
Entah bagaimana itu bisa terjadi, Riris mulai meraup bibir Ruli dengan mesra, biasanya Ruli yang menyerang lawannya terlebih dahulu, tapi kali ini Ia mendapatkan partner yang berbeda, Riris begitu pintar memainkan lidahnya, dengan kedua tangannya yang tidak bisa diam, Ruli dibuat terdiam saat dirinya dibuat membumbung tinggi menembus cakrawala.
"Akkhh... shiiit" pekik Ruli saat Riris berjongkok di depannya, Ruli melihat kepala Riris yang bergerak maju mundur, membuat Ruli tak sanggup bergerak, dia hanya bisa mendongak saat Riris begitu lihai memainkan pedangnya.
Setelah puas bermain di sana, Riris mengajak Ruli masuk ke dalam tempat tidurnya.
"Di dalam kamar saja, ikut aku!" Riris menggandeng tangan Ruli yang sudah separuh telanjang itu.
"Brakkk... ceklek-ceklek"
Suara pintu kamar yang dikunci.
"Waaahh... sempurna, ini yang gue mau" ucap Ruli saat tangannya bermain pada gunung kembar Riris yang sangat besar itu. Riris bukanlah tipe cewek yang pasrah, dirinya lebih mendominasi sebelum dirinya mencapai puncaknya, namun jika Sudah mencapai puncaknya, Riris menjadi lemah dan pasrah.
Dan tak butuh waktu lama, si Otong dan si minul-minul itu akhirnya bersatu, saling bergerak satu sama lain, Riris berada pada tubuh Ruli, memutar dan menggoyangkan pinggulnya sesuai irama.
"Ouuwwwww...gue nggak nyangka Elu pinter banget main" ucap Ruli disela-sela nafasnya yang tak beraturan. Riris hanya tersenyum, dirinya tetap memacu yang di sana agar segera Dirinya merasakan pelepasan.
Sedangkan Ruli masih sibuk dengan dua bola basket milik Riris yang bergerak naik turun itu.
Dan setelah beberapa saat, Riris mulai merasakan sesuatu yang akan segera terlepas dari raganya. Dirinya semakin mempercepat ritme gerakan. Dan akhirnya...
"Ohh...damn it, it's so crazy...ah...yesss"
Sesuatu keluar dari liang kepemilikan nya, terasa hangat dan mengalir melewati sela-sela ruang penyatuan itu.
Riris lemas dan dirinya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Oleh Ruli kepadanya.
Dengan cepat Ruli membalikkan tubuh sintal gadis cantik itu. Dan sekarang berganti Ruli yang memegang kendali. Ruli memompa yang di sana dengan slow dan mengalun, mengingat Riris tidak suka ritme yang kasar dan terlalu cepat.
"Elu suka ini" Ruli memandang wajah Riris yang tampak merasakan sensasi rasa itu.
"Emm... suka banget, gue belum pernah merasakan hal senikmat ini" jawab Riris dengan mata yang masih terpejam keenakan.
Ruli menyeringai dan menerapkan berbagai model gaya bercinta, sepertinya Ruli sudah begitu ahli dalam urusan ranjang.
Hingga akhirnya Ruli merasa dirinya sudah tak sanggup lagi menahan sesuatu yang ingin ia keluarkan dengan segera. Dua kaki Riris Ia angkat keatas dan disitulah Ruli menancapkan pedangnya dalam-dalam hingga pedang itu mengenai dasar kepemilikan Riris, dan akhirnya...
"Arrrgggh....ah yeaahhh"
Suara lenguhan panjang dari mulut Ruli membuat Riris semakin mencengkram kan otot-otot kewanitaannya.
Kedutan itu terasa begitu nikmat untuk Ruli, Dirinya terkulai di atas tubuh Riris dan menatap wajah Riris begitu mesra, Riris pun tersenyum kepada partner ranjangnya yang istimewa ini.
"Gue suka banget, gue tidak akan pernah melepaskanmu, gue ingin Elu menjadi partner ranjang gue untuk selamanya, Elu yang gue cari" ucap Ruli sembari mengecup bibir Riris.
"Gue juga, Elu pria yang lembut, baru kali ini gue merasakan sensasi yang berbeda, setiap kali gue bercinta, gue sering nangis, tapi dengan Elu, gue ngerasa seperti di dalam sorga, begitu nikmat dan sangat menggairahkan" balas Riris sembari memeluk Ruli.
Dan akhirnya hujan pun reda, setelah Ruli dan Riris puas bermain, Ruli memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun tiba-tiba saja Riris terlihat sangat khawatir.
"Omaigad...gue lupa!" ucap Riris sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Kenapa?"
Ruli terkejut melihat ekspresi Riris yang sangat khawatir.
"Kita nggak pake pengaman, masuk aja gitu?" ucap Riris yang khawatir jika dirinya bisa saja hamil, karena mereka lupa memakai pengaman.
"Memangnya kenapa kalau masuk, gue lebih suka masuk di dalam, itu lebih nikmat" balas Ruli sambil merremas pantat Riris.
"Bukan itu, kalau gue hamil gimana? Elu mau tanggung jawab?" seru Riris menatap wajah Ruli.
