
Setelah beberapa menit akhirnya Aldo dan Vega keluar dari kamar mereka, Vega memperhatikan wajah suaminya yang tampak lesu. Bagaimana tidak lesu, lagi terbang tinggi ke awang-awang, nyatanya harus terhempas sempurna yang memaksa si Otong milik Aldo tertidur lemas.
Vega dan Aldo berjalan menuju ruang makan, Vega selalu nempel pada Aldo, Ia berjalan sembari menyandarkan kepalanya pada lengan Aldo dan selalu menggenggam erat suami brondongnnya itu. Mengingat dirinya juga harus terpaksa memutus hasrat itu di tengah perjalanan, sehingga Ia merasa sedikit kecewa.
"Eh... ayo, Aldo... Vega, kita makan dulu, Mama udah siapin buat kalian berdua" seru Sonia kepada Vega dan Aldo yang baru saja tiba di meja makan.
"Ya ampun Mama, banyak banget makanannya, siapa yang akan makan sebanyak ini?" tanya Vega yang melihat berbagai macam jenis makanan yang tersaji di atas meja makan.
"Vega...Mama sengaja masak banyak buat kalian, karena Mama tahu kalian pasti membutuhkan asupan gizi yang baik untuk proses pembuatan cucu untuk Mama, jadi kalian harus makan yang banyak" jawab Sonia yang membuat keduanya saling menatap.
"Oh...iya, dan ini untuk Aldo, Mama udah siapin ramuan khusus untuk mendongkrak stamina laki-laki, campuran kuning telur ayam kampung dan ramuan khusus yang Mama dapatkan dari nenek kalian, ayo Aldo minumlah" seru Sonia memberikan jamu herbal yang sudah dicampurkan kuning telur ayam kampung.
"I...Iya Ma, terima kasih!" jawab Aldo sembari menerima segelas ramuan berwarna hitam itu.
Dan tak lama kemudian Javier dan Ocha datang menghampiri mereka bertiga.
"Papa, Ocha... kalian sudah datang!" seru Sonia.
Ocha melihat kedua pengantin baru itu dengan senyum yang sumringah, sementara Javier ikut duduk bersama mereka.
"Ehm...duh pengantin baru, baru kali ini gue lihat keluar kamar, ngapain aja di dalam, pasti lembur kan?" seru Ocha yang membuat keduanya terlihat malu.
"Sssttt... Ocha kamu nggak boleh bicara begitu, mungkin saja kakakmu sedang praktek pelajaran biologi, apa kamu nggak mau punya keponakan dari mereka?" sahut Javier yang diikuti tawa kecil Ocha yang.
"Haa... Papa bener tuh!" sambung Ocha sembari menggelengkan kepalanya.
"Ehh... udah-udah, jangan gitu dong Pa, namanya juga pengantin baru, mereka menemukan pengalaman baru yang membuat mereka sampai lupa diri, kayak nggak pernah aja nih Papa, masih inget kan Papa hari kedua kita nikah, Papa jalannya kayak kepiting ngangkang, saking banyaknya Papa menghajar Mama" ungkap Sonia yang mengingat kejadian saat malam pertama mereka.
Dan itu membuat Vega dan Aldo ikut tertawa.
__ADS_1
"Ah...Mama masih ingat aja waktu itu, jangan keras-keras dong Ma, di sini masih ada yang belum nikah" sahut Javier sembari berbisik pada Sonia.
Sonia menatap Ocha yang terlihat menyimak apa yang dikatakan oleh Sonia tadi.
"Kenapa Mama lihatin aku kayak gitu?" tanya Ocha.
"Ocha, kamu jangan dengerin ucapan Mama tadi ya! Tadi Mama cuma bercanda, kamu jangan hiraukan perkataan Mama" balas Sonia.
"Perkataan yang mana? Ayolah Pa, Ma... Ocha udah gede, lagipula Mas Arsen udah janji sama Ocha untuk nikahin Ocha setelah lulus sekolah" ucapan Ocha membuat semuanya terkejut.
"Hah... apa kamu bilang? Arsen akan menikahimu?" tanya Vega yang begitu terkejut mendengar hal itu dari adalah adiknya sendiri, mengingat mereka berdua adalah saudara kandung.
"Iya...dia sendiri yang bilang!" jawab Ocha.
"Loh Ma, bukannya aku tidak setuju, tapi... Ocha adik aku Ma! Masa dia harus menikah dengan Mas Arsen, kan itu nggak mungkin, Mas Arsen adalah kakak kandung Aldo, sementara kamu adek aku, kalau kalian menikah aku rasa itu tidak mungkin" ucap Vega sembari menggelengkan kepalanya.
