
Semenjak malam itu, kepercayaan Ila terhadap Angga telah hilang. Sudah 7 hari Ila tidak masuk kerja dan dirinya masih sangat sedih karena kejadian itu.
Ila telah menceritakan semua apa yang terjadi dari awal kepada ibu. Ibunya pun sangat prihatin dan bisa merasakan kesedihan putrinya saat itu. Hingga Ila memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Dia ingin menjauh dari orang-orang di masa lalunya yang selama ini membuat dirinya merasakan pedih dan sesak setiap kali mengingatnya.
"Mungkin ini sudah waktunya untuk aku pergi." kata Ila
Ibu Ila selalu mendukung atas segala keputusan yang putrinya ambil. Ibu memberi nasehat agar Ila bisa memutuskan yang terbaik untuk dirinya dan tidak akan menyesal di kemudian hari.
"Lakukan apa yang membuatmu bahagia anakku." kata Ibu (sebuah kalimat nasehat dari seorang ibu).
Nasehat itu selalu terlintas di benaknya, dia memikirkan secara matang-matang apa yang harus ia perbuat setelah ini.
KEESOKAN HARINYA.
Ila bersiap diri, kini dirinya akan tampil lebih kuat dan tegar daripada sebelumnya. Dia akan menunjukkan dirinya yang berbeda meskipun karakter dirinya tidak seperti itu. Di balik wajahnya yang sangar, dirinya masih tetap Ila yang sama.
Hari itu Ila pergi ke kantor. Semua orang menatap dirinya. Semula Ila yang memang mempunyai paras yang cantik, kini dia tampil lebih modis sehingga aura kecantikannya terpancar.
Ila menunjukkan sisinya yang lebih kuat. Dia telah menyusun rencana tanpa satu orang pun yang mengetahuinya.
"Aku tidak sepolos dulu, aku tidak semudah itu percaya dengan kalian. Di dunia ini hanya aku, ibu dan adikku saja yang aku percayai. Sudah cukup beberapa kali aku merasakan pedihnya ditusuk oleh orang orang di dekatku. Kini tak akan lagi, setiap perbuatan yang kalian lakukan pasti ada balasannya." ucap Ila
Ila seperti biasa menuju ruangannya dan bermaksud untuk menemui Angga selaku direktur perusahaan.
"Selamat pagi, bapak." ucap Ila
Angga melihat dari bawah hingga atas yang ternyata itu adalah Ila. Dia sangat tercengang melihat penampilan dia saat itu.
"Permisi bapak..permisi..permisi." kata Ila
Angga seketika terkejut hingga dia terdiam, mulutnya terkunci. Tak ada satu kata pun yang terucap.
"Iya..iya ada apa?" kata Angga (kaget dan sudah mulai tersadar).
"Bapak tidak mendengar apa yang saya bicarakan tadi." ucap Ila
"Hmmm..hmmm."
__ADS_1
Saat itu Angga langsung berdiri dari tempat duduknya, dia akan membawa suasana disana menjadi lebih santai karena dirasa Ila sudah terlalu formal kepadanya.
Angga telah berpikir bahwa Ila sudah memaafkannya dan dia berencana akan segera bicara dengannya mengenai Mira. Namun apa yang dipikirkan Angga semua sangat berbanding terbalik.
"Ila Ila kamu bicara biasa saja denganku, kita kan sudah dekat dari dulu kamu tetap saja seperti ini." kata Angga dengan tersenyum.
Dalam hati Ila berkata
"Kamu yang telah menghancurkannya Angga, Ila ini bukan temanmu lagi."
"Baik bapak, kedatangan saya disini karena saya ingin mengatakan kalau saya kemarin 7 hari saya mengambil cuti. Terserah bapak mau menghukum saya atau memecat saya sekalipun saya akan menerimanya pak." kata Ila
Meraih tangan Ila tapi dia menghempasnya begitu saja dan mundur menjauhinya.
