
Sesampainya di kantor, Ila dan Jesi melihat semua karyawan merasa sangat takut dan heran karena untuk beberapa bulan ke depan perusahaannya itu untuk sementara waktu akan dipimpin oleh bos besar yaitu Tuan Angga.
Ila tidak tinggal diam melihat hal ini semua, dia pun menghampiri bos nya itu dan Jesi pun mengikuti langkah Ila.
Tok..tok..tok (mengetuk ruangan)
"Iya masuk saja." Ucap Bos
"Ada apa kamu kesini?" Lanjut Bos
"Perusahaan kita akan dipimpin oleh bos besar? Mengapa ini bisa terjadi?" Tanya Ila
"Bukankah keadaan perusahaan kita sudah baik baik saja, mengapa perlu ada pengawasan dari kantor pusat?" Tanya Jesi (berusaha membantu Ila untuk menyelesaikan masalahnya)
"Kalian ini datang datang malah seperti orang ngajak ribut jadinya." Ucap Bos
"Kalian tenang saja, hal ini sudah lumrah dilakukan oleh kantor pusat. Nah tahun ini kedapatan perusahaan kita. Bukannya enak ya ada yang membimbing perusahaan kita supaya lebih maju." Lanjut Bos
"Apa bimbing?" Tanya Ila
"Iya Bos besar kita Tuan Angga adalah orang yang sangat pintar dalam hal ini, meskipun dia masih muda tapi dia terkenal karena sering membantu pamannya dalam menata perusahaan." Jawab Bos
Bos perusahaan menjelasakan bahwa Ila dan Jesi juga harus patuh kepada Tuan Angga sama seperti dia patuh kepadanya. Setelah berbincang panjang kali lebar Ila dan Jesi pamit untuk keluar dari ruangan itu.
Ila dan Jesi kembali ke ruangan mereka berkerja. Ila pun melanjutkan pekerjaannya seperti biasanya. Saat Ila di ruangannya terdapat Tuan Angga sedang berjalan mengawasi semua karyawan disana tak terkecuali Ila.
Saat Angga melewati ruangan Ila, dia mulai flashback mengingat kejadian waktu kuliahnya dulu. Dia begitu akrab dengan Ila namun sekarang serasa jauh darinya.
Ila sudah tidak lagi menganggap Angga sebagai temannya lagi, namun sampai detik itu Angga ingin sekali menjelaskannya kepada Ila atas kejadian kecelakaan itu. Angga pun menyadari bahwa hal itu tidak akan mudah Ila lupakan dan Angga memutuskan untuk bersikap dingin kepadanya agar Ila tidak lagi merasa tersakiti dengan keberadaannya. Perasaan Angga sebenarnya masih tetap sama namun dia mulai mengubur dalam dalam perasaannya itu kepada Ila.
Melamun melihat Ila dari kejauhan, Angga mempunyai suatu ide agar Ila mau mendengarkan penjelasannya itu setidaknya dia ingin berusaha menjelaskan kejadian kecelakaan itu.
Waktu menunjukkan sudah sangat sore, namun Ila masih saja dengan pekerjaannya. Sepertinya dia akan lembur hari ini.
__ADS_1
Jesi yang saat itu sudah menyelesaikan semua pekerjaannya ingin sekali pulang, tetapi karena melihat sahabatnya itu masih belum selesai dia menawari untuk membantu Ila.
"Ila, apakah masih banyak?" Tanya Jesi
"Iya, bos menyuruhku untuk merevisi ini semua." Jawab Ila (terlihat banyak sekali tumpukan dokumen)
"Sini aku bantu, biar cepat selesai." Ucap Jesi
"Tidak perlu, kami pulang saja kamu pasti lelah kan seharian menyiapkan ini itu." Jawab Ila
"Lagi pula ini tinggal sedikit kok." Lanjut ila
Saat itu, Jesi pun menuruti perkataan Ila. Dia pulang dan meninggalkan Ila yang masih ada di kantor.
Ila harus bekerja keras menyelesaikan tugasnya itu dan mata Ila sepertinya sudah mulai merasa ngantuk, akhirnya Ila memutuskan untuk pergi ke dapur untuk membuat kopi.
Saat Ila sedang di dapur dan selesai membuat kopi, tiba-tiba kaki Ila tersandung oleh tembok saat itu kopinya terjatuh dan badan Ila pun ikut terjatuh namun saat itu untungnya ada Tuan Angga yang menangkap badan Ila.
