
Malam panas yang panjang telah dilalui mereka berdua, hanyut dalam kemesraan yang tercipta begitu indah, malam yang menjadi sejarah terindah awal kehidupan bahtera rumah tangga mereka.
Setelah sesi menegangkan itu telah dilewati, akhirnya dua insan yang saling mencintai itu menghempaskan raganya di atas ranjang pengantin yang baru saja bergoyang.
Ocha tampak kelelahan pun sama dengan Arsen, nafas keduanya saling bekerjaran seolah baru saja menyelesaikan lomba lari maraton, peluh yang menetes membasahi tubuh polos mereka, sisa-sisa denyutan kenikmatan masih terasa begitu mendebarkan.
Arsen menengok kearah istrinya yang tampak terpejam, dengan nafas yang parau, Arsen memanggil nama istrinya sembari membelai lembut pipi Ocha.
"Ocha! hei... Ocha!" suara berat Arsen membuat mata Ocha membuka sedikit demi sedikit.
"Hmm...mas" jawabnya sembari menoleh ke arah suaminya.
Arsen tersenyum dan beranjak mendekati istrinya, meskipun dirinya masih lemas setelah pertempuran tadi, namun Arsen berusaha untuk membuat sang istri nyaman setelah melewati saat-saat yang paling mendebarkan itu.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya sambil mengelus surai indah Ocha.
"Hmm..." Ocha menggelengkan kepalanya, namun sesekali ekspresi wajah Ocha menunjukkan kesakitan yang ia tahan saat ia menggerakkan kedua kakinya yang masih terbuka lebar itu.
"Apa kamu sakit?" Arsen merasa jika istrinya itu merasa kesakitan.
"Perih mas!" jawabnya. Arsen memeluk Ocha dan meminta maaf kepadanya.
"Maafkan aku!" ujarnya sambil mencium kening sang istri.
"Untuk apa?" Ocha mendongak melihat wajah Arsen.
"Aku sudah membuatmu sakit" jawabnya, Ocha tersenyum dan berkata "Rasa sakit yang terasa ini menjadi bukti jika aku telah memberikan semuanya kepadamu mas, jiwa ini, raga ini semua aku berikan hanya untukmu" ucapnya lirih.
Arsen tersenyum bangga, memiliki istrinya secara utuh, gadis perawan yang belum pernah tersentuh oleh siapapun, hanya dirinya yang berhasil membuat gadis perawan itu menyerahkan dirinya. Hanya kepada suaminya adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi Arsen.
"Terima kasih banyak sayang! Mas akan selalu bersamamu, mendampingimu dalam hal apapun, mas akan selalu membawamu kemanapun mas pergi, kau tidak akan pernah sendiri" ucapan Arsen begitu membuat Ocha bahagia.
"Aku akan selalu ikut bersamamu mas!" Ocha semakin mempererat pelukannya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Arsen.
__ADS_1
Keduanya tertidur pulas dalam satu pelukan, dan setiap Arsen terjaga dalam tidurnya, hasratnya pun bangkit kembali, dan lagi-lagi Ia membawa Ocha terbang kembali ke nirwana, entahlah sudah berada kali pendakian Arsen sepanjang malam, seolah tak pernah puas jika hanya sekali dua kali, Ia ingin sepuas-puasnya mereguk manis indahnya malam pengantin bersama Ocha. Pun demikian dengan Ocha, dirinya seolah terus merasakan sensasi yang luar biasa dan membuatnya ketagihan, jika Arsen mengajaknya dia pun tak keberatan, dengan senang hati Ocha akan melayaninya.
*
*
*
*
Hingga akhirnya pagi menyapa, Arsen yang terbiasa bangun pagi, tampaknya hari ini Ia bangun lebih dulu daripada Ocha, Arsen telah rapi dengan kemeja dan celana panjangnya, rambutnya yang basah terlihat begitu seksi dan sebuah ciuman mendarat di kening Ocha dengan lembut.
"Selamat pagi sayang!" ucapnya sambil memandang wajah Ocha yang masih terpejam. Karena sentuhan lembut bibir Arsen, Ocha mulai membuka matanya dan samar terlihat wajah tampan Suaminya tengah berada di dekatnya.
