
...Pria yang dulu menjadi luka terdalam ternyata saat ini hadir untuk mengobati segala luka yang pernah dia tabur pada hatiku. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
"Ayo, Bi! Masuk!'" Teriak Semi membuyarkan lamunan Bia yang masih shock dengan kehadiran Semi.
Wanita yang sedang berbadan dua itu lekas masuk ke dalam mobil Semi. Dia juga memakai sabuk pengaman dengan baik.
"Pegangan yang kuat ya, Bi. Mungkin ini akan sedikit keras!" Kata Semi yang membuat Bia mengangguk.
Para penjahat itu tentu lekas mendekati mobil Semi. Mereka mengetuk kaca mobil yang membuat Semi menatap tajam. Tentu dia tak akan turun. Menurutnya itu sama saja dengan bunuh diri karena dia kalah jumlah dan senjata.
"Oke, Bi! Tahan ya!" Ujar Semi lalu segera menekan persneling mobil dan memundurkan mobilnya dengan kuat.
Bia tentu memejamkan matanya. Dia tak memang apapun kecuali perutnya. Ya, Bia takut anaknya terjadi sesuatu. Dia takut perutnya akan terkena barang keras.
Dia tak mau itu terjadi. Dia tak mau anaknya menjadi korban karena ini.
Semi tentu mulai menggerakkan persneling mobilnya lagi dan lekas menginjak pedal gas hingga hendak menabrak motor penjahat itu. Semi memang hanya ingin ber main-main
Dia ingin para penjahat itu menjauh dari mobilnya dan tak terluka. Bagaimanapun Semi masih berpikir. Dia tak akan segila itu dan membuat kejadian kecelakaan disini.
__ADS_1
Ckitt!
Bunyi rem mobil Semi tentu sangat kuat. Hingga tubuh Bia hamil terpelanting ke depan jika saja dia tak memakai sabuk pengaman. Namun, tetap saja tangan Bia terus memegang perutnya.
Apalagi dia merasa perutnya kaku dan sekarang dia mulai merasakan sakit.
"Ayo minggir kalian!" Gumam Semi dengan suaranya yang lirih tapi masih bisa didengar oleh Bia.
Sampai akhirnya berhasil. Semi membelokkan kemudinya dan lekas pergi meninggalkan tempat itu. Semi benar-benar melakukan itu dengan ahli.
Dia lekas mengendarai mobilnya dengan cepat. Mencoba menjauh dan tak meninggalkan jejak agar para penjahat itu tak mengejarnya.
Sampai akhirnya, beberapa menit mereka berkendara menjauh. Semi mulai menepikan mobilnya. Dia tak mendengar suara apapun. Dia tak mendengar jeritan Bia sampai akhirnya membuat Semi menoleh.
Dia mampu melihat bagaimana gemetarnay tubuh Bia. Namun, ada sesuatu yang membuat dirinya penasaran. Tangan Bia ada di perutnya. Tangan Bia bertengger disana dan membuat Semi mulai curiga.
"Bi?" Panggil Semi lagi tapi tak ada jawaban.
Akhirnya Semi memberanikan diri. Dia menyentuh pundak Bia dan menolehkan padanya.
"Bi," Seru Semi terkejut.
Dia bisa melihat wajah Bia yang berkeringat dan juga pucat pasi. Hal itu tentu membuat Semi mulai khawatir.
__ADS_1
"Bi buka mata dulu, Bi! Bi!" Seru Semi dengan menggerakkan bahu Bia agar membuka matanya.
"Sakit," Lirih Bia lalu mulai membuka matanya.
Tentu hal itu membuat Semi bingung. Dia benar-benar tak tahu harus melakukan apa.
"Bi. Mana yang sakit?"
"Perut," Jawab Bia dengan lirih lalu wanita itu menoleh. "Antar aku ke rumah sakit sekarang!"
"Hah?" Tanya Semi dengan bingung.
Biar mengangguk. "Antar aku ke rumah sakit. Aku harus melihat apakah anakku baik-baik saja, Semi!"
Duar.
Seperti petir di siang bolong. Sepertinya kilat petir yang menyambar dirinya. Semi mematung di kursinya. Dia bahkan tak mengedipkan matanya karena terlalu terkejut.
"Semi!" Panggil Bia dengan wajah yang serius.
"Bia… jadi kamu… " Jeda Semi sambil menatap Bia dengan wajah syoknya.
"Ya! Aku hamil dan sekarang tolong antar aku ke rumah sakit!"
__ADS_1
~Bersambung