
Sementara itu Vega mulai turun menemui Ruli dan Riris, Vega terlihat baru saja mandi dan rambutnya masih basah, Aldo menatap Vega penuh gairah.
"Ini belum selesai sayang! Nanti kita lanjutkan lagi." gumamnya sembari tersenyum nakal kepada Vega.
Vega menghampiri Ruli dan Riris yang berada bersama Aldo di ruang tamu, kemudian Ia mulai menyapa keduanya.
"Ruli, Riris! Sudah lama?" tanyanya kepada kedua mantan muridnya itu.
"Eh ... Bu Vega! Apa kabar Bu? Wah ... Bu Vega kelihatan seger bener, habis keramas ya Bu?" jawab Ruli yang ceplas-ceplos.
Vega tampak malu dan mengalihkan pembicaraan dengan mengusap perut Riris yang semakin besar.
"Eh ... sudah berapa bulan nih? Udah gede aja!" tanya Vega.
"Sudah menginjak sembilan bulan Bu!" jawab Riris sembari tersenyum.
"Wahh sebentar lagi lahiran dong ya, semoga nanti lancar jaya persalinannya, sehat Ibu dan bayinya." ucapnya dengan tersenyum.
"Terima kasih Bu Vega, Oh ya Bu! Ngomong-ngomong Galen Kemana? Kata Aldo Galen di ajak Neneknya pergi?" tanya Riris yang ingin sekali bertemu dengan putra Vega tersebut.
"Iya ... Galen diajak Mama Nancy tadi, ya ampun! Maaf banget loh ya." seru Vega menyayangkan karena Riris tidak bisa bertemu dengan putranya.
Setelah mendengar penuturan dari Vega, akhirnya Ruli mengajak istrinya pulang, karena tujuan mereka datang adalah untuk bertemu dengan Galen.
"Ya udah Sayang! Kita pulang saja yuk! Galen nggak ada di rumah, kapan-kapan aja kita kesini lagi, lagipula kasihan si Aldo, biar dia lanjutin acaranya." seru Ruli kepada istrinya.
Riris pun mengangguk dan menuruti permintaan suaminya, akhirnya mereka berdua pamit pulang kepada Aldo dan Vega.
"Ya udah kalau begitu Bu, Aldo! Kami pulang dulu, maaf kalau udah ganggu!" ucap Ruli.
"Aduh maaf banget loh ya!" Vega benar-benar tidak tega melihat Riris yang tidak bisa bertemu dengan anaknya.
"Tidak apa-apa Bu! Lain kali kita bisa kesini lagi, masih banyak waktu, lagipula kasihan sama si Aldo Bu!" seru Ruli sembari melirik ke arah Aldo yang tampak cengengesan, dalam hati Aldo, "Njirrr! Nggak pulang-pulang nih si Ruli, keburu siang Galen sama Mama pasti pulang."
Vega melirik pada suami brondongnnya itu, Aldo tampak garuk-garuk kepalanya yang tak gatal saat Vega menatapnya.
__ADS_1
Akhirnya Ruli dan Riris pun pergi dari rumah mereka, dan Aldo pun tampak tersenyum bahagia, dirinya benar-benar sudah tidak sabar lagi ingin melanjutkan perjalanannya yang tertunda.
Setelah keduanya masuk ke dalam rumah, Aldo segera menutup dan mengunci pintu rumah nya.
"Braaakkkk!"
"Ceklek ceklek."
Tiba-tiba saja Aldo mengangkat tubuh istrinya bak membawa karung yang Ia letakkan di atas bahunya, dan segera membawanya ke kamar mereka.
"Awwww ... Aldo lepaskan!" Vega tampak berontak dan memukul-mukul punggung Aldo. Sesampainya di dalam kamar, Aldo menghempaskan tubuh istrinya dan segera melanjutkan sesuatu yang tertunda tadi.
Apapun yang terjadi, hari ini juga Aldo harus menuntaskan keinginannya, agar si Otong tidak kecewa lagi.
"Sleep."
Tidak terlalu banyak basa-basi lagi, Aldo pun segera beraksi mengasah pedang samurainya, pergulatan pun tak bisa dielakkan lagi, ranjang mereka pun kembali bergoyang, ada suara yang saling bersahutan di sana, suara Aldo dan Vega yang sedang melakukan paduan suara.