Saat Tuan Angga berbicara, Ila mulai menyadari bahwa suaranya tidak asing lagi di telinganya. Ila membuka mata dan langsung mendorong tubuh Angga yang sedari tadi ia pegang langsung ia hempaskan begitu saja.
"Mengapa kau mendorongku?" Tanya Angga
Ila pun tidak merespon pertanyaan Angga itu, dia langsung membersihkan pecahan gelas kopi tadi. Saat Ila membersihkan itu, tangannya terkena pecahan dan berdarah.
"Awww." (respon Ila ketika tangannya terkena pecahan gelas kopi tadi)
"Mengapa kau tidak berhati-hati." Ucap Angga (langsung menyahut tangan Ila dan membersihkan darah yang ada ditangannya itu)
Melihat itu semua Ila merasa tercengang karena sikap Angga kepadanya. Saat itu Ila langsung menyuruh Angga untuk melepaskan tangannya.
"Lepaskan tanganku, ini tidak se sakit dengan apa yang telah keluargamu lakukan kepadaku." Ucap Ila (dia langsung berdiri meninggalkan dapur dan Angga, dia sudah merasa tidak selera lagi untuk membuat kopi akhirnya memutuskan untuk pergi saja daripada harus dengan Angga disana)
Angga yang melihat itu semua mencoba membuntuti Ila dari belakang, dia mencoba ingin menjelaskan kepada Ila. Dia memanggil terus nama Ila namun dia tidak sedikitpun menoleh ke arahnya apalagi menghentikan langkahnya itu.
__ADS_1
"Ila, tunggu." ucap Angga dari belakang
Saat berjalan berbuntutan, Angga berhasil meraih tangan Ila. Angga menarik tangan Ila hingga jarak antara mereka berdua saling berdekatan. Ila hanya mencoba melepaskan genggamannya itu dari tangan Angga. Mata Ila hanya menghadap ke bawah karena tidak berani menatap wajah Angga.
"Mengapa kamu selalu saja menghindar, aku kan sudah berusaha ingin menjelaskan kepadamu namun kamu selalu saja begini." (Dengan sedikit emosi Angga mengatakan itu namun dia tidak berniat melakukan hal itu)
Ila saat itu merasa sakit di hatinya, di lain sisi dia adalah temannya yang dulu baik padanya tetapi keluarganya telah menyebabkan ayahnya meninggal. Perasaan itu campur aduk di hati Ila. Saat Angga ingin menceritakan semuanya kepada Ila, dia tidak kuat menahan air matanya itu.
"Cukup cukup aku tidak mau mendengarnya darimu." (sambil sesenggukan, mata nya menghadap ke bawah dengan tangan yang masih dipegang oleh Angga)
"Sekarang aku mohon kepadamu, Tuan Angga lepaskan tanganku."
Tidak tega melihat Ila menangis begitu, Angga langsung memeluk erat Ila saat itu. Ila yang sudah merasa sedih badannya lemas tidak bisa lagi melepaskan pelukan erat itu.
"Sudah, aku tidak bermaksut membuatmu mengenang hal sedih Ila, maaf kan aku. Aku mohon berhentilah menangis."
"Mengapa, mengapa kamu lakukan ini kepadaku." (Sambil menangis Ila mengatakan itu)
"Aku membencimu Angga, kamu yang telah membunuh ayahku." (ucapan Ila sudah semakin melantur, Ila pun terjatuh pingsan di pelukan Angga)
Semua kejadian itu, membuat jiwa dan pikiran Ila tidak karuan hingga membuatnya jatuh pingsan.
Sudah larut malam, melihat itu semua Angga panik karena sudah larut malam Angga memutuskan membawa Ila ke rumahnya saja. Angga panik dan mengendarai mobilnya dengan kencang.
Tibanya di rumah. Angga membaringkan Ila di kamarnya. Angga lalu memanggil Bibi.
"Bi..bantu aku." Ucap Angga
Bibi itu membantu mengganti baju Ila yang saat itu sudah tidak nyaman sepertinya untuk dipakai akhirnya bibi menggantikan bajunya sedangkan Angga berada di luar.
Selesai menggantikan baju, Angga duduk di sebelah Ila dan mengelus kepala Ila. Angga sangat sedih dengan keadaan Ila saat itu.
BERSAMBUNG.
__ADS_1