
...Percayalah melihat dan mendengarkan dia bersama wanita lain adalah hal menyakitkan untuk diriku yang tengah dirundung rasa jatuh cinta. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
"Non Bi mau makan malam sama apa?" Tanya Bibi Mar saat di berhasil mengetuk pintu kamar Bia.
Wanita yang baru saja selesai mandi dengan handuk membalut rambutnya itu terkejut dengan kehadiran Bibi Mar padanya.
"Emmm Mas Shaka malam ini gak kesini, Bi?"
"Sepertinya nggak, Non. Tuan Shaka tak memberikan kabar pada Bibi. Jadi sepertinya Tuan akan ada di rumah utama."
Terlihat wajah Bia yang lesu. Sepertinya wanita yang sedang berbadan dua itu terlihat tak bersemangat.
"Non kangen sama Tuan?" Celetuk Bibi Mar yang membuat pipi Bia bersemu merah.
"Nggak, Bi. Nggak!" Kata Bia menolak. "Bia tanya cuma pengen mastiin Bia harus makan apa nanti."
Bibi Mar mengangguk.
"Jadi Nona mau makan apa?"
"Aku pengan makan ceker pedas, Bi," Kata Bia dengan pelan.
"Tapi Tuan gak izinin Non Bia makan makanan pedas. Tuan meminta Bibi memasak sayur sop, ikan laut dan juga… "
"Bia gak mau, Bi!" Tolaknya dengan halus. "Bia mau ceker pedas malam ini."
Tatapan mata. Bia penuh harap. Ibu hamil satu ini benar-benar menjadi pemilih. Sebelum dia hamil, Bia selalu bisa memakan segalanya. Namun, setelah di hamil.
Bia hanya bisa makan makanan yang dia inginkan. Makanan itu akan masuk kedalam dirinya jika dia ingin makan.
"Tapi ini udah malam. Gak bakal ada yang buka, Non!"
"Ada, Bi. Tempat langganan Bia pasti ada!" Kata Bia dengan kekeh.
Bibi Mar terlihat menyerah. Bagaimanapun dia tahu bagaimana perasaan ibu hamil muda ini. Perasaan wanita yang sedang menikmati masa mengidam mereka.
"Non Bia bilang dulu sama Mas Shaka. Boleh apa nggak gitu? Biar kita sama-sama enak, Non!" Kata Bibi Mar yang membuat Bia akhirnya mengangguk dengan pasrah.
Bia terlihat tersenyum begitu cerah. Seakan mengabari dak menelfon Shaka adalah hal indah dalam hidupnya.
"Bibi ke dapur yah. Setelah dapat kabar dari Tuan Shaka. Kabari Bibi oke!"
"Oke, Nonaa. Selalu kabari aku Bibi yah!" Kata Bibi Mar sebelum dia pergi dari sana.
***
"Sayang, ponsel kamu bunyi!" Teriak Dhira pada suaminya.
"Coba lihat. Siapa itu, Sayang," Kata Shaka dengan bergerak ke sama kemari di dapur.
Ya pasangan suami istri itu tengah melakukan memasak bersama. Malam ini keduanya benar-benar saling berusaha menenangkan.
Tak ada suara apapun. Seakan Dhira masih diam dan membuat Shaka menoleh.
__ADS_1
"Sayang?"
"Bia, Mas. Bia yang telepon kamu," Kata Shaka dengan jujur.
Shaka bisa merasakan itu. Shaka bisa mendengar perbedaan suara istrinya yang sedang marah. Perbedaan suara yang sangat amat terlihat jelas.
"Angkat aja!"
Dhira menatap tak percaya. Seakan perkataan suaminya itu seperti mimpi untuknya.
"Kamu serius?"
Shaka berbalik. Dia mengecilkan api di kompornya lalu berjalan ke arah istrinya.
"Aku serius, Sayang. Angkatlah dan bicaralah dengan Bia!"
Senyuman terbit di bibir Dhira. Wanita itu tersenyum bangga saat berhasil mengendalikan suaminya itu sampai di titik ini.
"Ya, Halo, Bi?"
"Assalamu'alaikum, Mas oh Mbak Dhira, " Kata suara dari seberang tersengar terkejut.
"Ya ada apa, Bi? Mas Shaka sedang memasak makan malam untuk kami berdua. Ada apa? Kalau ada sesuatu kamu bisa bilang ke aku!"
