
Setelah Aldo berhasil membuka Ritz gaun Vega, kemudian Vega melepaskan gaun itu Begitu saja dari tubuh indahnya, sehingga membuat Aldo melongo.
"Ini ancaman guys...astogeee mata polos gue udah ternoda oleh kemolekan tubuh Bu Vega, eh istri njiiirr...Aldo tahan..." Aldo tampak memalingkan wajahnya, dirinya masih terlalu gugup untuk melewati malam ini bersama sang istri yang terpaut usia 5 tahun darinya.
Vega adalah wanita dewasa yang sudah pasti mengerti apa yang akan terjadi oleh pasangan yang baru menikah, dirinya kini tak malu-malu lagi untuk menampakkan keindahan tubuhnya untuk Aldo, mengingat sekarang hanya Aldo lah yang berhak atas dirinya.
Sementara Aldo dibuat panas dingin, usianya yang masih 18 tahun membuatnya berdebar hebat, saat dirinya dihadapkan pada pemandangan yang baru pertama kali ia lihat. Dua gunung kembar yang biasa ada di pelajaran IPS, sementara lembah nan penuh Padang rumput tampak mengintip di balik penutup yang tipis.
Vega tampak menggoda suami brondong nya itu dengan mengalungkan tangannya.
"Kamu...mau ikut mandi denganku?" seru Vega dengan senyumnya yang menggoda.
"Eh...eh..man...mandi? Bersama Bu Vega?" jawab Aldo terbata-bata, nafasnya semakin sesak saat dua gundukan milik Vega mendesak sempurna pada dada Aldo.
"Wait...wait ...wait...apa nih, waduh waduh bisa-bisa paru-paru gue nggak bisa nafas nih, mati nih gue, mampus Lu Aldo, mampus!" gerutunya sambil menahan sesuatu yang mulai mengeras dalam celananya.
"Hmm...Ayo dong baby! Kamu masih malu padaku?" seru Vega dengan tatapan yang liar, diluar Vega adalah sosok guru yang disiplin dan tegas, namun saat bersama Aldo, apalagi sekarang mereka sudah bebas melakukan apa saja, membuat Vega menjadi sosok yang berbeda. Liar dan penuh gairah.
"Bu...Bu ...Bu Vega mau apa?" jawab Aldo yang masih sangat polos. Kali ini Vega punya dua tugas penting terhadap Aldo, pertama Ia harus mengajari murid yang juga suaminya sendiri ini tentang ilmu Fisika, sementara tugas kedua adalah mengajari suami berondong nya tentang malam pertama yang sebentar lagi akan mereka lalui sebagai pasangan suami istri.
"Coba pegang ini!" seru Vega sembari meletakkan kedua tangan Aldo pada dadanya.
Lantas Aldo mulai merasakan apa yang ia pegang itu terasa berdenyut dan membuatnya ingin merremas-rremasnya.
"Ohh shiiit...empuk dan kenyal-kenyal, asli nih...nggak ada silicon...wah asik...yeeaahh"
Aldo mulai menikmati, terlihat dari ekspresi wajahnya yang mulai terlihat bergairah.
"Gimana? Kamu suka...? Sekarang ini adalah milikmu!" seru Vega yang membuat wajah Aldo berbinar.
"Benarkah Bu?"
"Sssttt... jangan panggil aku ibu, panggil aku sayang... sekarang aku istrimu, bukan gurumu!" ucap Vega sembari membuka jas dan kemeja Aldo.
Dengan tangan yang masih menetap pada dua gunung kembar itu, Aldo mulai pintar melepaskan kaitan bra yang terletak di depan.
__ADS_1
"Oh...no, ini lebih amazing... benar-benar besar"
Aldo semakin dibuat gila saat bra itu terjatuh dari tubuh Vega, dan memperlihatkan dengan sempurna kebanggaan dari banyak wanita itu, dua gundukan yang menantang, menggantung sempurna di hadapan Aldo.
"Waahh... sempurna...ini lebih besar dari bola basket"
"Aldo sayang, sentuhlah... sentuhlah sesukamu, apa yang ada pada diriku saat ini sekarang adalah milikmu, hanya milikmu" ucap Vega sembari menghempaskan tubuhnya pada tempat tidur pengantin mereka yang berhiaskan bunga -bunga cantik dan indah.
