
Vega menoleh kearah suami brondongnya, dilihatnya Aldo yang tampak tersenyum smirk kepadanya. Kemudian Vega berkata kepada Aldo.
"Sayang rumah kita masih berantakan! Kita harus beberes dulu, kamar kita belum kita tata, masih amburadul, terus kita mau melakukannya dimana?" ucap Vega sembari menunjuk barang-barang mereka yang masih belum tertata pada tempatnya.
"Disini!" Aldo menunjuk sofa ruang tamu mereka yang masih terlihat nyaman itu. Vega melihat Aldo yang tampak berjalan menutup pintu rumah mereka dan menguncinya.
Sekarang cuma mereka berdua yang berada dalam rumah baru itu, tanpa ada orang lain di sana, Keduanya sama-sama bebas mengeluarkan segala hasrat bersama, saling melepaskan rasa cinta yang begitu bergejolak.
Hubungan cinta murid dan guru yang mungkin akan terasa ambigu di telinga, tapi bagi Aldo dan Vega, hubungan keduanya sudah menjadi sebuah candu, saling membutuhkan satu sama lain, dua insan yang tak dapat dipisahkan, biarpun jarak usia yang berbeda, namun Vega bisa menempatkan dirinya sebagai seorang istri dari pria yang kini menjadi suaminya.
Iya... sekarang Aldo bebas melakukan apa saja terhadap gurunya itu, entah itu mencium, mencumbu, merayu atau bahkan menyatukan raganya. Tidak ada yang bisa melarangnya.
Ikatan suci pernikahan antara murid dan guru, tak lantas membuat semua orang bisa menerima kenyataan jika Aldo dan Vega adalah pasangan suami istri, seperti halnya Bima yang masih sibuk mencari bukti tentang hubungan antara Aldo dan Vega. Yang menurutnya sangat tidak wajar.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Aku harus mencari bukti tentang hubungan mereka, dan setelah aku dapatkan buktinya, aku akan membuat Aldo malu semalu-malunya" ucap Bima serius
*
*
*
*
Sementara di sebuah tempat, terlihat pasangan muda mudi yang tengah berduaan di sebuah tempat yang tentunya hanya pasangan yang sudah halal yang harus melakukan itu.
"Emm... terus dong Ruli, Gue suka banget gayamu" Riris mencengkram erat sprei saat Ruli tengah sibuk menancapkan jarum tumpulnya berkali-kali.
"Elu menikmati sekali rupanya!" balas Ruli yang semakin gemulai menggeol pinggulnya.
Suara desaahan dan lenguhan itu saling bersahutan dalam ruangan berukuran 4x4 itu. Hingga akhirnya puncak gelora telah sampai mereka tuju.
Keduanya sama-sama tampak kelelahan, terasa begitu nikmat dan indah dengan sensasi rasa yang baru saja mereka lalui.
Riris meletakkan kepalanya pada dada Ruli yang masih terlentang. Ruli melihat Riris yang berada pada dadanya yang masih berdenyut kencang.
Ruli membelai lembut rambut Riris dan berkata sesuatu pada gadis bertubuh sintal itu.
"Kapan orang tuamu pulang?" tanya Ruli sembari mengusap lembut rambut Riris.
"Kenapa Elu tanyakan hal itu?" Riris mendongak menatap Ruli yang tiba-tiba menanyakan hal itu kepadanya.
"Gue akan melamarmu!" jawab Ruli yakin.
__ADS_1
"Apa? Apa Gue tidak salah dengar?" tanya Riris tidak percaya.
"Apa Gue perlu mengatakan hal ini lagi?" ucap Ruli sembari mengusap-usap pundak Riris.
Riris tersenyum dan semakin mempererat pelukannya.
"Kenapa buru-buru? Kita masih sekolah!" jawab Riris
"Gue tidak mau terlalu jauh berbuat buruk sama Lu" ucapan Ruli membuat Riris bangun dan menatap wajah kekasihnya itu.
"Apa maksud Lo?" Riris tampak serius menatap dalam-dalam mata Ruli
"Gue ingin hubungan kita ada sebuah ikatan yang akan tetap terjalin hingga akhir nanti, Elu gadis pilihan Gue, karena Gue merasa puas bila bersama Lu, dan Gue tidak mempersoalkan tentang diri Lu sebelumnya, karena Gue sadar Gue juga tidak sempurna, sudah banyak gadis yang tidur dengan Gue, tapi tidak ada satupun yang mampu membuat Gue terjatuh, cuma Elu yang bikin gue merasa jadi pria sejati" ungkap Ruli diiringi senyumnya yang menawan.
