
Aldo mendorong tubuh istrinya hingga terhempas di atas kasur, dan di sore hari itu, Aldo dan Vega entah untuk kesekian kalinya mereka merasakan jiwa mereka berdebar kencang, tampaknya Aldo sudah sedikit mahir dalam memuaskan Istrinya di atas ranjang, Aldo sudah faham dimana letak area sensitif seorang wanita.
Kamar yang sengaja Nancy hias untuk keromantisan mereka berdua, kini terlihat acak-acakan, adanya pergumulan dua insan yang saling mencintai, Aldo yang biasa terlihat konyol dan cengengesan, agaknya hari ini Ia terlihat begitu menggairahkan, jiwa kelelakiannya begitu terlihat sempurna.
Vega hanya terpejam, tubuhnya sudah dikuasai oleh suaminya, dirinya pasrah, Aldo begitu pintar memainkan perannya sebagai lelaki normal.
Terlihat keringat yang keluar dari keduanya, menampakkan bahwa percintaan mereka sudah berlangsung cukup lama, gesekan demi gesekan yang tercipta, menciptakan sebuah harmoni yang syahdu, melewati setiap desaahan kedua insan itu.
"Do... sudah! Aku capek" rintih Vega sembari menatap wajah sang suami penuh harap, memohon kepada suaminya agar segera menyudahi permainan mereka.
Namun sayangnya Aldo masih begitu cepat bergerak di sana, membuat gerakan kepala Vega tampak naik turun.
"Kau menyerah?" jawab Aldo dengan gerakan yang masih setia disana. Vega mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya.
Tentu saja Vega merasa kelelahan, bagaimana tidak hampir 2 jam Aldo sudah menguasai tubuh indahnya. Sudah kesekian ronde Aldo menaiki tubuh istrinya. Dan sampai pada ronde terakhir, Vega menyerah, badannya sudah terlalu letih menghadapi keperkasaan suaminya.
Dan untuk terakhir kalinya, Aldo mengeluarkan pelepasannya ke dasar kepemilikan sang istri. Dan lagi-lagi ruang rahim itu telah dibanjiri sel-sel calon janin yang akan membuahi sel telur, begitu banyak jutaan yang berenang menuju tempat dimana sel telur berada, merebut posisi utama untuk berhasil masuk dan membuahinya.
Dan tentu saja dengan mudahnya, sel-sel dari kepemilikan Aldo telah berhasil menerobos dinding pertahanan sel telur milik Vega, membenamkan diri di sana dan akan memberikan suatu kehidupan baru yang akan tumbuh dalam rahim seorang Vega.
"Ahhhhh..."
Aldo terkulai, kepala Otong nya terasa panas karena sudah berkali-kali dirinya mengeluarkan amunisinya yang kini telah ia semburkan ke dalam rahim sang istri.
Sementara Vega, akhirnya bisa bernafas dengan lega, tubuh Aldo yang sedari tadi mengungkungnya, sekarang telah terkapar di sampingnya, Vega tersenyum melihat suami brondongnya begitu hebat menguasai dirinya.
Vega menggerakkan kakinya berat, serasa ada beban yang menghimpit di sana, belum lagi rasa nyeri di area sela*gka*gannya. Vega meringis dan meraba area sensitifnya, dirinya menggigit bibir bawahnya saat menyentuh minul-minul itu terasa sangat besar.
"Oh...God! Kau apakan milikku Aldo! Kenapa bisa seperti ini?" ucapnya lirih.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Aldo sambil melihat wajah Vega yang memanyunkan bibirnya.
"Kau benar-benar sudah membuatku tidak bisa berjalan, coba lihat! Ini semua karena ulahmu!" celoteh Vega sambil menunjukkan hasil buah karya Aldo.
Aldo terbangun dan melihat tangan Vega yang sedang menyentuh area sensitifnya.
"Assssemmmm...Kok bisa begitu? Kayak ada baking powder nya, mengembang indah" celetuk Aldo sembari melihat kue apem Vega yang terlihat sangat mumpluk sekali, bukan mumpluk lagi, ini lebih ke kebanyakan fernipan.
