
"Aldo udah ah, aku mau mandi" Vega menepis bibir Aldo yang kian menyusuri jurang belahan dada yang menantang itu.
"Kok kamu gitu sih, ya udah kalau nggak mau!" Aldo tiba-tiba pergi meninggalkan Vega yang masih berdiri di sana, kemudian Aldo masuk ke dalam kamar mandi dengan kesal.
"Aldo tunggu!" Vega mencoba memanggil suaminya yang terlihat sedang merajuk itu. Vega menghela nafasnya, tampaknya dia harus bersabar menghadapi sikap suami brondongnya itu. Vega terpaksa menunggu Aldo untuk keluar dari kamar mandi.
Dan setelah beberapa menit Aldo keluar dari kamar mandi tanpa bicara sepatah katapun dari mulutnya. Vega melihat raut wajah Aldo yang tampak kesal.
"Kamu marah?" tanya Vega sembari meraih tangan Aldo yang hanya mengenakan handuk sebatas dililitkan di tubuh bagian bawahnya.
"Pikir aja sendiri?" jawab Aldo malas.
"Iya...aku minta maaf, aku nggak bermaksud nolak kamu" jawab Vega. Namun rupanya Aldo masih terlihat kesal, dia tidak mengindahkan ucapan Vega.
"Aku belum mandi Aldo, aku malu jika tubuhku masih kotor dan bau asem" ucapnya sambil tertunduk malu.
"Udah... cepat mandi! Setelah ini kita pergi untuk melihat rumah baru kita" perintah Aldo sembari dirinya memakai baju.
Akhirnya Vega pergi ke kamar mandi dengan perasaan yang tidak tenang, suaminya marah kepadanya hanya karena dirinya menolak untuk bercumbu, dengan alasan ia malu karena badannya kotor. Vega menginginkan dirinya terlihat cantik dan wangi di depan suaminya.
Aldo tampak menyeringai saat melihat ekspresi wajah istrinya.
"Kena kau, ku kerjain kamu sayang!" gumam Aldo sembari merapikan kemejanya.
Setelah beberapa saat Vega keluar dari kamar mandi, ia melihat Aldo yang sudah menunggunya, duduk di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya.
Vega keluar hanya dengan memakai handuk yang dililitkan pada tubuhnya, sehingga nampak jelas kemolekan tubuh Vega yang masih basah itu.
"Glekk"
Aldo menelan Saliva nya dalam-dalam, melihat sang istri yang hanya berbalut sebuah handuk putih yang hanya dengan satu tarikan saja, maka handuk itu akan jatuh ke lantai.
"Uasseeeemmm...gue nggak nahan kalau gini, sabar Do! Elu lagi ngerjain bini Lu, Elu kudu strong kali ini, buat dia memohon kepadamu, buat dia tunduk di hadapanmu" gumam Aldo sembari melirik istrinya yang tengah memakai bra dan dalaman.
"Oh...ya sallaaaaammmmmm, melambai-lambai, menggoda banget, pingin gue gigit aja"
Aldo semakin tidak bisa menahan sesuatu yang mulai mendesak celananya.
"Sialan si Otong, Nggak bisa lihat yang ginian, langsung mode on aja Lu" umpatnya sambil menahan rasa cenut-cenut pada adiknya.
Setelah Vega memakai bra dan dalaman, lantas ia mengambil dress yang ia letakkan di atas tempat tidur yang kini Aldo sedang duduk di samping dres milik Vega.
Vega berbalik arah dan menghampiri Aldo yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.
"Asseeeemmm...dia malah mendekat lagi, uuuhhh Otong gue mau terbang aja" gumam Aldo sembari mencoba pura-pura tidak menghiraukan kedatangan Vega.
Semakin mendekat, jantung Aldo semakin berdenyut kencang. Hingga akhirnya Vega tiba di samping Aldo yang tampak diam-diam meliriknya. Kemudian Vega mengambil dress berwarna tosca itu dan memakainya.
Aldo menutup matanya saat melihat setiap lekukan tubuh Vega yang membuatnya gila.
