
"Haaa...gila! gue lagi mimpi nggak sih? Ngapain Aldo dan Bu Vega dalam kamar mandi berdua? Nggak -nggak gue musti melakukan sesuatu!" pikir Riris sembari pergi meninggalkan tempat.
Riris berjalan sedikit gugup di sepanjang koridor, bagaimana dirinya tidak terkejut, baru saja ia menyaksikan Aldo keluar dari kamar mandi yang sama dengan guru fisikanya.
Tiba-tiba saja Riris di kejutkan dengan seseorang yang tengah memanggil namanya.
"Riris!"
Dengan segera Riris menoleh ke arah seseorang yang telah memanggilnya.
"Eh... darimana Lu, buru-buru gitu?" tanya Ruli yang tiba-tiba ada di sampingnya. Riris tampak masih gugup, dilihatnya Aldo yang juga sedang bersama Ruli dan Boni. Aldo tampak santai seolah tidak ada yang terjadi apa-apa pada dirinya.
"A.. Aldo! Kamu disini?" tanya Riris penasaran apa yang akan dijawab oleh pemuda 18 tahun itu.
"Ya...dari tadi gue disini, emang Elu lihat gue lagi dimana?" tanya Aldo balik.
"Nggak...gue lihat tadi Elu jalan lewat situ!" jawab Riris sembari menunjuk arah jalan menuju kamar mandi.
"Oh...tadi gue dari kamar mandi sebentar, biasa pipis, nggak nahan" jawabnya santai.
"Astaga...pipis apa pipis Aldo? kayaknya bukan pipis biasa, tapi pipis yang itu... aduuh otak gue kok traveling sih, apa Aldo dan Bu Vega melakukan itu, omaigad...semaput nih, cowok inceran gue punya skandal dengan gurunya sendiri" gumam Riris sembari mengeluarkan keringat dingin.
"Eh...Elu kenapa sakit?" tanya Ruli yang khawatir melihat keadaan Riris yang tidak baik-baik saja.
Dan benar saja, Riris terjatuh pingsan. Dengan cepat Ruli menangkap tubuh gadis berpinggul besar itu.
"Eeee...kok malah jatuh sih"
"Ee... tolongin tuh!" seru Boni.
Aldo justru diam saja, dirinya sudah berjanji kepada istrinya untuk tidak mendekati Riris lagi apapun yang terjadi.
"Ehh...Do Do, Elu kok malah diem aja sih, tolongin napa?" seru Boni sambil membantu mengangkat tubuh Riris.
"Ahh...si Ruli sudah cukup, dia pasti kuat ngangkat Riris, ayo bro tunjukkan kekuatan ototmu, noh si Riris ada di depan mata noh!" jawab Aldo sembari melihat Vega yang berjalan menuju ruang kantor.
"Wiiihhh bini gue dah, emang nggak bisa jauh-jauh gue, pingin tak dekap aja tiap hari" gumam Aldo yang diiringi senyum tipisnya.
"Woi...Do, ngapain Lu senyum-senyum, lihatin Bu Vega loh, wahh sarap Elu, sadar woi Bu Vega sudah punya suami, jangan ngarap Lu...entar di bantai Lu sama suaminya" celetuk Boni yang melihat Aldo tengah memperhatikan guru seksinya itu.
__ADS_1
"Woi... gimana nih si Riris!" sahut Ruli yang tampaknya kesulitan mengangkat tubuh Riris yang cukup besar itu.
"Ya bawa sana ke UKS!" jawab Aldo sembari beranjak meninggalkan Ruli dan Boni.
"Eh...Elu nggak bantuin gue Do, ngangkat si Riris!" seru Ruli
"Ogah ah...entar oleng gue, meletus entar balonnya, Elu ajah!" jawabnya sambil terus pergi meninggalkan mereka.
"Ah... dodol Lu! Bener juga sih kata Aldo, bakal nyentuh nih balonnya Riris, mana Gedhe lagi, ah...bodo, angkat aja lah" ucap Ruli yang kemudian mengangkat tubuh Riris menuju ruang UKS dibantu oleh Boni.
Namun tiba-tiba saja Boni merasa ingin buang air, perutnya terasa sakit.
"Aduh...aduh, bentar bro perut gue sakit nih anyiing, mules banget...gue ke toilet dulu" sahut Boni yang langsung berlari ke kamar kecil.
