
...Terkadang sesuatu akan mulai disadari jika terjadi pada orang yang tanpa sadar kita cintai. Mungkin memang hatinya sudah berpaling. Namun, demi untuk menjaganya dia rela menahan perasaannya. ...
...~JBlack...
...****************...
Shaka yang mendapatkan telepon tentu terkejut. Dia yang baru saja sampai di rumah tentu mulai panik. Ahh lebih tepatnya wajahnya sangat terlihat khawatir.
"Ada apa, Mas?" Tanya Dhira yang turun ke lantai pertama dengan menatap Shaka yang terlihat tegang.
"Aku lupa dengan berkas pekerjaanku di kantor, Sayang," Kata Shaka yang membuat Dhira mendekat.
"Ya diambil, Mas. Kalau memang Mas Shaka butuh," Ujar Dhira yang membuat Shaka menoleh.
"Kamu gak papa aku tinggal?"
Dhira tersenyum. Dia mengusap wajah Shaka dengan pelan. "Sejak kapan aku menahan Mas Shaka tentang pekerjaan, hmm?"
"Ya aku takut aja. Kalau kamu bakalan marah aku tinggal," Kata Shaka yang membuat Dhira menggeleng.
"Udah cepet berangkat, Mas. Kalau Mas Shaka memang butuh!"
Akhirnya Shaka tersenyum lebar. Dia mengangguk lalu lekas mendaratkan ciuman di dahi Dhira.
"Kamu hati-hati yah. Jangan kecapekan. Ingat! Anak kita masih kecil dan kamu harus banyak istirahat," Kata Shaka sambil mengusap perut Dhira.
__ADS_1
"Iya, Papa. Mama bakalan diam dan gak nakal!"
Akhirnya Shaka lekas keluar dari rumah. Dia melambaikan tangannya pada Dhira yang mengantar dirinya sampai depan rumah. Sampai akhirnya saat mobil Shaka mulai tak terlihat.
Kedua tangan Dhira terlipat di depan dada. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis.
"Kamu ingin melihat keadaan Bia kan, Mas?" Kata Dhira dengan suaranya yang terdengar menyindir.
"Aku yakin saat ini istri mudamu itu sedang kesakitan. Aku berharap anak itu mati dan tak akan selamat!" Kata Dhira dengan jahat lalu mulai berbalik dan masuk ke dalam rumah.
***
Saat Shaka baru saja sampai di depan klinik tempat kenalan istrinya. Shaka lekas masuk. Dia tentu tahu dimana tempat istrinya berada. Sampai akhirnya saat dia hampir sampai di ruangan istrinya.
Dari jauh, Shaka melihat sosok pria yang dia kenal. Sosok pria yang sangat familiar di matanya. Sosok pria yang dia tahu siapa itu.
Tentu Semi, pria yang duduk di depan ruang dimana Bia berada juga tak kalah terkejut. Pria itu beranjak berdiri dan bersalaman dengan Shaka.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Semi dengan mengerutkan keningnya.
"Aku ditelpon oleh dokter bahwa istriku pendarahan," Kata Shaka yang membuka Semi menegang.
"Istri?" Ulang Semi dengan jantung yang berdebar. "Istri siapa, Ka?"
"Istriku, Semi. Dia… "
__ADS_1
"Tuan Shaka," Panggil seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan dimana Bia berada.
"Ah iya, Sus?" Jawab Shaka dengan berbalik..
"Mari masuk. Dokter dan istri anda sudah menunggu," Kata suster yang membuat Shaka mengangguk.
Saat pria itu hendak melangkah. Sebuah cekalan tangan dan nafas memburu membuat langkah kaki Shaka terhenti. Pria itu berbalik dan menatap ke arah Semi yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Lepaskan, Sem! Aku harus segera ke dalam!" Kata Shaka dengan serius.
"Aku ingin bertanya padamu," Ujar Semi dengan nafas memburu.
"Ini bukan waktu yang tepat!"
"Ini sangat tepat!" Seru Semi dengan amarah yang tertahan.
Shaka yang juga sedang terbakar emosi mulai hampir terpancing. Dia khawatir dan ingin segera menemui istrinya tapi kenapa temannya ini menahannya.
"Kau!"
"Aku tau istrimu Dhira, Shaka!" Seru Semi dengan to the point. "Tapi di dalam sana bukan Dhira!"
Shaka menegang. Dia menatap ke arah Semi dengan tatapan terkejut.
"Di dalam sana adalah Bia. Aku yang membawanya kesini juga. Lalu kau menyebutnya istri. Apa maksudmu?"
__ADS_1
~Bersambung