Kemudian Vega menuju meja riasnya dan menaburkan bedak pada wajah cantiknya. Serta mengoleskan sedikit lipstik warna pink alami, sehingga membuat wajah Vega terlihat segar. Namun meskipun ia terlihat cantik agaknya Aldo terlihat cuek kepadanya. Membuat Vega mencari cara bagaimana menarik simpati Aldo kembali.
Vega menghampiri Aldo yang sedang duduk memainkan ponselnya, Aldo yang menyadari jika Vega mendekatinya seolah-olah cuek dan langsung mengajak Vega pergi.
"Kamu sudah siap, ayo kita pergi!"
Vega terdiam melihat sikap Aldo yang tiba-tiba dingin kepadanya.
"Kenapa dia tiba-tiba dingin kepadaku, Aldo kamu kenapa? Pliss jangan hukum aku seperti ini" gumam Vega sembari melihat wajah Aldo yang tak melihat dirinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih diam disitu?" ucap Aldo sambil menatap wajah sang istri yang terlihat cemas itu
"Maafkan aku sayang! Aku tidak bermaksud menyakitimu! Aku cuma ingin melihat seberapa besar cintamu kepadaku!" gumam Aldo yang tampak acuh terhadap istrinya.
"Tidak, tidak apa-apa, ayo kita pergi!" jawab Vega yang pura-pura tersenyum.
Kemudian Aldo dan Vega pergi, terlihat Sonia yang berada di ruang tengah, Sonia melihat keduanya yang sudah rapi
"Aldo, Vega, kalian mau kemana?" tanya Sonia.
"Kami mau melihat rumah baru yang di belikan Mama sebagai kado pernikahan kami Ma! Kami akan tinggal di rumah itu nantinya" jawab Aldo sembari tersenyum.
"Bu Nancy memang ibu yang baik, Vega! Kamu beruntung mempunyai mertua yang baik dan pengertian seperti Bu Nancy, maafkan Papa dan Mama jika belum bisa memberikan sesuatu yang berharga untukmu!" ucap Sonia
"Mama ngomong apa sih! Vega tidak minta apa-apa, Vega mendapatkan kasih sayang dari kalian adalah sebuah anugerah yang terindah yang diberikan Tuhan kepada Vega, Vega sangat bersyukur bisa memiliki orang tua seperti kalian, meskipun kalian bukanlah orang tua kandung Vega" balas Vega sembari memeluk Sonia.
"Baiklah Ma! Kami pergi dulu!" pamit Vega.
"Kalian nggak makan dulu" ucap Sonia.
"Nanti kami makan diluar, Mama tidak perlu khawatir" jawab Aldo.
"Baiklah! Hati-hati"
"Iya Ma!"
*
*
*
Sementara itu Ruli telah sampai di depan rumah Riris. Motor sport itu berhenti di sebuah rumah minimalis yang berdesain modern, tampaknya tidak terlalu banyak penghuni yang berada di dalam rumah itu.
"Hmm... emang boleh?" tanya Ruli menggoda.
"Kenapa tidak? Ayo masuk!" ajak Riris kepada Ruli.
Ruli memarkirkan motornya di halaman rumah Riris. Kemudian Riris membuka pintu rumahnya. Tampak Ruli melihat-lihat sekitar rumah yang terlihat sepi.
Riris mempersilahkan Ruli untuk masuk.
"Ayo masuk!"
Ruli masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Sementara Riris masuk ke dalam dan mengambilkan Ruli minuman. Setelah Riris mengambilkan Ruli minuman, dirinya lantas pamit kedalam.
"Bentar ya, gue ganti baju dulu!"
"Iya..." jawab Ruli.
Setelah beberapa menit, Riris keluar dari kamarnya, Ruli dibuat terperangah dengan baju yang di pakai Riris, gadis sintal itu hanya memakai celana pendek dan tank top warna hitam, yang sangat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi.
"Gila... njirrr, apaan nih, aduh kalau gini caranya, mana bisa gue nahan" gumam Ruli sambil meneguk minuman yang disediakan Riris untuknya.
