Bu Guru AKU PADAMU

Bu Guru AKU PADAMU
Layang-layang


__ADS_3

"Itu rumahnya Mas, pagar warna hitam" seru Vega sambil menunjuk rumah dengan pagar berwarna hitam yang memiliki beberapa tanaman hias di depan rumah minimalis itu.


"Oke" jawab Arsen sambil mengarahkan mobilnya menuju rumah tersebut. Arsen menghentikan mobilnya saat sudah berada di depan pagar rumah Aldo.


Arsen dan Vega turun dari mobilnya, terlihat seorang wanita berusia sekitar setengah abad tengah membukakan pagar untuk mereka berdua.


"Permisi Bik, Saya gurunya Aldo, Vega... apa Aldo ada didalam?" tanya Vega ramah.


"Oh iya Bu Vega, Mas Aldo nya ada didalam, mari silahkan masuk!" Seru wanita itu


Lantas Arsen dan Vega mengikuti langkah asisten rumah tangga Aldo untuk menuju ruang tamu.


"Silahkan duduk, saya akan panggilkan Mas Aldo dulu, tunggu sebentar!" Seru Bibik.


Kemudian Arsen dan Vega duduk sembari menunggu empunya rumah datang. Arsen tampak memandangi desain rumah ini yang tak jauh beda dengan desain rumahnya, yang lebih membuat Arsen terkejut adalah hiasan dinding yang berupa lukisan 2 anak kembar yang tergantung pada dinding ruang tengah rumah Aldo.


"Lukisan itu, kenapa mirip sekali dengan lukisan yang ada didalam kamar papa?" gumam Arsen sembari mengerutkan dahinya. Vega yang mendapati Arsen tampak memperhatikan sesuatu mencoba untuk membuat Arsen tersadar.


"Kamu kenapa Mas? apa yang kamu lihat?" tanya Vega yang melihat Arsen begitu serius memperhatikan lukisan itu.


"Oh...nggak, nggak ada" jawab Arsen mengelak.


*****


Di kamar Aldo.


Terlihat Aldo tengah istirahat di atas tempat tidurnya, tiba-tiba asisten rumah tangga Aldo tengah menghampiri Aldo.


"Maaf Mas, diluar ada bu Vega yang mencari Mas Aldo!" seru Bibik.


"Apa? diluar ada bu Vega, waduh...gawat nih, aku belum cuci muka, belum gosok gigi, belum ganti baju, belum pakai parfum...duh gimana nih" ucap Aldo lirih sambil mondar mandir di kamarnya.


Bibik yang sedari tadi melihat Aldo yang tampak mondar mandir mencoba menepuk pundak Aldo.


"Mas Aldo!"


"Eeeehhhh...iya Bik ada apa?" tanya Aldo gugup.

__ADS_1


"Mas Aldo mikir apa? cepat temui mereka, kasihan kalau nunggu lama" ucap Bibik.


"Tapi aku belum ganti baju Bik, Aldo belum siap-siap" balas Aldo dengan memilih-milih bajunya yang ada di lemari.


"Memangnya Mas Aldo mau kemana? Mas Aldo kan lagi sakit, untuk apa Mas Aldo ganti baju, kayak ketemu pacarnya saja" goda bibik.


Ucapan Bibik membuat Aldo tersadar dengan apa yang baru saja Ia lakukan, Aldo senyum-senyum sendiri, segitunya Ia merasa senang saat Vega datang menjenguknya.


"Baiklah Bik, Aldo akan segera menemui mereka." jawab Aldo tersenyum, kemudian Bibik pergi meninggalkan Aldo.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Aldo keluar dari kamarnya dengan luka di pelipis yang masih diplester.


"Selamat siang Bu Vega, Mas Arsen!" sapa Aldo pada keduanya. Vega melihat Aldo begitu senang, begitupun juga dengan Aldo.


"Widiihhh kok gue deg-degan sih....assseemm, pasti kek gini nih kalau ketemu bu Vega" gumam Aldo dengan salah tingkah.


"Aldo, bagaimana keadaanmu?" tanya Vega sembari duduk mendekatinya dan memberikan sekeranjang buah-buahan segar untuk Aldo.


"Waduh...waduh...kok mendekat sih bu Vega, alamaakkk makin gemetar nih hati abang neng" gumam Aldo sembari senyum-senyum.


"Saya sudah agak baikan Bu." jawab Aldo salah tingkah karena Vega duduk tepat disebelahnya sembari melihat luka yang ada di pelipis Aldo.


"Aldo...maafkan kami baru bisa menjengukmu sekarang, kamu tahu sendiri kemarin kamu baru saja melangsungkan acara pertunangan kami, jadi kami baru punya waktu sekarang untuk menjengukmu" ucap Arsen


"Oh...tidak apa-apa Mas, Aldo ngerti kok, btw selamat ya buat kalian berdua, semoga lancar sampai hari pernikahan kalian nanti." seru Aldo yang diiringi senyum kecil dibibirnya.


