
Malam pun semakin larut, semua tamu undangan sudah mulai kembali ke rumah masing-masing, begitu pun juga dengan pengantin baru itu, Arsen dan Ocha tampak sudah masuk ke dalam kamar mereka.
"Huff... capek banget ya mas! Padahal cuma nyalamin tamu doang, leher kenceng banget" ucapnya sambil merenggangkan otot -otot lehernya. Arsen yang terlihat simpati kepada Ocha, dengan segera memijit kepala dan leher Ocha.
"Sini aku pijitin" ucap Arsen sambil meraih kepala Ocha yang masih berhiaskan sanggul pengantin itu.
"Aku bantu lepasin, mungkin ini yang bikin kamu pegal-pegal" seru Arsen sambil melepaskan hiasan sanggul pengantin itu.
Ocha tampak memperhatikan Arsen yang tengah melepaskan satu persatu hiasan itu dari kepala Ocha, sampai tak tersisa satu pun jepit yang tertinggal di rambut Ocha, kemudian Arsen menggerai rambut istrinya yang panjang itu.
Arsen menatap wajah Ocha dari pantulan cermin yang berada di depan Ocha, namun Ocha justru merasa aneh saat Arsen melihatnya
"Kenapa Mas Arsen lihatin aku seperti itu?" tanya Ocha sambil membalas tatapan Arsen.
Arsen tersenyum dan membelai lembut rambut Ocha sembari berkata.
"Apa kamu sudah siap untuk malam ini? Sekian bulan aku menunggu saat-saat seperti ini, dan hari ini aku sudah melihat istriku berada di depanku" Arsen tampak memijit pundak Ocha, namun pijitan itu merambat ke tempat lain, Ocha yang masih gugup terlihat mengalihkan gerakan Arsen yang menjurus ke bagian dadanya yang menonjol itu.
"Em...Mas Arsen katanya mau mijitin kepalaku, yang dipijitin yang ini mas, bukan di sini" Ocha meletakkan tangan Arsen di kepalanya.
Arsen tersenyum, ia merasa jika istrinya ini masih sangat takut dan gugup. Arsen memijit kepala dan tengkuk Ocha dengan lembut, sehingga membuat Ocha terpejam merasakan pijitan Arsen yang membuat pusing kepalanya sedikit berkurang.
"Mas Arsen pintar banget mijitin kepalaku!" ucap Ocha di sela-sela ia merasakan sentuhan tangan Arsen yang lembut.
"Kamu suka?" tanyanya
"Hmm... kepalaku jadi tidak pusing lagi" jawab Ocha sembari tersenyum.
__ADS_1
"Kalau kamu mau! Aku bisa pijitan badan kamu, biar capek-capeknya hilang" tawar Arsen dengan senang.
Ocha membuka matanya dan langsung beranjak pergi ke kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya, setelah itu Ocha berharap bisa merasakan pijitan dari Arsen.
"Kamu mau kemana?" tanya Arsen yang tiba-tiba saja Ocha pergi dari hadapannya.
"Aku mau mandi dulu mas! Setelah mandi aku mau dipijitin mas Arsen" Jawabnya sembari berlari kecil menuju kamar mandi, Arsen tampak geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang masih sangat lugu itu.
Arsen tahu apa yang harus ia lakukan, dirinya bukanlah remaja seperti istrinya, namun Arsen adalah pria dewasa yang sudah pasti tidak ingin melewatkan malam ini dengan sia-sia, Arsen tetap sabar dan santai menunggu Ocha keluar dari kamar mandi, dirinya tidak mau memaksa istrinya untuk melakukan hubungan itu untuk pertama kali, Ia ingin Ocha sendiri yang minta.
Arsen duduk di atas ranjang tidurnya sembari memainkan ponselnya dan sesekali ia menenggak minuman ringan untuk menghangatkan tubuhnya, sembari menunggu Ocha keluar dari kamar mandi, Arsen tampak membuka jas pengantinnya dan melepaskan beberapa kancing kemejanya, setelah itu Ia duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya.
Tiba-tiba saja Ocha memanggil Arsen yang sedang menunggunya keluar dari kamar mandi.
