Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Gombalan Ala Omes


__ADS_3

...Ternyata sebuah perasaan tak pernah bisa datang dan pergi sesuai apa yang kita minta. Mereka akan berdatangan sesuai akur yang diciptakan dan mereka akan tercut off dengan sendirinya jika perasaan kita sudah lelah. ...


...~JBlack...


...****************...


Shaka menoleh ke samping. Dia menatap sosok istri sirinya yang memejamkan matanya dengan tenang. Nafas Bia terlihat begitu naik turun begitu lembut. Hal itu menandakan jika ibu hamil satu ini sudah tidur dengan tenang. Namun, Shaka tahu posisi tidur seperti ini tak baik untuk Bia.


Dia akhirnya mulai keluar dari mobilnya. Berjalan memutari kendaraan itu lalu membuka pintu dimana Bia berada. Dengan begitu lembut Shaka membuka sabuk pengaman Bia. Menyelipkan tangannya ke leher dan kaki istrinya itu.


Lalu dengan sekali gerakan. Akhirnya Shaka mulai menggendong Bia. Dia membawa istrinya itu dengan pelan. Seakan Bia begitu berarti untuknya.


Dia membuka pintu rumah dengan pelan lalu menutupnya lagi. Shaka benar-benar melakukan semua itu begitu lembut.


"Akhirnya," Gumamnya saat Shaka berhasil membaringkan tubuh istrinya itu di atas ranjang.


Pria itu menggerakkan tangannya yang agak gemetar. Namun, bibirnya tersenyum tipis saat dia menatap wajah tenang istri sirinya itu. Bagaimana Bia yang tidur dengan tersenyum membuat senyuman itu menebar di kedua sudut bibir Shaka.


"Terima kasih untuk malam ini," Lirih Shaka dengan pelan lalu membantu melepaskan jilbab istrinya itu.


Dia melakukan dengan pelan. Seakan Shaka takut membangunkan istrinya itu. Setelah kerudung itu berhasil terlepas. Shaka mulai membuka jaket yang dipakai Bia. Setelah semuanya selesai. Dia menarik selimut lalu menutupi tubuh istrinya agar hangat.


Tatapannya menurun. Dia mengangkat tangannya lalu mengusap perut rata yang di dalamnya ada calon anaknya tumbuh kembang dengan baik.


"Sehat-sehat ya. Papa gak sabar buat ketemu sama kamu, Nak," Kata Shaka dengan mata berkaca-kaca.


Dia menurunkan tubuhnya. Shaka memajukan wajahnya sampai akhirnya…


Cup.


Shaka mencium perut itu dengan perasaan bergetar. Ya dia begitu menyayangi anak ini. Dia sangat menyayangi anak yang ada dalam kandungan istrinya itu. Shaka sangat mencintai anak ini dan sangat menunggu kelahirannya.


"Papa akan mengunci pintu dulu dan bersih-bersih yah. Kamu tidur dengan tenang. Temani ibumu yang sudah tidur duluan," Kata Shaka yang tanpa sadar menyebut Bia dengan panggilan ibu.


Akhirnya calon ayah itu keluar dari kamar. Shaka ingin memarkirkan mobilnya dan mengunci pintu. Tanpa dia tahu, saat Shaka berhasil menutup pintu kamar dan keluar.

__ADS_1


Sebuah air mata menetes dari sudut mata seorang wanita yang sejak tadi pura-pura tidur. Sejak tadi berusaha terlihat biasa saja meski hatinya sebenarnya merasa bahagia sekaligus takut.


Hatinya menghangat. Perasaannya membuncah saat dia menyadari jika suaminya ternyata sangat menyayangi anaknya.


Mata yang semula terpejam kini terbuka. Bia menatap langit-langit kamar dengan mata yang berair karena air mata itu terus menetes tanpa bisa dicegah.


"Setidaknya Ibu gak takut buta ninggalin kamu, Nak. Papamu akan menyayangimu dengan baik," Gumam Bia dengan menarik nafasnya begitu dalam saat rasa sesak itu memenuhi hatinya.


Ya Bia tak munafik. Dia tak mau berbohong. Hatinya sudah jatuh terjungkal dalam perasaan pada Shaka. Sejak pandangan pertama mereka. Anak kedua dari Almeera dan Bara itu sudah jatuh cinta pada pria yang sudah memiliki istri itu.


Namun, Bia berpikir awalnya hanya karena pandangan pertama. Atau cinta karena pertemuan pertama. Namun, semakin kesini. Perasaannya semakin besar. Cintanya semakin berkembang dan membuatnya selalu takut.


