
Riris menyadari itu semua, dirinya tak patut untuk menangisi kenyataan yang jujur membuat hatinya tiba-tiba terasa sesak.
"Aku memang kecewa, tapi... semua ini terlanjur terjadi, aku sudah terlanjur mencintai Ruli, aku harus menerima kenyataan pahit ini, ini sudah menjadi pilihanku"
Riris mencoba bangkit dan berjalan kearah cermin besar di dalam kamarnya. Dirinya menatap wajah nya sendiri, betapa Ia sudah jatuh cinta kepada teman sekolahnya sendiri.
"Aku tidak perduli dengan apapun yang terjadi padamu Ruli, meskipun kamu pernah melakukannya dengan kakakku, karena aku sudah bertekad untuk mengakhiri petualangan ku, dengan mengikat janji hidup bersama dirimu untuk selamanya" ucap Riris sungguh-sungguh.
Setiap hari Riris dan Ruli bertemu, jika ada kesempatan, mereka berdua pasti melakukannya dengan senang hati, entah itu di rumah Riris sendiri, di hotel, di penginapan saat mereka berdua pergi kencan, ataupun di rumah Ruli sendiri, saat suasana rumah sedang sepi.
Layaknya pasangan suami istri, hanya saja mereka belum terikat dengan tali pernikahan. Sementara itu Diego kakak Ruli, akan tiba di Indonesia dua hari lagi.
"Besok lusa, mas Diego akan pulang, Gue sudah tidak sabar ingin memperkenalkan Elu padanya" ucap Ruli sembari beranjak turun dari tubuh Riris.
Riris tetap berbaring di atas tempat tidur, dirinya harus siap untuk bertemu dengan mantan partner ranjangnya, dan berharap semoga saja Diego tidak mempermasalahkan hubungan mereka dan melupakannya.
"Ruli! Gue mau ngomong sesuatu sama Elu!" seru Riris sembari menatap wajah Ruli yang tampan.
"Hmm... bicaralah" Ruli menatap balik wajah Riris
"Apa Elu mencintai gue?" Ucapan Riris membuat Ruli terkekeh.
"Kok malah ketawa sih!" Riris mendengus.
"Kenapa Elu tanyakan hal itu?" Ruli mencoba memahami apa yang dimaksud Riris.
"Mau tahu aja!" jawabnya sambil meraih bra yang ada disampingnya.
"Jika Gue udah memutuskan untuk menikahi seorang gadis, maka itu tandanya gue bener-bener mencintainya, tak perduli siapapun Elu, gue tetep mencintai Elu!" jawab Ruli dengan tersenyum.
"Kenapa Elu begitu yakin?" tanya Riris menelisik.
"Gue sangat yakin Elu adalah jodoh gue, dan Elu adalah cewek yang sudah membuat gue bahagia, gue tidak pernah mempermasalahkan Elu dulu seperti apa, karena gue yakin setelah menikah dengan Gue, Elu hanya milik gue!" bisik Ruli sembari mengecup lembut leher Riris.
"Ini yang membuat gue tidak bisa melepaskan Elu, gue bener-bener sudah bertekuk lutut di hadapan Elu" balas Riris sembari merasakan sentuhan lembut bibir Ruli pada area lehernya.
Dan lagi-lagi mereka melakukannya, entahlah dua pasangan ini tak bosan-bosannya bercinta.
*
__ADS_1
*
*
Dua Minggu kemudian.
Seperti biasa, pagi ini Vega disibukkan dengan menyiapkan sarapan pagi untuk Aldo, Aldo yang hari ini akan melaksanakan ujian sekolah, tampaknya membuat Vega sedikit lebih repot. Karena bagaimanapun juga hari ini dirinya harus berangkat lebih pagi, mengingat dirinya sendiri harus mengawasi ujian sekolah.
Aldo mengerti bagaimana kesibukan istrinya, dirinya tidak tinggal diam dan hanya berpangku tangan, Aldo turut membantu Vega dengan menyiapkan segala keperluan nya sendiri, Aldo sendiri sudah terbiasa mandiri. Nancy membiarkan Aldo melakukan tugasnya sendiri.
Tampaknya didikan dari Nancy membuat Aldo tak merasa keberatan jika harus menyiapkan segala sesuatunya dengan sendiri. Meskipun ia tahu sebenarnya itu adalah tugas istrinya.
Aldo melihat Vega yang masih sibuk dengan urusan dapurnya, kemudian Aldo menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Sudah cukup, ayo kita sarapan!" ajak Aldo kepada istrinya.
"Tapi...aku belum menyelesaikan nya" jawab Vega sembari melanjutkan pekerjaannya yang tampak mengelap sisa-sisa ia memasak.