Bia yang ada di seberang sama mengepalkan tangannya. Dia terlihat kecewa dengan tangan gemeteran. Jujur perasaan dirinya tak karuan. Apalagi saat membayangkan bagaimana Shaka dan Dhiea akan melakukan makan malam bersama alhasil masakan Shaka.
"Bia? Halo… "
"Eh iya, Mbak. Maaf," Kata Bia terkejut.
"Bagaimana? Apa yang ingin kamu katakan?"
"Jangan kelamaan, Bi. Aku juga harus membantu Mas Shaka. Ada apa?"
"Apa boleh Bia maka ceker pedas malam ini, Mbak?" Kata Bia dengan pelan.
"Tentu boleh," Kata Dhira dengan enteng.
Wanita itu benar-benar mengatakan itu tanpa mendengar kata terakhir.
"Apa kamu bilang, Bi?" Tanya Shaka dengan terkejut.
Pria itu mendengar ucapan Bia. Pria itu sangat amat jelas mendengar apa yang dikatakan oleh istri sirinya itu.
"Ceker pedas?" Seru Shaka sambil merampas ponselnya dari tangan Dhira.
Pria itu berbalik. Dia mematikan kompor lalu berjalan meninggalkan dapur. Hal itu tentu membuat Dhira marah.
Matanya berkilat emosi dengan nafasnya yang berat. Jantungnya berdegup kencang dengan tangan mengepal.
"Iya, Mas. Boleh yah? Bia ingin makan itu malam ini!"
"Nggak. Itu pedas, Bi!"
"Dikit doang, Mas!" Kata Bia membujuk.
"Selagi nggak tetap nggak!" Kata Shaka dengan final.
__ADS_1
"Mas cuma sekali doang loh. Obat aku kepingin doang, Mas. Yay.. Yay… "
"Nggak!"
"Mas, please?"
"Itu pedas, Bi. Kamu ingat kan? Kamu sedang hamil dan itu anakku. Aku gak mau terjadi sesuatu dengan anakku karena kecerobohan kamu! Inget itu!"
"Tapi, Mas. Please. Ini cuma satu doang dan gak bakal pedes!"
"Gak sehat."
"Mas… "
"Bi!" Kata Shaka dengan final dan suaranya yang lembut.
"Ya?" sahut Bia dengan pelan.
"Nurut, Bi! Aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu dan anak kita. Jadi kumohon kamu harus menurut padaku!"
Akhirnya Bia menurut. Pria itu mematikan ponselnya dan sadar akan sesuatu.
"Dhira… "
"Hm?" Sahut Dhira yang berdiri berjarak beberapa meter darinya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku… "
"Aku tau kamu khawatir sama keadaan anak kita kan, Mas?"
Shaka mengangguk. Dia benar-benar diuji oleh tingkah Bia selama hamil. Dia berpikir Bia hamil tak akan menyebalkan seperti sebelumnya. Namun, ternyata dugaannya salah.
"Dhira… "
"Aku baik-baik aja, Mas. Serius!" Kata Dhira dengan dia yang berusaha menahan emosinya.
Dhira benar-benar berhasil mengatur nafasnya. Apalagi dia juga mengendalikan dirinya yang hampir hilang akal.
Shaka spontan berbalik. Dia menangkup kedua wajah istrinya dengan pelan. Menatap kedua mata itu dengan lekat.
"Apa kamu menyayangi anak ini?"
"Kenapa Mas tanya itu? Tentu aku sayang dengan anak itu, Mas. Dia darah dagingmu. Dia juga anakku. Aku menunggu kehadirannya sejak lama dan aku sudah tak sabar untuk bertemu dengannya!" Kata Dhira dengan pelan yang membuat bibir Shaka tersenyum.
"Terima kasih, Sayang. Kita akan membesarkan anak ini bersama-sama yah?"
"Tentu," Jawab Dhira dengan serius.
"Besok aku izin mampu ke rumah Bia ya, Sayang? Apa boleh?"
"Aku ikut. Aku ikut!" Kata Dhira tak mau kalah.
Shaka perlahan ragu. Namun, saat dia melihat ekspresi wajah istrinya. Dia mulai sadar. Dia mulai ingat akan satu hal.
"Aku cuma mau ikut karena ingin melihat anakku, Mas. Aku hanya ingin mengusapnya. Boleh?"
"Tentu. Besok kita akan melihat Bia sekaligus melihat anak kita yah?"
__ADS_1
~Bersambung
Bener kan, bener kan. siapin stok sabar yah. bakalan makin gedeg soalnya hahaha