"Puuukkk"
Lemparan sebuah bantal tepat mengenai wajah Aldo yang masih terlihat berkeringat itu. Aldo sontak tertawa lirih melihat perubahan minul-minul yang awalnya terlihat kecil dan cantik, berubah menjadi memble dan terlihat lebih besar, karena gesekan yang terlalu lama, membuat si minul-minul itu tampak sedikit bengkak.
"Kok malah di ketawain? Ini semua gara-gara kamu!" seru Vega kesal. Aldo yang mengetahui tingkah istrinya yang terlihat merajuk itu, segera membawa Vega untuk berendam air hangat, supaya Vega bisa merilekskan kan otot-otot kewanitaan nya yang dibuat tegang dari tadi.
Aldo menggendong tubuh istrinya untuk masuk kedalam kamar mandi, Aldo menurunkan tubuh Vega dan memasukkannya ke dalam bak mandi yang sudah berisi air hangat itu.
"Aldo, kita mau kemana?" tanya Vega terkejut saat Aldo mengangkat tubuh polosnya.
Vega tampak tersipu malu, ia menyembunyikan wajahnya pada dada Aldo yang terlihat penuh dengan bekas stempel cinta darinya.
Setelah Vega berada di dalam bak mandi, dirinya mencoba merilekskan tubuhnya, badannya terasa remuk, Aldo mencoba membantu sang istri untuk merenggangkan otot-ototnya dengan memijat pundak sang istri.
"Maafkan aku!" ucap Aldo sembari memijit lembut pundak Vega.
"Untuk apa?" sahut Vega
"Aku sudah membuatmu tak bisa berjalan!" jawabnya sambil terus memijit lembut pundak sang istri. Vega tersenyum dan memegang tangan Aldo.
"Kenapa kamu harus minta maaf, aku ikhlas melakukannya, kamu hebat sekali hari ini! Kau tak biarkan aku lengah sedikitpun" senyum Vega saat mengingat Aldo yang terus memompa dirinya tanpa rasa lelah.
"Gila dah pil dari Ruli, emang bikin jreng banget Otong gue, bini gue sampai nyerah gitu, udah gitu jadi memble lagi... terlalu ganas gue...hihihi" gumam Aldo cekikikan dalam hati, mengingat dirinya menghajar istrinya dengan terus menggerakkan pinggulnya tanpa berhenti.
__ADS_1
*
*
*
*
Sementara itu Ruli pun mulai bergegas untuk pulang. Rupanya tanpa ia sadari dirinya sudah bermain terlalu lama dengan Riris.
"Gue pulang!" pamit Dulu sambil mencium kening Riris.
"Hmm... hati-hati, aku pasti akan merindukamu!" jawab Riris sembari memeluk Ruli.
"Kamu jangan khawatir, kita pasti bertemu setiap hari, banyak waktu untuk kita berdua, tapi ingat! Kamu tidak boleh berhubungan dengan pria lain selain diriku, faham!" ucap Ruli sembari menatap dalam-dalam mata Riris yang berwarna cokelat itu.
Riris tersenyum.
"Kamu jangan khawatir, aku akan tetap bersamamu, pergaulanku memang bebas, tapi untuk masalah itu, aku orangnya pilih-pilih, cuma kamu yang bisa membuatku terbang melayang, meski tak dipungkiri ukurannya sedikit kecil, tapi...itu benar-benar membuatku merasakan sensasi yang begitu nikmat yang belum pernah kurasakan dengan pria manapun" ucap Riris memuji keperkasaan Ruli.
"Ya... punyaku memang tak sebesar milik bule, tapi setidaknya milikku punya berbagai macam goyangan yang membuatmu tidak berdaya" jawab Ruli dengan terkekeh.
"Iya... kecil-kecil cabe rawit, pedassss level sembilan" sambung Riris sambil merremas Milik Ruli sekilas.
Ruli mencubit hidung Riris, kemudian segera pergi menuju motornya. Ruli terlihat gagah menaiki motor sport itu, sama halnya dengan Aldo, mereka berdua memang suka dengan dunia racing, tak ayal dua pria yang masih berumur 18 tahun itu memiliki hobi yang sama.
Ruli mulai melajukan motornya dan melambaikan tangan kepada Riris yang masih berada di ambang pintu.
"Ruli, aku akan setia kepadamu, aku janji akan bersamamu, kau pria impianku" ucap Riris yang berhasil menemukan pria yang tepat untuk dirinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥🔥