
Setelah beberapa lama mereka berdua di dalam kamar mandi, akhirnya keduanya keluar dengan saling melempar senyum bahagia, Ocha tampak mengeringkan rambutnya dengan handuk, sementara Arsen hendak mencari pakaian lagi di dalam lemari, karena bajunya tadi sudah basah oleh aktivitas mereka yang sedang berbasah-basahan.
Awal pagi bagi mereka berdua sebagai pasangan suami istri, dan hal yang sama untuk hari-hari berikutnya pun tak luput dari kata keramas, semakin hari waktu pun semakin berlalu, hingga tak terasa usia pernikahan mereka menginjak Minggu ketiga.
Hari itu tampak Ocha bersiap untuk berangkat kuliah, setelah menikah Arsen masih mengizinkan Ocha untuk kuliah, hari ini adalah hari pertama ia menginjakkan kaki di kampus, Ia sangat bahagia sang suami masih memberinya kebebasan untuk melanjutkan studinya, tanpa harus melupakan kewajiban utamanya sebagai seorang istri.
Namun entah kenapa hari ini tiba-tiba dirinya ingin sekali meludah, ia merasa sangat tidak nyaman dengan Indra perasa nya, seolah hambar sekali jika dia tidak meludah, hingga beberapa teman Ocha merasa terkejut dengan kebiasaan Ocha.
"Ocha! Kamu kenapa? Gigimu sakit ya? Kok meludah mulu"
"Nggak tahu nih, tiba-tiba aja mulut kerasa nggak enak banget" jawabnya
Sepanjang hari Ocha tampak lemas, di kampus ia juga terlihat tak bergairah, tidak nafsu makan, Ocha pulang di jemput suaminya, Arsen melihat keadaan Ocha yang lemas membuatnya bertanya-tanya.
"Ocha! Kamu kenapa? Sakit?" tanya Arsen.
"Nggak tahu Mas! mulut kayak nggak enak aja, pahit!'' jawabnya
"Kita ke dokter ya!" ajak Arsen
"Nggak perlu lah mas, aku nggak apa-apa kok" balasnya
"Yakin nggak apa-apa?" tanya Arsen sekali lagi.
"Hmm..." Ocha mengangguk.
Dan setelah beberapa menit mobil Arsen tiba di depan rumah mereka, Arsen dan Ocha memiliki rumah sendiri, sehari setelah mereka menikah, Arsen sudah memboyong Ocha untuk menempati rumah baru mereka.
Keduanya turun dari mobil, Ocha terlihat lemas hari ini Ia malas makan apapun, dirinya hanya suka mengemmut permen, selain itu ia tak menyukainya.
Ocha merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Arsen yang melihat itu merasa kasihan.
"Kamu sepertinya capek sekali, apa hari ada tugas kuliah yang berat?" tanya Arsen menyelidik.
"Nggak ada mas! Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba saja badanku lemes banget, apa mungkin aku belum makan, ah tapi aku nggak enak makan Mas!" ucapnya
Tiba-tiba saja terdengar suara bel berbunyi.
"Kamu tunggu disini, aku mau lihat siapa yang datang!" Arsen beranjak keluar dari kamar mereka dan membukakan pintu.
Setelah Arsen membuka pintu itu, tampak wajah dari orang yang sudah lama ia rindukan datang ke rumah mereka.
"Hai Mas! Apa kabar!"
"Aldo...Mas baik" jawabnya sambil memeluk adik satu-satunya itu.
"Hai Mas!" sapa Vega
"Hai juga Vega!" balasnya sembari tersenyum.
"Ocha mana? Kok nggak kelihatan!" tanya Vega yang tidak melihat keberadaan adiknya.
"Dia ada di kamarnya, tolong kamu bujuk dia, dari pagi dia nggak mau makan!" seru Arsen
"Ocha nggak mau makan? Dia sakit?" tanya Vega penasaran.
"Nggak tahu, katanya baru pagi ini dia merasakan lemas"
__ADS_1
Vega segera naik ke kamar Ocha, sementara Aldo dan Arsen tampak berbincang di ruang tengah.
"Aldo! Gimana kuliahmu?" tanya Arsen.
"Lancar Mas!"
"Terus usaha bengkel mu?"
"Semuanya baik-baik saja Mas!" jawabnya
"Syukurlah Mas ikut senang"
Aldo melihat wajah Arsen yang tampak gelisah.
"Mas Arsen kenapa? Gelisah gitu?"
"Mas nggak kenapa-kenapa, mas cuma Mikirin Ocha" seru Arsen
"Ocha! Memangnya Ocha Kenapa?"
"Nggak tahu, katanya dari tadi pagi dia merasa lemas, mas khawatir saja jika terjadi sesuatu kepada Ocha" jawab Arsen.