"Mas...Mas Arsen! Aku minta tolong dong, ambilkan handuk sebentar, aku lupa bawa handuknya" seru Ocha dari dalam kamar mandi.
Arsen bangkit dan mencari handuk yang dimaksud oleh Ocha, dan setelah Arsen menemukannya, segera ia berikan handuk itu kepada Istrinya.
Arsen kembali lagi ke tempat semula, sambil menenggak kembali minumannya. Dan setelah beberapa saat Ocha keluar begitu saja tanpa malu-malu, seperti tidak ada orang yang melihat Ocha tampak santai berjalan keluar dari kamar mandi.
"Makasih ya mas, udah ambilin handuk untukku, tadi aku lupa, aku buru-buru soalnya mau dipijitin mas Arsen" ucapnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah, sementara Arsen tampak menahan nafasnya, pemandangan kali ini benar-benar membuat penglihatannya terganggu, Ocha pikir Arsen biasa-biasa saja dirinya berjalan ke sana kemari di depan Suaminya, Ocha tidak tahu bagaimana Arsen menahan sesuatu yang dibawah sana agar rileks dulu dan jangan terburu-buru untuk ON.
Namun itu semua di luar kendali Arsen, semakin ia melihat tubuh Ocha yang tertutup sebatas dada dan paha itu, membuat naluri kelelakiannya bangkit, Arsen tampak sudah berkeringat dingin, nafasnya sudah tidak bisa terkontrol lagi. Hingga akhirnya Ocha masuk ke ruang ganti, sedikit lega untuk Arsen, karena pemandangan nan mulus itu sudah tidak terlihat lagi di matanya.
Dan setelah beberapa menit, baru saja Arsen memenangkan dirinya, tiba-tiba Ocha keluar dari ruang ganti dengan memakai baju transparan yang menunjukkan lekuk tubuhnya, lebih parah saat ia memakai handuk tadi.
"Mas! Bajuku bagus nggak sih? Aku dapat hadiah dari kakak, katanya suruh pakai malam ini, tapi kok kayak nerawang gitu ya Mas?" tanya Ocha dengan lugunya, Ocha tak sengaja melihat suaminya yang terlihat tegang itu.
__ADS_1
"Loh mas Arsen kenapa? Mas Arsen sakit? Kok tegang gitu" seru Ocha yang justru mendekat pada Arsen dan memegang dahinya.
Arsen semakin tidak bisa menahannya saat tubuh Ocha sekarang berada di depannya, namun Arsen berusaha sabar untuk tidak menyentuhnya, meskipun itu sudah dihalalkan untuknya.
"Nggak panas!" seru Ocha sambil merasakan suhu tubuh Arsen yang normal.
"Ocha!" seru Arsen dengan suara paraunya.
"Kamu jadi dipijitin?" tanyanya penuh harap.
"Eh...iya dong, aku pikir mas Arsen lupa" jawab gadis lugu itu.
"Kamu nggak takut? Jika aku macam-macam sama kamu?" tanya Arsen sembari melihat Ocha yang mulai berbaring di atas tempat tidurnya.
"Takut? Emangnya mas Arsen hantu, mas Arsen kan suamiku" jawabnya sambil berbaring di atas ranjang pengantin itu.
"Ya Tuhan! Dia benar-benar telah menggodaku, apa dia sengaja melakukan hal itu, Ocha...hmmm" gumam Arsen sambil mengikuti Ocha yang sudah terungkap dan siap merasakan pijitan dari Arsen.
Arsen mulai duduk di samping istrinya, dilihatnya pemandangan dua bongkahan gugung es yang menjulang tinggi yang tertutup kain tipis itu, sehingga terlihat dengan jelas jurang pemisah di antara dua bongkahan gunung es itu, ingin sekali Arsen merremasnya, meski dalam posisi tengkurap, tubuh Ocha masih terlihat sangat seksi, apalagi di dukung dengan kain yang minim sekali.
"Ayo dong mas! tunggu apa lagi!" seru Ocha yang sudah tidak sabar lagi.
"Iya iya"
Arsen mulai memijit lembut kaki Ocha, perlahan pijitan itu mulai memanjat naik ke bagian paha Ocha.
Ocha tampak menggigit bibir bawahnya saat tangan Arsen memijit lembut paha mulus itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