Bu Guru AKU PADAMU

Bu Guru AKU PADAMU
Aku suka ini


__ADS_3

Arsen terus memijit lembut paha Ocha, membuat kepala Arsen semakin pusing, sementara Ocha terlihat tersenyum, saran dari kakaknya telah ia praktekkan, menggoda suaminya dengan memakai busana super tipis dan super menerawang, Ocha melakukan itu sesuai anjuran Vega.


"Mas!" panggilnya kepada Arsen.


"Hmm..." jawab Arsen dengan nada berat.


"Punggungnya belum mas!" seru Ocha sambil duduk membelakangi Arsen, Ocha meletakkan rambut nya kearah depan sehingga terlihat dengan jelas leher indah itu begitu membuat Arsen ingin sekali mencumbui.


Arsen perlahan menyentuh punggung cantik milik istrinya, dengan sentuhan yang berbeda Arsen kini berada di belakang tubuh Ocha yang tampak sedang duduk membelakangi Arsen.


Arsen melihat leher Ocha yang bersih tak bernoda, entah kenapa ada keinginan untuk mengecup mesra leher yang jenjang itu, perlahan namun pasti ciuman mesra itupun mendarat sempurna pada tengkuk Ocha, membuat si empunya memejamkan matanya dan menahan perasaan yang tidak karuan itu.


"Mas Arsen ngapain?" tanya Ocha dengan mata yang terpejam.


"Kamu sengaja menggodaku kan?" balasnya sembari memeluk Ocha dari belakang.


"Aduuuuhhhh... benar kata kakak, laki-laki tuh nggak bisa tahan kalau lihat tubuh perempuan...hmmm mas Arsen nakal" gumamnya sembari merasakan setiap sentuhan yang Arsen berikan.


"Ocha...!" seru Arsen yang mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya.


"Hmmm..."


"Apa aku boleh melakukannya?" tanya Arsen yang seolah tidak ingin memaksakan kehendaknya terhadap istrinya.


"Hmm... melakukan apa?" Ocha tampak menghadap ke arah wajah suaminya yang sudah tidak sabar ingin segera merasakan indahnya malam pengantin bersamanya.


Arsen menangkup wajah Ocha dengan kedua tangannya, lalu berkata"Jadilah milikku malam ini!"


Ocha menatap dua bola mata sang suami penuh cinta, ada kerinduan besar di sana, Ocha tersenyum dan berkata "Lakukanlah mas! Aku sudah siap lahir dan batin untuk menjadi milikmu!"


Arsen melepaskan tangannya dan berpindah dengan menyentuh bibir Ocha yang tampak memakai lipgloss berwarna pink itu, sehingga membuat bibir Ocha terlihat sangat segar dan creamy.

__ADS_1


Entah kenapa tiba-tiba saja bibir itu saling menyentuh, dan untuk kedua kalinya Ocha merasakan betapa berdebarnya dicium oleh Arsen yang sudah pintar melakukannya, Arsen begitu lembut memperlakukan Ocha, sehingga ia merasa sangat nyaman, dan ia yakin Arsen akan membuatnya bahagia malam ini.


"Mas! Apa yang kamu lakukan?" Ocha membulatkan matanya saat Arsen mulai meraih dua buah pepaya mengkal itu, yang menggantung indah pada tubuh Ocha, dan dengan sangat mudahnya Arsen menarik busana tipis itu dari permukaan kulit Ocha.


Masih dengan posisi duduk, kini sebagian tubuh Ocha telah terlihat sempurna hanya meninggalkan kain tipis yang melindungi mahkotanya, Ocha terpejam, melenguh dan sesekali mengeluarkan desaahan kecil saat sang suami tengah bermain di antara dua bongkahan miliknya.


Usia Ocha yang masih sangat muda, jelas masih sangat terlihat dengan ukuran pertumbuhan dua buah pepaya yang indah itu, ukuran yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, namun sangat terlihat menantang, karena belum terjamah oleh tangan siapapun.


Sembari menelusuri area dada istrinya, satu tangan Arsen tetap menahan tubuh istrinya dan satunya lagi membuka kancing kemejanya sendiri, sehingga sangat terlihat bulu tipis yang tumbuh di dadanya, sejenak Arsen menjauhkan dirinya dari Ocha yang tampak tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Mas Arsen mau kemana! Jangan pergi mas!" Ocha merengek agar Arsen terus melakukan hal itu kepadanya.