"Sorry, lama ya!" ucap Riris sambil duduk di kursi.
"Enggak " jawab Ruli yang mulai berkeringat dingin.
"Elu kenapa?" tanya Riris yang melihat Ruli tampak tidak tenang.
__ADS_1
"Enggak, gue...gue...eh Elu tinggal sama siapa disini?" tanya Ruli menyelidik.
"Sama kakak Gue, tapi dia belum pulang, dia kerja" jawab Riris
"Oh... pulang jam berapa?" tanya Ruli sekali lagi.
"Emang kenapa?" Riris mulai menggoda.
"Ya...nggak apa-apa, nanya aja!" jawab Ruli dan Riris pun tampak tersipu malu.
"Terus orang tua Lu dimana?"
"Bokap dan Nyokap ada di luar negeri, gue disini sama Kakak, awalnya gue ikut kedua orang tua gue" jawab Riris.
"Oh ya! Terus kenapa pindah?"
"Gue bosen di sana, cowoknya kasar-kasar, maklum lah pergaulan di sana bebas, jadi jangan mengira gue masih virgin ya!" ucap Riris jujur.
"Iya...gue udah ngira! Tapi salut gue, Elu udah mau jujur" balas Ruli.
"Gue kesini mau nyari cowok yang baik, bukan hanya menginginkan tubuh gue saja, tapi dia harus bisa sayang gue apa adanya, tanpa nuntut kesempurnaan dari gue" jawab Riris tertunduk.
"Terus pak Bima itu siapanya Elu?" Ruli penasaran dengan sosok Bima yang mengaku sebagai Om nya Riris.
"Om Bima, adiknya Papa, dia disuruh Papa untuk jagain kita berdua!" ucap Riris.
"Oh gitu...ya sudah, kalau begitu gue pamit pulang!" pinta Ruli untuk pulang.
"Buru-buru aja!"
"Iya...takut nggak konsen... hehehe" jawab Ruli sambil garuk-garuk tengkuknya.
Riris terkekeh. Kemudian Ruli beranjak keluar dari rumah Riris, namun tiba-tiba saja hujan turun dengan begitu derasnya, sehingga membuat Ruli membatalkan untuk pulang ke rumah.
"Yah... hujannya gede banget" seru Ruli yang melepaskan kembali jaketnya.
"Lebih baik Elu tunggu saja di dalam sambil nunggu hujannya reda" ucap Riris yang masih berdiri di ambang pintu dengan gaya yang menggoda.
Akhirnya mau tidak mau Ruli masuk ke dalam rumah Riris lagi.
Sepertinya mendung terlihat tebal sekali, sehingga hujan yang turun juga semakin deras.
Entah ada apa dalam ruangan itu, tiba-tiba saja ada bisikan untuk ingin saling mendekat, ada hasrat yang datang dalam suasana sepi yang diiringi hujan lebat itu. Memang benar orang tua bilang, jangan berduaan dengan lawan jenis karena yang di tengah-tengah itu setan.
Keduanya sama-sama player, sama-sama memiliki jiwa petualang cinta, hingga tanpa sadar Riris kini berada berdekatan dengan Ruli. Riris mendekati Ruli yang terlihat siap untuk menyambutnya.
"Ruli, gue tidak tahu kenapa tiba-tiba saja gue ingin bercinta dengan Elu, plis jangan tertawakan gue, tidak semua cowok bisa tidur dengan gue, jika gue tidak menginginkannya, maka gue tidak akan mau, Tapi jika gue suka dan menginginkannya, gue siap menemaninya" ucap Riris yang mulai membelai dada Ruli.
"Hasseeeeemmmm...gue nggak bisa nahan njirrr...dia udah bikin cenut -cenut dari tadi, gue harus terobos, gue harus kalahin dia" gumam Ruli yang mulai merasakan tangan Riris mulai merremas benda keras itu.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
...Weih... SABAR...ademin dulu ya 😁...
*
*
__ADS_1
Ademin dulu ya dengan mampir ke karya punya kak Indah Wulandari yang berjudul AKU MAFIA BUKAN BIDADARI