Tiba-tiba Aldo mendekatkan tubuhnya kepada Arsen dan berkata pelan kepadanya.
"Mungkin mas terlalu sering kali?" bisiknya.
"Terlalu sering apanya?" tanya Arsen tidak mengerti.
"Terlalu sering beraktivitas push up" jawab Aldo yang diselingi tawa kecilnya, Arsen tampak tersipu malu.
"Kamu bisa aja, sebenarnya nggak terlalu sering sih, paling Dua atau tiga hari sekali aku baru melakukannya"
"Iya mas memang dua atau tiga hari baru up, tapi sekali up 10 ronde" ucapnya santai sambil meminum air putih di depannya.
Aldo tampak membulatkan matanya mendengar pengakuan dari sang kakak, ternyata sang kakak lebih parah darinya, Aldo sehari up 3 kali saja kakinya udah pada gempor katanya.
"Mas Arsen yakin 10 ronde sehari!" tanya Aldo penasaran.
"Ya iyalah, biasanya kalau lagi weekend tuh, kita sama-sama libur, sama-sama nganggur, ya udah kita main sendiri aja sepuasnya!" jawab Arsen
"Apa nggak gempor tuh Mas?"
"Ya nggak lah, ya kita cicil, pagi tiga kali, siang tiga kali terus malam sebelum tidur tiga kali, nambah yang satu nanti kalau bangun tengah malam" ucapnya sambil menaikkan alisnya.
Aldo tampak garuk-garuk kepalanya.
"Tapi Ocha baik-baik saja kan Mas?"
"Ocha baik-baik saja, dia malah suka, minta nambah terus"
"Anjiirrr...nggak nyangka gue, dibalik sikap lembut mas Arsen ternyata ada jiwa keganasan, beuh..." gumam Aldo.
*
*
*
__ADS_1
Sementara di kamar, Vega melihat Ocha yang sedang berbaring di atas ranjang, Vega menghampiri adiknya dan duduk di samping nya.
"Ocha! Kamu kenapa?" tanya Vega.
Ocha benar-benar terkejut dengan kedatangan Vega di kamarnya.
"Kak Vega! Apa kabar...hmm Ocha kangen banget sama kakak" Ocha spontan memeluk sang kakak penuh rindu.
"Hmm...katakan pada kakak! Apa yang terjadi denganmu? Kata mas Arsen kamu nggak mau makan? Kamu masuk angin?" tanya Vega.
"Ocha juga nggak tahu kak, dari pagi tadi mulut Ocha tuh nggak enak banget, pingin meludah melulu, makan juga males, kayak kembung gitu nih perut" ucapnya sambil memegang perutnya.
Vega yang tampak curiga mencoba menanyakan secara detail apa yang telah dialami oleh adiknya itu.
"Hmm...kamu masuk angin?"
"Enggak!" Ocha menggelengkan kepalanya
"Kamu sudah mendapatkan haid?" tanya Vega menelisik.
"Kenapa kakak tanyakan hal itu? Apa hubungannya?" Ocha dibuat penasaran dengan pertanyaan Vega.
"Sudah! Jawab saja, apa kamu sudah mendapatkan haid?" tanya Vega sekali lagi.
Ocha menggelengkan kepalanya pelan, seingatnya Ocha belum mendapatkan haid sama sekali setelah menikah dengan Arsen.
Vega tersenyum dan menangkup wajah sang adik.
"Kalau kakak tidak salah menduga, kamu sekarang sedang hamil!"
"Hamil? Ocha hamil kak?"
Vega menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Ocha hamil? Ada bayi dalam perut Ocha?"
"Iya... kalau kamu ingin meyakinkannya, kamu periksa saja ke dokter, atau kamu bisa beli testpack sendiri, mudah-mudahan saja dugaan kakak benar" seru Vega
Ocha terlihat bahagia sekaligus terharu, dan itu membuat Vega bertanya-tanya.
"Kamu kenapa Cha? Kok malah nangis?"
"Ocha nggak nangis kak, Ocha seneng banget, Ocha sudah diberi kepercayaan untuk mengandung, mas Arsen pasti sangat bahagia mendengarnya"
"Kakak ngerti perasaanmu, kakak bahagia sekarang kakak punya teman yang sama-sama mengandung"
Kedua wanita itu saling bercengkrama, saling sharing tentang kehamilan, hingga tak terasa Aldo memanggil Vega.
"Sayang! Ayo kita pulang, aku mau di nina bobokin ngantuk nih" ucapnya di balik pintu kamar Ocha
"Iya bentar!" jawaban Vega
"Ocha, kakak pulang dulu ya, ingat pesan kakak tadi... jangan cepat-cepat...slow aja oke!"
"Iya kak..."
Akhirnya Vega keluar dari kamar Ocha
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