"Bukankah seorang istri harus menuruti apapun perkataan suaminya bukan?" bisik Aldo sembari menciumi pipi Vega.
Sejenak Vega berhenti dari pekerjaannya dan membalikkan badannya.
"Okey...Tuan! Aku akan menuruti apapun permintaanmu!" ucap Vega sembari melepaskan celemek yang melekat di tubuhnya.
"Wow... banyak sekali kamu memasaknya!" ucap Aldo sambil memperhatikan satu persatu hidangan yang telah disajikan di atas meja makan.
"Hmm...iya! Nggak tahu kenapa, hari ini aku ingin sekali memasak banyak" jawab Vega tersenyum sembari duduk di kursinya.
"Apa kamu akan menghabiskan semua ini sayang?" Aldo mengerutkan keningnya.
"Iya... pasti aku habiskan!" ucapnya sambil tersenyum.
Kemudian Vega mengambilkan nasi untuk Aldo dan lauk pauk yang berbagai macam, Vega begitu antusias mengambilkan makanan untuk suaminya yang kini tengah memakai seragam abu-abu putih.
"Terima kasih, wahh ini benar-benar lezat!" seru Aldo saat melihat piring nasinya yang penuh dengan berbagai macam sayur dan lauk pauk.
"Makanlah yang banyak, sebab hari ini kamu akan menghadapi ujian, biar kamu tetap semangat!" ucap Vega.
Aldo mengangguk dan kemudian ia menyantap makanan yang diberikan oleh istrinya, begitu pun juga dengan Vega yang ikut melahap makanan itu bersama-sama.
__ADS_1
Namun di tengah-tengah aktivitas makan, Aldo merasa perutnya begitu mual dan sesak. Dirinya ingin sekali memuntahkan makanan yang kini berada di dalam perutnya.
"Huuueeekkkk" Aldo langsung berlari ke kamar mandi, sementara itu Vega tampak kebingungan dengan apa yang dialami oleh suaminya.
"Aldo! Kamu kenapa?" Vega mengikuti suaminya yang tengah berada di dalam kamar mandi. Aldo terlihat memuntahkan isi perutnya sembari sang istri memijit tengkuknya.
Setelah Aldo memuntahkan semua isi perutnya, kemudian tiba-tiba saja dirinya lemas tak berdaya. Bersandar pada dinding kamar mandi. Vega menatap suaminya yang terlihat lemas.
"Astogeeee...gila, Gue kenapa nih, pusing banget nih kepala, muter-muter kek kipas, ah semaput nih gue" gumamnya dengan keringat dingin mulai membasahi keningnya.
"Aldo! Kamu kenapa sayang!" Vega sangat cemas, takut jika suaminya sakit, mengingat hari ini Aldo akan menghadapi ujian sekolah.
"Nggak tahu nih, tiba-tiba saja perutku pingin banget muntah, kepala pusing banget! Mabok nih" jawabnya sambil memegang kepalanya.
"Asseeeemmm...mual banget njirr, gue kenapa nih, kayak orang keracunan anjayyyy" gumam Aldo meringis.
"Ya sudah, sini aku kasih minyak angin, mungkin kamu masuk angin, biar perutmu sedikit hangat" ucap Vega membawa Aldo duduk di sebuah sofa, dan mengoleskan minyak angin pada perut Aldo.
"Minumlah! Mungkin ini bisa mengurangi rasa mual!" ucap Vega sembari memberikan jus jeruk lemon kepada Aldo.
Aldo menerima segelas jus jeruk itu dan meminumnya dengan cepat. Vega melihat Aldo meminum jus itu sampai habis.
Vega tampak tidak mengedipkan matanya melihat suaminya yang begitu langsung menghabiskan minuman itu.
"Ah....segerrrr!" ucap Aldo yang merasakan rasa jus jeruk begitu nikmat. Setelah itu tiba-tiba saja Aldo mengajak istrinya berangkat.
"Ayo kita berangkat, aku tidak mau nanti kita terlambat" Ajak Aldo.
"Eh, kamu udah nggak mual lagi?" tanya Vega heran.
"Nggak tuh!" jawab Aldo sambil menunjukkan keadaannya yang baik-baik saja.
"Mungkin habis minum jus jeruk buatan kamu itu sayang! Perutku sudah tidak mual lagi" jawab Aldo menebak.
"Gitu yah!" Vega sendiri tampak heran kenapa tiba-tiba suaminya muntah-muntah.
"Iya yah, Gue kenapa yak? Kok tiba-tiba muntah dan Sekarang udah nggak lagi...ah bodo, mungkin kebanyakan nyolok nih gue hihihi" gumam Aldo cekikikan
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥
...SI ALDO KENAPA BESTIE? KEBANYAKAN NYOLOK APA MASUK ANGIN DIA? 🤔...