"Eh...Bon...Bon...lah ini gimana? masa gue angkat sendiri sih? ah... udahlah kasihan juga Riris, maapin gue ye Riris, palingan juga nyenggol dikit" ucap Ruli yang kemudian langsung mengangkat tubuh Riris sekuat tenaga.
"Anjiiirr...berat banget nih badan, kebanyakan dosa kali ya!" gumam Ruli sembari merasakan empuk-empuk di tangannya, karena mau nggak mau tangannya menyentuh gunung milik Riris.
"Tahan...tahan, bentar lagi nyampe!" gumam Ruli saat hampir tiba di ruang UKS, namun tiba-tiba saja terdengar suara seorang laki-laki yang sedang memanggilnya.
"Hei.. tunggu, mau dibawa kemana keponakanku?" Ruli spontan menengok ke arah siapa pemilik suara besar itu.
"Ini...Riris pingsan pak!" seru Ruli yang kemudian Bima ikut membopong tubuh Riris masuk ke ruang UKS.
Kemudian perlahan mereka meletakkan tubuh Riris di atas tempat tidur. Bima menanyakan kepada Ruli kenapa Riris bisa pingsan.
"Kamu apakan dia? Kamu jangan macam-macam dengan Riris, dia keponakanku, kalau saja terjadi apa-apa sama dia? Kamu tidak akan aku lepaskan!" ancam Bima sembari mengepalkan tangannya di hadapan Ruli.
"Gila nih guru, main ancam segala, bukannya terima kasih, nuduh sembarangan, dasar botak" gumam Ruli dengan raut wajah masam.
"Maaf Pak, tadi Riris tiba-tiba terjatuh, untung ketahuan saya, kalau tidak bakal di rubung semut dia, makanya itu saya bawa ke UKS, eh ternyata ada pak Bot disini?" celetuk Ruli
"Pak Bot? Pak Bot siapa maksudmu?" tanya Bima yang terlihat mengerutkan keningnya.
"Pak Bot...Pak Bot...hehe maksud saya pak Bima, maaf baru kenal, saya belum apal nama bapak" jawab Ruli cengar-cengir.
"Haduh pak Bot itu pak Botak dodol ...kik kik kik" gumam Ruli cekikikan
Tiba-tiba saja Riris terbangun dan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Bima dan Ruli terkejut melihat Riris yang sudah siuman.
__ADS_1
"Riris, kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" tanya Bima.
"Riris... Riris, tidak apa-apa Om, mungkin Riris cuma kecapekan" jawab Riris yang masih menutupi kejadian yang membuatnya pingsan itu.
"Kamu yakin? Apa bukan karena cowok ini yang membuat kamu pingsan?" tanya Bima sambil menunjuk ke arah Ruli.
"Jangkrik nih orang, dari tadi nuduh yang nggak-nggak aja, kalau bukan Om nya Riris, udah gue jitak tuh botak!" gerutu Ruli menatap Bima dengan tajam.
"Ya sudah, kamu istirahat di sini dulu, Om pergi ke kelas, kalau ada apa-apa panggil Om saja!" seru Bima sembari beranjak pergi.
"Iya Om!" jawab Riris mengangguk.
Bima pergi sembari menatap Ruli dengan tajam.
"Dihhh...melototin gue lagi, gue pelototin balik Lu" gumam Ruli dengan menatap balik mata Bima dengan tajam.
Dan tiba-tiba saja Bima menghampiri Ruli yang terlihat melotot kepadanya.
"Kamu berani melototi saya, ha...!" seru Bima yang membuat Ruli terperanjat.
"Eh...Bu..bukan Pak, bukan itu maksud saya, saya melihat ada lalat di kepala bapak, takutnya buang air besar di kepala bapak, makanya saya pelototin, biar lalatnya pergi!" jawab Ruli sambil garuk-garuk tengkuknya.
"Lalat? Mana ada lalat?" seru Bima sambil meraba kepalanya yang plontos itu.
Ruli terlihat tertawa cekikikan diiringi tawa Riris yang ikut melihat Bima meraba kepala plontosnya.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
*
*
*
*
Yuk Beb othor ajak kalian lagi mampir ke karya punya kak Anggraini.arp yang berjudul CINTA DALAM BALAA DENDAM...hayuk kepoin segera🥰🥰🥰
__ADS_1