Takut untuk melihat kemesraan Shaka dan Dhira. Takut jika apa yang dia takutkan akan terjadi.


Bia tak mau egois. Bia tak mau menjadi wanita yang tak tahu terima kasih. Bia tak mau menjadi wanita yang tak memiliki prinsip.


Dia akan ingat persyaratan dengan Dhira. Dia akan ingat bahwa dia disini hanya pemeran pengganti.


"Sadar, Bi. Kamu hanya pengganti selama beberapa bulan ke depan. Setelah itu kamu harus sadar bahwa tempatmu bukan disini!" Gumam Bia dalam diam.


"Tapi setidaknya pengganti disini bisa meminta waktu yang lebih. Meminta waktu sebelum semuanya berakhir," Kata Bia dalam diam.


...****************...


Hembusan angin pagi mulai memasuki celah jendelanya yang bisa dirambati. Suara kicau burung terdengar begitu tenang di telinga seorang perempuan yang mulai membuka matanya.


Dia menarik tangannya ke atas. Mencoba membuat tubuhnya sedikit lebih ringan. Matanya menatap ke arah tirai yang terlihat sinar matahari disana.


Spontan Bia lekas menoleh ke arah dinding. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dan membuat ibu hamil itu beranjak duduk.


"Mas Shaka kemana?" Gumam Bia dengan khawatir.


Dia menurunkan kedua kakinya. Bia lekas berjalan ke arah kamar mandi yang tertutup. Tak ada orang disana. Bia lekas keluar dari kamar.


Matanya mencari dimana suaminya berada. Sampai akhirnya tanpa sengaja matanya menatap sebuah tangan muncul dari sofa ruang tamu. Bia spontan berjalan ke arah sana.

__ADS_1


Langkah kakinya yang pelan semakin membawanya mendekat dan tak lama sosok Shaka ada disana. Sosok suaminya sedang tidur dengan posisi yang tak nyaman.


"Kamu tidur disini, Mas?" Gumam Bia dalam hatinya. "Kamu gak mau tidur satu kamar sama aku?"


Entah kenapa melihat Shaka yang tidur di atas sofa membuat perasaan Bia sedikit tersentil. Hati ibu hamil ini seakan over thinking. Memikirkan hal hal buruk yang seharusnya tak ia pikirkan.


"Apa kamu tak mau satu ranjang denganku?" Kata Bia dengan pelan.


Ahhh ingatkan! Mood ibu hamil itu naik turun. Mood ibu hamil itu selalu berubah tanpa bisa dicegah. Mereka mudah bahagia tapi juga gampang sedih. Mereka mudah menangis dengan kencang tapi mudah dibujuk juga. Mereka mudah tertawa bahagia hanya karena hal kecil.


Namun, mereka juga mudah perasaan.


Air mata Bia hampir menetes. Namun, Ibu hamil satu ini mencoba tetap tenang. Dia mendongak mencoba menahan air mata itu agar tak semakin keluar.


Dia yang takut ketahuan oleh Shaka akhirnya muali beranjak berdiri. Saat dirinya hampir melangkah, sebuah tarikan di tangannya membuat Bia spontan berbalik dan terjatuh tepat di atas tubuh Shaka.


"Mas!" Pekik Bia dengan jantung yang hampir mencelos.


Jantung ibu hamil itu terasa berdegup kencang. Apalagi saat wajah Shaka yang tepat di atas wajahnya terlihat sangat amat nyata tampannya.


Tangan Bia yang berada tepat di atas jantung Shaka membuat perempuan itu mampu mendengar dan merasakan jantung itu yang sama berdegup nya dengan dirinya.


"Mas!"


"Apa yang kamu pikirkan tentangku tak benar!" Kata Shaka tiba-tiba dengan mata terpejam.


Spontan ucapan itu membuat Bia terdiam. Dia mematung pasrah di atas tubuh Shaka.


"Aku bukan tak mau tidur seranjang denganmu, Bi. Tapi… " Kata Shaka menjeda sambil perlahan membuka matanya.


Tatapan mata itu saling menatap. Mata keduanya saling menyalami satu dengan yang lain.


"Tapi aku takut tak tahan untuk memakanmu jika tidur bersamamu," Kata Shaka dengan lirih dan suaranya yang berat.


~Bersambung

__ADS_1


Mas Shaka kalau mau ngegombal gak usah gitu lah. Garing tapi bikin jantungan Mas. Aduhh...


__ADS_2