Arsen melepaskan ikat pinggangnya dan tentu saja ada sesuatu yang terasa sesak di bawah sana, sesuatu yang ingin masuk ke dalam tempatnya, memaksa Arsen untuk melepaskan penutup yang melindungi kepemilikannya.


Ocha yang duduk di depannya melihat secara nyata penampakan sesuatu yang selama ini membuatnya penasaran.


"Mas Arsen! Itu apa?" tanyanya lugu


Arsen berjongkok di depan Ocha yang sedang duduk di atas ranjang, dua kaki Ocha yang menempel pada lantai dibukanya lebar-lebar.


"Hmm...Mas!"


Arsen melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Ocha dan membelai lembut punggung Ocha, sementara bibirnya melanjutkan ciumannya yang tertunda tadi.


Ocha tak bisa berbuat banyak, dirinya pasrah dengan apa yang dilakukan Arsen kepadanya, apalagi tangan kreatif Arsen mulai melepaskan pelindung benda mungil itu yang masih ori dan belum terjamah oleh siapapun.


Bukan hal yang sulit untuk Arsen menanggalkan kain penutup itu, dan setelah sekian detik kini Ocha sudah berada di bawah Kungkungan suaminya.


"Mas Arsen!" Ocha menyebut nama suaminya dengan suara berat, bibirnya kelu karena kepala botak milik Arsen telah menggesek permukaan yang mulai basah itu, Arsen tidak langsung masuk ke sana, dirinya ingin Ocha rileks dan membuat gadis yang sekarang menjadi istrinya itu merasa nyaman.


Ocha yang begitu penasaran dan sudah tidak sabar ingin merasakan apa arti malam pengantin sesungguhnya membisikkan sesuatu pada telinga Arsen.

__ADS_1


"Mas! Apa hanya seperti ini malam pengantin itu! Kata teman-teman akan ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuh kita, dan itu rasanya nikmat sekali"


Sejenak Arsen berhenti menggesek permukaan yang sangat basah itu, dan berganti mengarahkan kepemilikannya pada pintu masuk kepemilikan Ocha. Permukaan yang sudah sangat basah itu membuat Arsen dengan mudah melesatkan bambu runcing itu tepat mengenai sasaran, dan hanya dengan satu kali tusukan, Ia berhasil menyematkan jarum tumpulnya ke dalam area yang masih sangat rawan itu.


"Hmmm...Mas!" Ocha merremas sprei dengan kuat saat Arsen melesatkan jarum tumpul itu tepat ke dasar kepemilikan Ocha.


Arsen berhenti ketika benda miliknya sudah berhasil masuk, sekarang Ocha bukanlah gadis lagi, ia sudah menjadi istri sepenuhnya, apa yang ada dalam bayangannya kemarin-kemarin kini telah terjadi secara nyata, Arsen sudah berhasil memiliki Ocha jiwa dan raga.


Arsen menatap wajah istrinya yang tampak terpejam, Ia menunggu reaksi selanjutnya saat kepemilikannya berhasil terparkir ke dalam tempatnya. Ocha membuka kedua matanya dan menatap balik mata suaminya yang sedang menatapnya.


"Kenapa berhenti mas!" suara Ocha terdengar begitu kecil, seolah sedang berbisik.


"Kamu ingin aku bergerak?" Arsen mulai menggerakkan sedikit pinggulnya, hanya sedikit, namun mampu membuat mimik wajah Ocha terlihat antara kesakitan dan kenikmatan.


"Hmm...mas! Pelan-pelan" pintanya agar Arsen bergerak pelan.


"Oke... jika itu maumu!" dan tentu saja Arsen menurutinya, gerakan itu begitu lembut, dan temponya begitu lambat, dan semakin lama Ocha merasakan sensasi yang mulai terasa begitu nikmat, seolah gerakan pelan saja tidak cukup puas, rasa sakit itu telah berganti dengan rasa yang luar biasa, Ia membiarkan Arsen melakukan apa saja terhadap dirinya.


Namun tiba-tiba saja Ocha berbisik pada telinga Suaminya dan berkata "Mas! Jangan pelan-pelan dong! Cepetan dikit!"


Arsen menyeringai dan tanpa basa-basi, ia segera menaikkan tempo gerakan semakin cepat dan semakin cepat.


"Apa seperti ini?" balas Arsen sembari menatap wajah istrinya.


"Hmmm...iya, aku suka ini" Jawab Ocha dengan tersenyum.


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥🔥


...JANGAN PROTES YA, BAB INI SESUAI ALUR 🤭...

__ADS_1


__ADS_2