Ada nada tinggi dan rendah, bahkan ada nada yang terputus-putus, sesuai dengan gerakan yang Aldo buat, saat Aldo bergerak dengan kecepatan rendah, nada suara Vega pun menjadi melemah dan kurang semangat, sedangkan saat Aldo bergerak cepat, nada suara Vega menjadi sangat memburu dan nafasnya tersengal-sengal seolah dirinya baru saja lari maraton seratus meter.
Sebelum Galen pulang ke rumah, Aldo tampak puas-puasin kebersamaannya bersama sang istri, sudah hampir 3 jam Aldo naik turun, sudah berkali-kali pedang samurai miliknya itu diasah, sekarang yang ada hanya rasa lelah dan mengantuk, namun ada kepuasan di sana.
"Aldo! Ini Mama Do!"
Aldo dan Vega saling menatap.
"Mama! Mereka sudah pulang!" ucap Aldo sembari beranjak berdiri.
Dengan cepat Aldo memakai kolornya dan segera turun membukakan pintu untuk Nancy, namun tiba-tiba saja Aldo terjatuh saat mencoba membuka pintu kamarnya.
"Gubraaak."
"Awww .... aduh-aduh, sialan! Pake terjatuh segala lagi." pekiknya saat kakinya tersandung bra milik Vega yang Ia lemparkan ke sembarang arah.
Vega tampak tertawa kecil melihat tingkah Aldo yang selalu konyol.
__ADS_1
"Udah cepetan! Bukakan pintunya sayang!" seru Vega sembari beranjak pergi ke kamar mandi dengan tubuhnya yang masih polos.
"Iya iya, ini nih kacamata dada punya kamu mu nih, bikin kakiku nggak bisa jalan." ucapnya sembari meletakkan bra milik Vega.
"Hmm ... kan emang begitu, Kamu suka isinya kan? Tuh sampai gempor kaki." sindir Vega.
"Hehehe ... iya suka banget lah paporit tuh." jawabnya dengan cengengesan.
Akhirnya Aldo turun membukakan pintu untuk Nancy.
"Ceklek."
Pintu mulai terbuka, Aldo melihat wajah sang anak yang setengah hari ini tidak Ia lihat.
"Hai Galen sayang! Suka ya jalan-jalan sama Nenek!" seru Aldo dengan wajah yang tampak lelah, dan itu membuat Nancy mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa Do? Lemes gitu?"
"Habis manjat Ma! Capek banget." jawabnya sembari merebahkan tubuhnya pada sofa.
"Manjat?" Nancy tampak kasihan dengan putranya itu.
"Ngapain kamu manjat-manjat segala?"
"Hah .... anu itu Ma! Genteng nya bocor, jadi Aldo terpaksa manjat untuk lihat keadaan di atas, eh nggak tahunya Aldo nggak bisa turun, jadi Aldo nangkring lama tuh di atas, sampai kepanasan, sekarang Aldo mau tidur dulu Ma! Aldo capek banget, Mamanya Galen sedang mandi tuh, daaahh Galen! Papa mau rebahan sebentar ... hoam!" ucapnya sembari tidur di atas sofa, sungguh banyak tenaga yang terkuras hari ini, sehingga membuat Aldo tampak begitu lelah.
"Amsyong nih badan, pegel banget ... terlalu bersemangat Gue, eh nggak apa-apa lah, enak banget sih .... bersyukurlah kamu Tong! Akhirnya Elu dapat kebahagiaan." gumamnya sembari senyum-senyum sendiri.
Sementara itu Vega telah selesai dengan ritual mandinya, Ia segera keluar dan mengganti pakaiannya untuk segera bertemu dengan Galen dan Ibu mertuanya.
Setelah beberapa menit Vega turun dan segera menghampiri Galen yang masih bersama Nancy di ruang tengah.
"Mama!" seru Vega menghampiri Nancy dan putranya.
Nancy tampaknya terkejut saat melihat sang menantu yang terlihat basah rambutnya, belum lagi bekas tanda merah yang begitu banyak pada leher menantunya.
__ADS_1
Nancy tersenyum tipis, Ia baru ngeh yang dimaksud oleh Aldo manjat adalah manjat istrinya.
"Dasar Aldo bocah semprul! Nggak nyia-nyiain kesempatan tuh anak, Pantesan aja Aldo lemes kayak sarung!"