"Hmm...Mas Arsen!" Ocha berusaha untuk bangun dari tidurnya, namun Ia merasa tubuhnya sakit semua.
"Hmm... badanku terasa pegal banget Mas, aku nggak bisa bangun pagi, maafkan aku!" ucapnya sambil meletakkan kembali kepalanya yang masih berat.
"Tapi Mas! Itu seharusnya tugasku, biar aku saja!" Ocha memaksakan diri untuk bangun dari tidurnya, Arsen dengan cepat menghampiri Ocha yang sedang beranjak berdiri namun tertahan oleh rasa ngilu yang berpusat di bawah sana.
"Awwww..." Ocha meringis seolah terasa ngilu sekali saat dirinya hendak bergerak.
"Sudah kubilang jangan banyak bergerak" Seru Arsen sembari duduk di samping Ocha.
"Tapi aku mau mandi Mas!" jawabnya
"Baiklah, sini aku bantuin!" Arsen menggendong tubuh polos Ocha untuk masuk ke kamar mandi.
Ocha menatap wajah Arsen sembari mengalungkan tangannya pada leher Arsen, sedangkan Arsen membawa tubuh Ocha untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Sudah Mas! Turunin aku"
Arsen segera menurunkan tubuh Ocha dan menatap Ocha yang hendak membersihkan dirinya itu.
__ADS_1
"Kenapa Mas masih ada di sini?" tanya Ocha saat melihat Arsen masih berada di sampingnya.
Arsen tersenyum dan berkata "Maafkan aku! Karena perbuatanku semalam, kamu jadi seperti ini" sesal Arsen.
"Untuk apa Mas bicara seperti itu! Itu sudah tugasku bukan? Dan aku tidak keberatan, apapun yang kamu minta dan berapapun kamu minta hak, aku akan memberikannya secara ikhlas, karena itu adalah kewajibanku Mas!" balas Ocha sembari mengguyurkan air shower pada tubuhnya, setelahnya Ia mengusapkan sabun pada tubuh indahnya, dan tentu saja semua itu disaksikan oleh mata Suaminya.
"Mas mau mandi lagi?" tawarnya kepada Arsen yang tampak menyilangkan kedua tangannya.
"Aku sudah mandi" jawabnya sembari memperhatikan setiap lekuk tubuh istrinya, betapa Arsen melihatnya begitu takjub, betapa ciptaan Tuhan yang bernama wanita itu sangatlah indah, sangat membuat mata Arsen tak berkedip sama sekali, melihat ciptaan Tuhan yang terpampang nyata begitu seksi dan menggoda.
Sesekali Ocha memijit-mijit area dadanya, terlihat dengan jelas banyak sekali bekas gigitan, dan yang jelas itu bukanlah gigitan dari nyamuk, tapi gigitan dari suaminya, ada banyak dan jumlahnya tak terhitung, bisa dibayangkan bagaimana Arsen begitu menikmati keasikan mereka malam itu.
Belum lagi pada area leher turun ke dada, hingga di punggung atas pun ada bekas merah-merah yang masih tersisa. Sungguh badan mulus dan Cantik itu bagaikan buku gambar ukuran A4 yang dengan mudahnya goresan tinta itu melukis dengan jelas berbagai gambar yang di ciptakan oleh suaminya.
Ocha yang melihat suaminya sedang berdiri di depan cermin, tampak menyunggingkan senyumnya, Ocha menghampirinya dalam keadaan yang masih polos. Dan benar saja tiba-tiba Ocha berdiri di depan suaminya.
"Kamu nggak mandi lagi?" tanyanya sambil memandang wajah Arsen yang tengah menahan sesuatu yang ada dalam dirinya saat memperhatikan Ocha yang sedang mandi tadi.
"Tidak!"
"Oh ya...hmm sepertinya ada sesuatu yang kamu tahan Mas!" balasnya sembari melilitkan handuk pada tubuhnya.
Tiba-tiba saja Arsen menahan tangan Ocha agar tidak memasang handuk pada tubuhnya. Ocha sangat terkejut saat melihat wajah Arsen yang terlihat sangat serius.
"Ada apa Mas?"
"Aku tidak ingin kamu menutupinya, lepaskan!" perintah Arsen sembari menarik handuk putih yang menutupi sebagian tubuh istrinya.
"Mas Arsen...!"
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1