"Ada apa denganmu, kamu tidak perlu seperti ini denganku. Aku tahu aku salah, aku minta maaf dan aku mohon kepadamu untuk menerima permintaan maafku."
"Buat apa bapak minta maaf kepadaku, aku sudah tidak peduli dengan hal itu." kata Ila
Angga merasa heran dengan sikap Ila kali ini. Angga berpikir sebenarnya apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ini bukanlah Ila yang ia kenal. Sikap maupun penampilannya berubah 180 derajat dari sebelumnya.
"Apa saya bisa kembali bekerja bapak?" kata Ila
Angga yang sempat melamun karena kebingungan, akhirnya mempersilahkan Ila untuk berkerja di mejanya.
JAM MAKAN SIANG.
"Sepertinya ada yang mengikutiku." kata Ila dalam hati.
Ila menghiraukan semua itu, dia fokus ingin ke kantin dan makan siang disana.
Setelah tiba di kantin, Ila memesan makanan dan minuman disana. Tak lama kemudian, Jesi datang menghampirinya.
"Hai, bagaimana kabarmu? aku selalu menghubungi tetapi selalu tidak aktif. Apakah kamu sehat?" ucap Jesi
"Aku baik-baik saja." (ekspresi Ila benar-benar sangat flat dan cuek)
"Ada apa denganmu? apa ada masalah?" (melihat wajah Ila yang biasanya murah senyum, kini terlihat begitu dingin)
"Aku baik-baik saja." kata Ila yang sebelumnya sudah ia ucapkan.
Jesi masih tidak bisa berpikir mengapa sahabatnya itu bisa berubah begitu drastis. Jesi pun memandangi Ila dengan seksama. Hingga Ila merasa risih juga jika Jesi terus memandanginya.
__ADS_1
"Berhenti memandangiku seperti itu." kata Ila yang masih dengan ekspresi yang sama.
Tiba-tiba Angga datang menuju meja mereka yaitu Ila dan Jesi. Ila melihat ke arah bosnya itu.
"Mohon maaf semuanya, aku sudah kenyang. Aku izin pergi ya bos." kata Ila
Dia langsung pergi dari sana. Jesi dan Angga saling menatap kebingungan dengan sikap Ila.
"Ada apa dengan dia?" tanya Angga kepada Jesi
"Aku juga tidak tahu, apa dia hilang ingatan." kata Jesi
"Mana mungkin, ada-ada saja kamu ini." ucap Angga.
PULANG KANTOR.
Ila saat itu sudah beres-beres mejanya dan dia pun bersiap untuk pulang. Saat iti dia menuju parkiran, karena dia kini membawa sepeda motor sendiri.
Ketika berada di parkiran, dia bertemu dengan Jesi.
"Hai La, mau bareng sama aku."
"Tidak terima kasih, aku duluan ya." ucap Ila
Jesi pun melihat Ila membawa sepeda motornya sendiri. Dia terlihat sangat berbeda, kini dia lebih pemberani.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi denganmu Ila." kata Jesi dari kejauhan.
Dalam hatinya, Ila merasa tidak enak dengan Jesi sahabatnya itu. Ila merasa apakah sikapnya itu telah berlebihan kepadanya. Namun di sisi lain, dia harus memerankan dirinya seperti ini.
"Maafkan aku Jes, untuk sementara waktu aku seperti ini sampai tujuanku tercapai." ucap Ila (sambil mengendarai sepeda motor)
Tiba-tiba di jalan ada mobil yang menghadangnya. Itu adalah mobil Kak Bima.
Kak Bima keluar dari mobil itu dan menghampiri Ila yang saat itu masih berada di sepedanya.
"Akhirnya aku bisa menemuimu lagi Ila." kata Kak Bima.
Ternyata mereka berdua sudah membuat janji untuk bertemu. Mereka berdua pun pergi ke sebuah restoran di sekitar sana untuk membicarakan sesuatu yang penting.
"Kamu pergi dulu kak, aku akan naik sepeda motor ini dan membuntuti mu dari belakang." kata Ila
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)
Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