
"Eh..eh... jangan dong sayang, aku malu" sahut Aldo yang membuat Vega semakin penasaran ingin melihatnya.
Vega terpaksa keluar dari bak mandi, dan kini dirinya berdiri tepat di depan Aldo yang tercengang melihat kemolekan tubuh istrinya.
"Weee...gitar spanyol nih bodi, nggak kuat gue... sumpah, ini benar-benar menggoda... putih mulus meski sedikit rimbun...ah tak apalah, rasanya tetap enak...masuk lagi nggak ya?" gumam Aldo saat Vega berdiri sempurna di hadapannya tanpa penutup kain sehelai pun.
Vega tersenyum nakal pada suami brondongnya itu, perlahan Vega mendekati Aldo yang mulai terlihat tergoda olehnya.
"Wait...wait...wait... jangan mendekat, kalau kamu mendekat, aku tidak bisa jamin si Otong bakal betah diluar, pasti pingin masuk aja nih adikku" sahut Aldo sambil berjalan mundur.
Vega tidak memperdulikan apa yang dikatakan Aldo, ia masih penasaran seperti apa tompel yang dikatakan oleh Aldo padanya.
Tampaknya Vega lebih agresif ketimbang Aldo yang masih sangat polos dalam dunia percintaan, Vega dengan segera meraih kepemilikan Aldo yang sudah tegak berdiri sedari tadi.
"Awwww... astaga, gue benar-benar nggak bisa menghindari ini" Aldo dibuat terdiam oleh Vega saat tangan Vega menggenggam sempurna adik Aldo.
"Aku mau lihat seperti apa tompel itu" bisik Vega sembari dirinya mulai memeriksa lokasi tompel itu berada. Vega memeriksanya dengan cermat, tampaknya ia menemukan sebuah tahi lalat kecil di sebelah tongkat sakti milik Aldo, Vega tersenyum dan ia kembali berdiri menghadap Aldo yang sudah terlihat bergairah sekali.
Vega meraih wajah Aldo dan mengusapnya dengan lembut, dan lagi-lagi dua gundukan itu menekan dada Aldo dengan menyentuh langsung tanpa penutup apapun. Membuat Aldo semakin ser-seran menghadapi kenyataan bahwa dirinya kini sedang terbuai oleh nafsu yang membara.
"Tidak ada tompel di sana, hanya sebuah tahi lalat cukup besar menghiasi keperkasaanmu, tapi aku suka itu, itu sangat indah baby...aku tidak butuh tahi lalat nya, tapi aku butuh ini" ucap Vega sembari memegang kepemilikan Aldo yang tegap perkasa itu.
Aldo tampak tersenyum sumringah, akhirnya sang istri bisa menerima apa adanya, meskipun terkadang Aldo suka lucu melihat tahi lalat yang nemplok di area sensitifnya.
"Kamu suka?" tanya Aldo dengan tatapan mesumnya.
"Suka sekali, bahkan sangat suka...!" jawab Vega sembari menunggu Aldo untuk berbuat lebih kepadanya.
__ADS_1
Setelah mendapat pelajaran tentang ciuman yang baik dan benar disaat malam itu dari Vega, lantas hari itu juga Aldo mempraktekkannya kembali dengan meraih bibir Vega dengan lembut.
Vega dibuat gelagapan saat Aldo mempraktekkan pelajaran dari Vega, membuat Vega tampak ngos-ngosan.
"Stop Aldo... biarkan aku bernafas dulu" pinta Vega agar dirinya mengambil nafas dulu, Aldo yang awalnya terlihat lugu dan polos, kali ini dirinya sudah tidak bisa menahan rasa itu lama-lama lagi, saat Vega mencoba mengambil nafas, Ia dengan cepat membuka satu kaki Vega dan mengangkatnya ke atas. Sehingga dengan mudah Aldo menyelipkan miliknya dengan sempurna.
"Sleeeppp"
"Akkhhh... Aldo!" Vega sangat terkejut saat tiba-tiba saja Aldo menyematkan kepemilikannya begitu saja tanpa panduan dari sang guru lagi.
Vega menatap wajah Aldo yang sedang memainkan miliknya disana.
"Kamu sudah pintar sekarang!' seru Vega sembari merasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya.
"Aahhh... rasanya luar biasa, ini benar-benar membuat otak gue gila...Ahh gue pingin lama-lama didalam sini, penasaran gue, apa sih yang ada di dalam sini, kenapa bisa mencengkeram Otong gue begitu kuat...Ahh gila enak"
Tampak Aldo benar-benar merasakan cengkeraman hebat dari otot-otot kewanitaan milik Vega, membuat Aldo melenguh hebat, hingga suara Aldo nyaris terdengar sampai luar kamar mandi.
