar. "Boleh?"


Bia menanyakan itu sekali lagi. Dia benar-benar menginginkan sentuhan Shaka di perutnya. Entah kenapa seakan ada sesuatu dalam dirinya yang menggelitik untuk meminta hal itu pada suaminya. 


"Kalau gak mau. Gak papa, Mas," Kata Bia dengan pelan. "Aku ingin ke kamar dulu untuk istirahat."


Bia tak mau memaksa. Ya meski dia ingin. Meski perempuan itu mau bahkan sangat mau. Namun, dia tak mau memaksa apa yang tak diinginkan oleh Shaka. 


Perempuan itu hendak berbalik. Namun, saat bersamaan Shaka menarik lengan Bia sampai perempuan itu tak jadi membalikkan tubuhnya. 


"Ada apa, Mas?" Tanya Bia bersamaan dengan tangan Shaka yang mulai terulur dan menyentuh perut Bia dengan pelan. 


Jantung Shaka berdegup kencang. Ya perasaan Shaka seakan tak karuan. Apalagi dirinya baru menyadari akan satu hal. Perut Bia sudah tak sekecil dulu. Ya perut istrinya itu sudah menonjol. 

__ADS_1


Sudah membentuk sebuah bulatan yang begitu sempurna dan membuat kedua sudut bibir Shaka tanpa sadar melengkung ke atas. 


"Anakku," Liriknya sambil mengusap perut Bia dengan bahagia. 


Ya wajah pria itu sangat amat bahagia. Wajahnya begitu mengapresiasi apa yang saat ini dia rasakan. Perasaan Shaka menghangat. Jantungnya berdegup kencang dan juga senyuman itu terlihat begitu cerah. 


"Perutku sudah gelembung ya, Bi."


Ahh suasana yang terharu tiba-tiba berubah komedi. Apalagi saat Shaka mengatakan gelembung, bersamaan dengan bibi Bia yang terkekeh. 


"Kalau bicara ya, Mas. Astaga!" 


Bia membiarkan Shaka terus mengusap perutnya. Apalagi saat pria itu menarik lengan Bia untuk mengikuti langkahnya. Ya, Shaka hanya membawa Bia untuk duduk. 


Ah lebih tepatnya dirinya yang duduk dan Bia berdiri di depannya. 


"Dia sehat kan?" Tanya Shaka sambil mendongak. 


Bia mengangguk. Saat dia hendak menjawab. Tiba-tiba sebuah pelukan hangat dilakukan oleh Shaka di perutnya. 


Ya pria itu memeluk Bia sambil duduk. Hal itu tentu membuat kepala Shaka tepat berada diatas perut Bia yang mulai membuncit. Kepalanya begitu tenang bahkan sampai Shaka mengusap sedikit kepalanya dengan perut tersebut. 

__ADS_1


"Assalamu'alaikum anak Papa," Sapa Shaka yang membuat jantung Bia berdegup kencang. "Bagaimana kabar kakak di dalam sana? Kakak baik-baik aja kan?" 


Bia terdiam. Namun, matanya terus memandang ke arah bawah tepat dimana Shaka mengajak berbicara anaknya. 


"Papa berharap Kakak baik-baik saja yah. Sampai nanti Kakak keluar dan kita bertemu."


Bertemu? 


Satu kata yang terngiang dalam otak Bia. Bertemu secara nyata yang menandakan jika dia harus sadar. Sadar bahwa jika dirinya melahirkan makan semuanya selesai. Maka semua yang mereka lakukan sekarang, keputusan dan juga tujuan tentang pernikahan ini harus selesai dan dia harus pergi dari kehidupan Shaka. 


Namun, mengingat apa yang dia lihat tadi siang. Mengingat apa yang ia lihat dari tingkah kakak madunya. Entah kenapa terdapat hati kecilnya yang tak rela. 


Tak rela jika anak yang ia kandung diurus oleh wanita pengkhianat. Tak rela jika anak yang ia kandung dibesarkan oleh manusia yang tak jujur seperti Dhira. 


"Aku harus menemukan cara lain untuk mengatakan pada Mas Shaka. Bahwa Mbak Dhira sebenarnya telah mengkhianati dirinya dengan kakaknya sendiri."


~Bersambung


Kira kira Mbak Bia bakalan bilang langsung atau nggak yah?


Duh mulai nih, next episode siapin jantung.

__ADS_1


__ADS_2