"Ah... kakak, apanya yang nggak mungkin, bilang saja kalau kakak nggak suka aku nikah dengan Mas Arsen, iya kan...dah lah males" ucap Ocha sembari pergi meninggalkan meja makan begitu saja.
"Ma...Pa! Kok malah diem aja, ucapanku bener kan Ma, Ocha nggak bisa nikah sama Mas Arsen, iya kan?" tanya Vega
"Vega, ada sesuatu hal yang belum kamu ketahui selama ini, mungkin sudah saatnya kamu harus mengetahui rahasia besar yang sengaja kami sembunyikan" seru Javier memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu kepada Vega.
"Pa...Papa yakin akan mengatakan hal ini kepada Vega?" seru Sonia yang khawatir jika setelah mendengar berita ini, Vega akan bersedih.
"Mama jangan khawatir, Papa bisa mengatasinya, Vega pasti mengerti, apalagi sekarang dia sudah punya suami, sudah ada pria yang melindunginya" ucap Javier.
"Sebenarnya apa yang ingin Papa dan Mama katakan, kenapa serius sekali? Begitu penting kah?" tanya Vega harap-harap cemas.
Aldo melihat kecemasan di wajah istrinya, lantas dirinya mencoba menenangkan Vega dengan meraih tangannya dan menggenggamnya. Vega menatap suaminya dan Aldo memberikan senyum terindahnya agar Vega bisa bersikap tenang.
__ADS_1
"Sebelum kamu mendengar ucapan Papa, sebelumnya Papa dan Mama minta maaf kepadamu, jika harus menyembunyikan kebenaran ini selama bertahun-tahun." kata Javier.
Vega tampak mendengarkan perkataan Javier dengan serius.
"Vega... sebenarnya kamu... bukanlah anak Papa dan Mama, kami mengadopsimu dari panti asuhan sejak usiamu masih satu tahun" ucapan Javier bak petir yang menyambar tepat di atas ubun-ubun seorang Vega, bagaimana mungkin setelah puluhan tahun ia menganggap Javier dan Sonia sebagai kedua orang tuanya ternyata mereka berdua bukan orang tua kandung yang sebenarnya.
"Waktu itu pernikahan kami sudah menginjak tahun ke tiga, Mama mu belum juga dinyatakan hamil, padahal kami selalu pergi ke dokter, dan dokter pun menyatakan jika kami berdua tidak ada masalah, sehingga ada teman Papa yang menyarankan untuk mengambil seorang anak sebagai pancingan, agar kami bisa segera mendapatkan anak sendiri" ungkap Javier
"Dan akhirnya Papa mendapatkan info jika di suatu pantai asuhan ada seorang bayi perempuan yang ditinggal oleh kedua orang tuanya yang meninggal dunia karena suatu kecelakaan maut, sehingga membuat hidup bayi itu sendirian, dan akhirnya kami datang kesana, dan berniat mengadopsi Bayi perempuan cantik itu, yang tak lain adalah kamu" ucap Javier Jujur.
Dan tak terasa buliran bening itu jatuh dari pelupuk mata Vega, Aldo segera memeluk sang istri, baru kali ini dirinya melihat air mata yang jatuh dari mata Vega, Aldo tidak pernah melihat Vega menangis sekalipun, bahkan saat dirinya menjebol gawang sang istri pun, Vega tetap kuat menahan rasa sakit yang kebanyakan wanita menitikkan air mata saat selaput dara itu robek.
"Kami merawatmu dengan penuh kasih sayang, kami sudah menganggap mu seperti anak kandung kami sendiri, kamu adalah anak yang cerdas, kami bangga memiliki putri yang pintar sepertimu, dan saat usiamu menginjak 6 tahun, Mama dinyatakan hamil, dan hal itu adalah karunia terbesar dalam hidup kami, dan kami sangat bahagia dengan kehadiranmu dalam hidup kami, Vega... Papa dan Mama sangat menyayangimu, meskipun kamu bukan anak kandung kami, tapi kami sangat bangga kepadamu" ungkap Sonia yang membuat Vega semakin deras mengeluarkan air matanya.
"Sudahlah sayang, jangan menangis, ini memang menyakitkan, tapi setidaknya kamu mendapatkan kasih sayang yang sempurna dari Papa dan Mama, mereka berdua sangat menyayangimu" ucap Aldo menenangkan istrinya.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
*
*
*
*
Nih ya aku kasih novel yang bagus banget, ceritanya nggak ngebosenin, mantul pokoknya, karya kak Tyatul yang berjudul Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku... segera ramaikan...gaskan 🔥🔥🔥
__ADS_1