"Gue bahagia banget, akhirnya ada cowok yang mau nerima Gue apa adanya" jawab Riris sembari mencium bibir Ruli sekilas.
"Bokap dan Nyokap datang ke Indonesia 3 bulan sekali, mungkin mereka tiba untuk kelulusan kita nanti" ucap Riris
"Benarkah? Kalau begitu gue akan melamar Elu saat Bokap dan Nyokap Lu datang ke Indonesia!" sahut Ruli senang.
"Trus orang tua Lu, apa mereka mau nerima Gue?" tanya Riris penasaran.
"Pasti mereka menerima, Mama dan Papa pasti setuju" balas Ruli.
"Gue anak bontot, Abang gue ada di luar negeri, dia kuliah di sana, tapi sebentar lagi dia akan balik ke Indonesia" jawab Ruli.
"Emm...jadi Elu cuma dua bersaudara?" tanya Riris sambil memakai kembali **********.
"Iya..."
"Samaan dong!" balas Riris
"Oh iya?"
"Hmmm"
"Kakak gue bernama Claudia, dia bekerja sebagai pemandu karaoke di sebuah cafe!" ucapan Riris tiba-tiba membuat Ruli terkejut.
"Siapa? Claudia?" Ruli tidak percaya
"Hmm, Claudia Johnson" jawab Riris.
"Oh... Shiiit, kenapa harus gadis itu?" gumam Ruli seolah dirinya sudah mengenal sosok Claudia, kakak perempuan Riris.
__ADS_1
"Eh... terus siapa nama kakak Elu?" tanya Riris balik.
"Diego Dharmawangsa" jawab Ruli singkat
"Apa?" Riris tiba-tiba sangat terkejut saat mendengar Ruli mengatakan hal itu.
"Kenapa?" tanya Ruli
"Tidak! Tidak apa-apa, lupakan!" jawab Riris sembari memakai kembali bajunya.
"Ah...Sial kenapa gue harus bertemu dengan pria kasar itu lagi, dia pasti tidak akan melepaskan gue, jadi... pria gila itu kakaknya Ruli, oh ya ampun, sial bener nasib gue, gue datang ke Indonesia untuk menghindar darinya, tapi justru dia akan semakin dekat dengan gue!" gumam Riris sembari mengancingkan bajunya, namun tiba-tiba tangannya di tahan oleh Ruli.
Riris menatap wajah Ruli yang terlihat menggairahkan. Ruli mendekati gadis itu dan dengan segera menyambar bibir Riris begitu dalam.
"Aku ingin lagi" bisiknya yang membuat Riris tidak bisa berbuat apa-apa. Tak ayal Riris kembali membuka bajunya dan kembali melakukan hal yang seharusnya belum boleh mereka lakukan.
"Ruli! Apa Elu tidak akan meninggalkan Gue?" tanya Riris di sela-sela hentakan Ruli yang lembut.
"Tidak akan, Gue tidak akan pernah meninggalkan Elu, apa pun yang terjadi!" jawab Ruli yakin.
"Thanks Ruli, gue cinta banget sama Elu" seru Riris sembari memeluk Ruli dalam dekapan hangatnya.
"Cepak cepak jeder_ cepak cepak jeder"
Bunyi penyatuan dua insan itu begitu menggema bak jedag jedug yang sedang viral di sebuah apliikasi terkenal.😂
"Ruli..."
"Shiiit...ini terlalu nikmat baby"
Hingga akhirnya keduanya lemas terbaring pada kasur yang diletakkan di atas lantai tanpa ranjang itu, mungkin jika mereka bermain di atas ranjang, bisa jadi ranjang nya akan jebol dan reot, karena kekuatan hentakan Ruli yang begitu berirama namun intens.
Dan tiba-tiba saja ponsel Ruli berdering, Ruli meraba ponselnya yang terletak di samping tas ranselnya.
"Mas Diego?"
Tiba-tiba saja Riris dibuat salah tingkah saat mendengar Ruli menyebut nama Diego.
"Pria itu lagi, semoga gue tidak bertemu lagi dengannya" gumam Riris cemas.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1
...Haduh-haduh piye Iki🤔...