"Terimakasih Aldo, tapi untuk beberapa minggu kedepan, aku harus berangkat ke Batam, ada urusan bisnis yang mengharuskan aku untuk tinggal disana dalam beberapa minggu, jadi kami menikah setelah aku pulang dari Batam." seru Arsen.


Entah kenapa tiba-tiba saja Aldo sangat bahagia saat mendengar Arsen akan pergi ke Batam, mendadak wajah Aldo berseri-seri, itu tandanya dirinya masih bisa mengagumi Vega sebelum Vega resmi menjadi istri Arsen.


"Yes...akhirnya Mas Arsen ke luar kota, itu artinya gue masih bisa punya waktu untuk bersama bu Vega sebelum dia jadi istrinya mas Arsen...eh kok gue gitu sih, ya ampun jahat banget gue...tapi kata Mama nggak papa, sebelum janur kuning melengkung, bu Vega bukan milik siapa-siapa, lagian gue nggak bermaksud mengambil bu Vega dari Mas Arsen, gue sudah cukup mencintai dalam diam, melihat bu Vega saja gue udah seneng banget" gumam Aldo sembari menatap Vega yang berada disampingnya.


"Oh ya Aldo, kamu tinggal bersama siapa?" tanya Arsen sembari minum teh yang sudah dihidangkan asisten rumah tangga Aldo.


"Saya tinggal bersama Mama." jawab Aldo singkat.


"Berdua saja? kamu punya saudara?" tanya Arsen sekali lagi.

__ADS_1


"Kata Mama, Aldo punya kakak laki-laki, tapi kakak Aldo ikut pergi bersama Papa Aldo, mereka berpisah saat Aldo masih kecil, Aldo tidak ingat apa-apa, yang Aldo ingat hanya Mama yang merawat Aldo" ungkap Aldo dengan sedikit sedih.


Sejenak Arsen menyimak apa yang dikatakan Aldo, sempat ia berpikir kenapa kehidupan Aldo berbanding terbalik dengan kehidupannya, justru dirinya tidak mendapat perhatian dari Mamanya, tidak dipungkiri Arsen juga sangat merindukan kehadiran Mamanya yang sekarang berada entah dimana, jika menurut ayahnya, Mamanya tidak mau mengurusi Arsen, sehingga Arsen terpaksa harus ikut dengan papanya.


"Kamu beruntung Do, kamu masih punya Mama yang masih perhatian sama kamu." seru Arsen mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Aldo melihat kesedihan dalam wajah Arsen, entah kenapa ia merasa kasihan pada Arsen, seolah ia juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tunangan Vega itu.


"Mas Arsen kenapa? Mas Arsen kangen sama ibunya Mas?" pertanyaan Aldo tiba-tiba membuat Arsen mengingat kejadian saat Baron dan Mamanya bertengkar hebat malam itu, entah apa yang membuat Baron dan istrinya bertengkar, bagi seorang Arsen yang masih berusia 10 tahun, ia masih belum bisa memahami masalah orang dewasa, yang ia tahu papa dan Mamanya akan segera berpisah, sementara itu Arsen tengah memeluk adiknya yang masih berusia 3 tahun.


Tampak mata Arsen yang berkaca-kaca, jujur dalam hati kecilnya, ia ingin sekali mengetahui bagaimana kabar adik dan ibunya.


"Mas Arsen...Mas" Aldo memanggil Arsen beberapa kali, sehingga membuat Arsen tersadar dari lamunannya.


"Ah...iya, maaf saya teringat pada ibu dan adikku, entah mereka sekarang ada dimana" ungkap Arsen sedih.


"Mas Arsen punya adik?" tanya Aldo terkejut.


Arsen menghela nafasnya, bagaimana pun juga Arsen sangat menyayangi adiknya, sejak perpisahan kedua orang tuanya, Arsen terpaksa berpisah dengan adik kandungnya.


"Punya...namanya Alfian, mungkin sekarang dia sudah dewasa, dia seumuran kamu." jawab Arsen sambil menunjuk kearah Arsen.


"Waahh asik dong, sekarang dia ada dimana Mas, boleh juga kali aku kenalan sama adiknya mas Arsen" seru Aldo


"Kalau saja aku tahu, dia berada dimana, wajahnya saja sekarang mungkin aku tidak bisa mengenalinya lagi, pastinya sekarang dia sudah tumbuh dewasa, Alfian" ucap Arsen sembari berdiri dan menatap arah luar jendela, melihat layang-layang yang terbang di langit yang biru. Sekilas bayangan Alfian muncul kala dirinya melihat layang-layang itu.


Arsen teringat dirinya saat bermain layang-layang bersama Alfian, dan itu membuat memori tentang Alfian mencuat kembali pada ingatan Arsen.


Aldo memperhatikan Arsen yang tengah memandangi layang-layang itu, kemudian ia menghampiri Arsen.


"Layang-layangnya bagus ya Mas, kalau nggak ada kesibukan biasanya aku bermain layang-layang sama anak-anak itu" seru Aldo tersenyum, lantas Arsen memandangi wajah Aldo dengan seksama.


"Kenapa wajah Aldo seperti tak asing bagiku?" gumam Arsen.


BERSAMBUNG


❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2