Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Gagal Mempengaruhi


__ADS_3

Percayalah sepandai apapun kucing melompat. Pasti akan ketahuan juga.


~JBlack


***


"Mas yakin gak curiga sama Bia?" Tanya Dhira saat keduanya sedang berada di dalam mobil.


Ya saat ini Shaka dan Dhira berada di perjalanan pulang. Perempuan itu mengatakan jika perutnya sedikit kram dan membuat Shaka mengantarkannya pulang.


"Curiga?" Ulang Shaka dengan kening berkerut.


"Iya, Mas. Curiga. Bagaimana bisa Bia kenal sama Semi?"


Shaka terdiam cukup lama. Pikirannya mulai terpengaruh. Apalagi Shaka adalah orang yang mudah percaya pada Dhira.


"Mungkin teman lama," Jawab Shaka masih berusaha berpikiran positif.


"Teman lama? Sedekat itu?" Ulang Dhira dengan melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku gak percaya, Mas. Kamu harus hati-hati sama Bia. Kamu harus lihat gerak gerik mereka. Jangan sampai…"


"Dhira stop!" Kata Shaka dengan tegas. "Jangan menuduh Bia tanpa bukti. Dia bukan wanita sembarangan!"

__ADS_1


Shaka tetap percaya pada Bia. Bagaimanapun dia juga tahu masa lalu istri keduanya itu. Meski dia tak tahu siapa sosok yang telah menghancurkan masa depan istri keduanya.


"Aku tak menuduh. Aku hanya memperingatkan Mas Shaka agar hati-hati."


"Bagaimanapun Bia sendiri adalah orang yang mudah menerima perjanjian kita untuk hamil anak kita. Bisa jadi… "


"Dhira!" Sela Shaka dengan nada peringatan. "Aku bilang cukup!"


"Mas Shaka percaya sama Bia?" Seru Dhira dengan raut muka dibuat memelas. "Jangan terkecoh dengan muka polosnya, Mas. Banyak gadis pura-pura polos tapi dia ternyata murahan!"


Cittt..


Kedua tubuh itu hampir terpental ke depan jika saja tak memakai sabuk pengaman. Dhira benar-benar terkejut bukan main dengan apa yang suaminya lakukan.


"Kamu sendiri yang gak mau diam! Kamu juga dan mulutmu ini, kenapa bisa mengatakan hal serendah itu?"


"Hal rendah apa, Mas? Aku hanya takut!"


"Untuk apa takut?" Kata Shaka dengan nada menantang. "Kemana Dhira yang dulu memaksa untuk menikahi Bia demi seorang anak?"


"Kemana Dhira yang bilang Bia gadis baik-baik?" Seru Shaka dengan tegas.

__ADS_1


"Kemana, hah?"


Ahh sepertinya Shaka benar-benar memutar ucapan istrinya kali ini. Pria itu benar-benar mendapatkan jawaban dan senjata untuk melawan Dhira.


"Jangan lupa! Kamu yang maksa Mas untuk menikah dengan Bia. Kamu yang mengatakan bahwa Bia pantas menjadi ibu untuk anak sambung kita."


"Aku… "


"Cukup sampai disini, Dhira. Kamu belum tau Bia seperti apa. Kamu belum pernah tinggal bersamanya," Ujar Shaka dengan nada suaranya yang benar-benar tak mau diganggu gugat.


"Jadi Mas bilang, karena dulu pernah tinggal bersama waktu honeymoon. Mas udah bisa tahu gimana Bia. Gitu?"


"Sudah, Dhira. Stop! Jangan lanjutkan perdebatan ini," Kata Shaka memutus ocehan Dhira. "Lebih baik kamu fokus dengan kehamilan kamu. Ingat, ibu hamil tak boleh stress dan memikirkan hal yang berat."


Akhirnya Shaka kembali melanjutkan perjalanan. Dia benar-benar tak mau melanjutkan pertengkaran ini. Apalagi entah kenapa jantungnya bergemuruh saat telinganya mendengar Dhira mengatakan bahwa Bia murahan.


Shaka tak terima itu. Shaka tak mau dan dia juga tahu bagaimana Bia. Tak ada satupun orang yang berhak menghina istri keduanya itu.


Sedangkan Dhira dia sudah mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar marah besar. Namun, Dhira hanya mampu menahannya.


"Awas kau, Bia! Kali ini kau menang tapi untuk lain kali. Jangan harap!"

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2