"Sangat mau, gue akan bertanggung jawab, gue akan nikahi Elu!" ucapan Ruli membuat Riris tersenyum.
"Elu yakin bakal nikahin gue?" tanya Riris tidak percaya.
"Yakinlah, yakin banget malah, si Aldo saja bisa nikah meskipun dia masih sekolah, masa gue tidak!" tukas Ruli tersenyum sambil memakai pakaiannya kembali.
"Apa? Aldo udah nikah? Apa maksud Lo?" tanya Riris yang tidak percaya.
"Dengerin gue, apa yang Elu lihat di kamar mandi, itu memang benar, Aldo dan Bu Vega. Elu tahu! mereka berdua sudah nikah, jadi wajarlah mereka berdua bermesraan" seru Ruli yang membuat Riris membulatkan matanya.
"Apa? Jadi Aldo dan Bu Vega itu suami Istri?"
"Betul"
Jawab Ruli yakin.
"Kenapa bisa mereka nikah gitu" tanya Riris penasaran.
Ruli mulai menceritakan tentang sesuatu yang membuat Aldo dan Vega harus menikah, Riris tampak mengerti apa yang dijelaskan Ruli kepadanya.
"Ohhh... begitu, iya iya gue ngerti sekarang!"
"Jadi Elu jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita berdua!" ucap Ruli.
"Okey...gue janji nggak akan bilang siapa-siapa, asalkan Elu selalu ada buat Gue" balas Riris sembari mengalungkan tangannya pada leher Ruli.
*
*
*
*
Sementara itu Aldo dan Vega telah sampai pada lokasi rumah baru mereka, selama perjalanan Vega dan Aldo hanya saling diam. Aldo turun dari mobil dan diikuti Vega.
"Ayo masuk!" seru Aldo sambil membuka pintu rumah baru mereka. Nampaknya Vega masih terdiam di tempatnya. Aldo menoleh kearah istrinya.
"Ayo masuk! nungguin apa di situ!" seru Aldo
"Iya..." balas Vega lemas sembari beranjak masuk ke dalam rumah baru mereka.
__ADS_1
Vega melihat interior rumah yang begitu indah, sejenak dirinya terhibur dengan keindahan rumah baru mereka.
"Ini bagus banget!" ucap Vega yang mengagumi desain rumah minimalis itu.
Vega dan Aldo semakin masuk ke dalam ruang tidur mereka, Aldo dan Vega dibuat takjub dengan desain kamar mereka yang terlihat sangat romantis, layaknya sebuah kamar pengantin baru, Nancy telah menyiapkan semuanya untuk mereka berdua.
"Wow, kamarnya benar-benar indah, aku suka ini!"
Vega merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk itu, menikmati lilin aromaterapi yang sudah disediakan oleh Nancy dengan sentuhan cahaya yang temaram.
Vega terpejam sembari menghirup aroma terapi itu dalam-dalam. Hingga tiba-tiba saja Aldo berada di atas tubuh sang istri yang sedang terlentang itu.
"Aldo! Kamu!"
Vega terkejut melihat Aldo yang tengah mengungkung tubuhnya.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh melakukan nya?" seru Aldo sembari menciumi leher istrinya.
"Hmmm...tentu saja boleh, siapa yang melarang mu untuk menyentuh ku, lakukan saja, lakukanlah sepuasmu" jawab Vega sembari menyiapkan dirinya untuk melayani suaminya hari ini. Dirinya tidak mau jika Ada kesal lagi kepadanya.
Namun tiba-tiba Aldo berdiri dan menjauhi Vega.
Vega begitu terkejut saat melihat Aldo yang tidak mau melanjutkan aktivitasnya, sementara dirinya sudah merasa ingin di perlakukan lebih oleh Aldo.
"Sayang, kenapa berhenti?"
Vega bangun dengan dalaman yang masih separuh menempel di satu kakinya.
Aldo terdiam, dia rupanya menunggu Vega untuk datang kepadanya.
"Kemarilah sayang, mendekatlah kepadaku, Aku akan membuatmu bahagia dan terbang tinggi, cepatlah came on baby" gumam Aldo yang berharap Vega merayunya.
Vega merasa dirinya sendiri tidak bisa menahan rasa itu, Aldo menghentikan nya di tengah jalan, membuat Vega merasa sentuhan itu belum sempurna.
Vega berdiri dan menghempaskan seluruh kain yang menempel pada tubuh indahnya. Hingga sekarang dirinya polos tanpa sehelai benangpun.
Vega berjalan menghampiri Aldo yang berdiri di depan jendela.
"Aldo! Ayo lakukan!" ucapnya sambil memeluk Aldo dari belakang.
Aldo menyeringai, kemudian ia membalikkan badannya. Aldo melihat Vega yang polos tanpa kain penutup satu pun.
"Katakan jika kau menginginkannya?" ucap Aldo supaya Vega mengikuti ucapannya.
"Emm...aku menginginkannya, sangat menginginkannya!" jawab Vega sembari meraih bibir suaminya penuh gairah.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1
...MAAFKAN OTHOR GENGS 🔥🔥🤭🤭...