Dengan tubuh yang polos, Vega merayu Aldo untuk datang mendekat kepadanya. Aldo tak mengedipkan matanya sama sekali saat dirinya melihat pemandangan yang benar-benar luar biasa membuat gairahnya memuncak.
"Oh...No...apa gue harus mencobanya, ini belum pernah gue rasakan sebelumnya, apa sekarang gue sedang praktek pelajaran biologi?" Aldo menelan ludahnya kasar.
Aldo mulai mendekati Vega, tatapan matanya mulai liar, Aldo sudah tidak bisa membendung gejolak itu lagi, Aldo adalah pria normal, meskipun ia jauh lebih muda dari Vega, namun jiwa kelelakiannya sudah tumbuh sempurna.
Dengan cepat Aldo mendekap tubuh sang istri dan mulai menguasai bibir Vega. awalnya Vega menuntun Aldo bagaimana cara mencium bibir yang baik dan benar, namun lama-kelamaan Vega dibuat kewalahan dengan Aldo yang mulai pintar memainkan ciuman itu hingga terasa panas dan mesra.
Sekarang Aldo menatap mata Vega, posisi Aldo berada diatas tubuh Vega, dengan kedua tangan yang menopang berat badannya, sementara yang dibawah sana, tidak tahu harus berbuat apa.
"Ada apa?" tanya Vega saat Aldo melepaskan ciumannya.
"Kenapa adikku tidak mau tidur, rasanya semakin sesak dan semakin nyeri, apa yang harus aku lakukan?" ucap Aldo dengan suaranya yang terdengar parau.
"Hmm... bagaimana caranya?" tanya Aldo semakin penasaran.
Vega mengarahkan milik Aldo pada sesuatu yang seharusnya Aldo datangi.
"Masukkan!" pinta Vega saat dirinya telah mengarahkan kepemilikan Aldo pada tempatnya.
"Memasukkannya?" tanya Aldo sekali lagi, saat Aldo melihat ekspresi wajah Vega yang bersiap untuk merasakan sensasi pecahnya selaput dara.
Vega hanya menganggukkan kepalanya dan mencoba menahan rasa sakit saat Aldo mulai mendorong miliknya pada tempatnya.
Tampaknya Aldo penasaran dengan apa yang diminta Vega, yaitu menyatukan sesuatu yang seharusnya bersatu di malam pengantin mereka.
Aldo mulai mendorong, sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Empptt..." Vega mulai merintih.
Lantas Aldo berhenti karena dirinya melihat Vega yang tampak kesakitan.
"Ada apa? Kamu tidak apa-apa? Sakit? Kalau sakit aku tidak mau melanjutkannya" ucap Aldo saat melihat wajah istrinya yang tampak kesakitan menahan sesuatu yang dibawah.
"Jangan... jangan berhenti, tanggung Do... teruskan saja" jawab Vega sembari menggigit bibir bawahnya.
"Tapi...kamu kesakitan sayang, aku tidak mau menyakiti mu!" ucap Aldo yang merasa kasihan kepada Vega.
"Tidak mengapa, ini hanya sementara, aku akan bangga jika suamiku sendiri yang membuatku sakit, kemudian rasa sakit itu akan berubah menjadi kenikmatan antara aku dan kamu... cepatlah Do, do it" ucap Vega yang mulai bersiap untuk merasakan kembali rasa sakit robeknya selaput dara miliknya.
"Baiklah, jika kamu memaksa, maafkan aku jika nanti kamu merasa sakit lagi, bilang saja kalau kamu menginginkan aku untuk berhenti, aku akan menyudahinya" ucap Aldo sembari menekan kembali miliknya ke tempat persembunyian nya.
Satu hentakan...
"Akkhh ... Aldo!" Vega mencengkeram kuat lengan Aldo.
Dua hentakan.
"Akkhh...sakiiit" Vega meringis kesakitan
Dan hentakan ketiga, masuk sempurna.
"Aaawwww...yeaahhh, kenapa bisa seperti ini rasanya"
Sekarang bukan Vega yang merintih, tapi lenguhan dari bibir Aldo yang berhasil menjebol gawang milik Vega, kini benda keras itu mulai bergerak bebas di dalam tempatnya, meliuk-liuk kesana kemari.
"Aldo...stop, jangan cepat-cepat!"
"Tidak...aku tidak mau berhenti, ini terlalu nikmat" jawab Aldo sembari menggenggam kedua tangan Vega.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥
PANAAASSSS... MAAFKAN OTHOR🙏🙏🤭