"Sssttt... kecilkan suaramu Do, kamu bisa bikin semua orang mendengar kita apa?" Vega menutupkan satu tangannya pada mulut Aldo yang tak berhenti mengeluarkan suara erotis nya.
"Maafkan aku sayang, ini benar-benar luar biasa, aku tidak bisa menahannya" jawab Aldo sembari merubah posisinya. Kini Vega membelakangi Aldo dan dirinya menghadap ke dinding kamar mandi.
"Akkhh .. pelan-pelan Do!" pekik Vega saat dengan cepat dirinya menyematkan kembali miliknya pada tempatnya.
"Ini sudah pelan sayang, apa masih terasa sakit, jika masih sakit, kita periksa ke dokter hmm bagaimana?" ucap Aldo sembari menggerakkan dengan lembut yang dibawah sana.
"Ke dokter? Untuk apa...Ahh?" tanya Vega sembari merasakan hentakan itu begitu dalam.
__ADS_1
"Bukankah kau merasa sakit dengan apa yang terjadi pada kita saat ini hmm" jawab Aldo sembari mengulum telinga Vega.
"Siapa bilang ini sakit, aku tidak pernah mengatakannya" balas Vega sembari terpejam merasakan sentuhan tangan Aldo pada kedua gunung kembar itu. memilin-milin buah ceri itu begitu manis. Membuat si empunya semakin tidak berdaya.
"Ada darah di sprei, bukankah itu darah milikmu, itu pasti sakit sekali, iya kan baby!' ucap Aldo sambil merayap-rayap seperti cicak-cicak di dinding.
"Hmm...itu memang darahku dan kamu yang membuat darah itu keluar, sekarang kamu harus mempertanggung jawabkan atas perbuatanmu padaku" ucapan Vega membuat Aldo tiba-tiba menghentikan gerakannya.
"Kenapa berhenti?" tanya Vega yang masih ingin merasakan goyangan Aldo.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk mempertanggungjawabkan atas perbuatanku?" tanya Aldo sambil menahan miliknya yang masih berada di dalam tempatnya.
"Datangi terus tempat ini, setiap saat, setiap waktu...dan itu akan membuat luka didalamnya cepat mengering, apa kamu bisa!" jawaban dari mulut Vega membuat Aldo tersenyum smirk, dirinya semakin semangat memainkan perannya sebagai suami yang selalu memenuhi hasrat sang istri, pun sebaliknya Vega pun selalu standby jika Aldo meminta jatahnya kapan saja dia mau, kecuali hari libur yang rutin terjadi tujuh hari dalam sebulan.
"Jangan khawatir baby, itu tugas yang sangat menyenangkan, kini nikmati saja permainan kita" bisik Aldo yang perlahan mulai pintar memainkan perannya, kini Aldo lebih mendominasi gerakan indah itu, membuat Vega tak bisa berkutik lagi, kalau saja ada bendera putih, mungkin saja Vega sudah melambaikan bendera itu tinggi-tinggi.
"Aldo...cukup dong, kamu ingin membuatku tidak bisa berjalan!" ucap Vega saat Aldo masih asyik bermain atas tubuhnya.
Sudah berkali-kali Vega mengalami pelepasan, hingga membuat Vega lemas, sedangkan Aldo sendiri juga sudah dua kali mengalami pelepasan, namun dirinya masih stay cool, tetap fresh meskipun tempat penyatuan itu sudah sangat becek dan basah.
Untuk pelepasan yang terakhir, Aldo membuat intensitas gerakan itu semakin cepat dan semakin cepat, seperti jalannya mesin jahit, sebuah jarum yang menusuk kain dengan begitu cepatnya, namun meninggalkan suatu untaian benang yang menyatu, sehingga membuat dua hal yang terpisah menjadi satu, seperti halnya sel telur yang sedang bersatu dengan sel kejantanan pria.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
Bisa dibayangkan jika Vega suatu saat hamil, sedangkan Aldo masih sekolah...wiiihhh pasti tambah seru... tunggu update berikutnya 😊❤️
__ADS_1
...Maafkan othor ya, bab-bab kali ini mungkin agak panas membara, soalnya saat ini sesi Aldo dan Vega yang udah resmi menjadi pengantin baru🥰🥰...
...Nantikan bab berikutnya yang nggak kalah seru 🔥🔥...