Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 30 : RESTU IBU ILA


__ADS_3

RUMAH SAKIT..


Ila, adiknya, dan Angga pada situasi yang sangat panik. Ibu Ila yang sedang berada di ruang ICU sedang diperiksa oleh dokter dan Ila serta lainnya menunggu di luar. Ila saat itu mondar-mandir karena merasa khawatir kepada ibunya. Sedangkan Angga menenangkan adik Ila yang saat itu duduk sesegukan habis menangis.



Ila sedang melihat ruangan ICU itu, menunggu kabar dari dokter yang sedang memeriksa ibunya di dalam. Angga yang melihat Ila sedang berdiri menatap ruangan yang ada di depannya merasa kasihan dengan Ila dan dia memutuskan untuk menghampirinya.


"Aku tahu kamu khawatir." ucap Angga


Ila saat itu sempat meneteskan air mata dan langsung menyekanya ketika Angga datang. Ila hanya diam saja saat Angga berusaha untuk menghiburnya. Dia sampai tidak bisa fokus dengan perkataan Angga karena yang ia pikirkan hanyalah keselamatan dari ibunya.


Mereka menunggu berjam-jam di luar, Adik Ila saat itu ketiduran di pangkuan Ila sedangkan Angga masih setia menunggu bersama Ila.


"Kamu pulang saja." kata Ila kepada Angga


"Aku mau disini bersamamu, aku tidak mau sesuatu terjadi kepadamu." ucap Angga


"Kamu pulang saja, besok kan harus kerja. Untuk besok aku izin tidak masuk ya."


Angga meraih tangan Ila, ia mengelus tangan Ila. Ila sontak langsung perlahan melepas genggaman tangan Angga. Dia tidak ingin terbawa perasaan di situasi ini. Ila selalu mengingat bahwa dia benar-benar belum menerima Angga sampai bukti itu ada. Ila mencoba menghormati dia sebagai atasannya di kantor dan mencoba tidak terlalu jutek juga kepadanya. Sikap yang ditunjukkan Ila juga tidak seperti Ila yang dulu saat mereka masih kuliah bersama. Sikap Ila ini dingin dan masih seperti ada batas di antara keduanya ini. Angga sangat mengerti dan paham dengan sikap yang ditunjukkan Ila kepadanya. Angga masih bersyukur Ila masih memperbolehkan dia berada disampingnya meskipun sikapnya masih agak dingin kepadanya asalkan Ila tidak mengusir dia dari hidupnya itu tidak akan menjadi masalah buat Angga.


PINTU RUANG ICU TERBUKA..

__ADS_1


Melihat pintu terbuka, Ila berdiri dan menghampiri dokter disana.


"Bagaimana keadaan ibu? apakah ibu baik-baik saja?" tanya Ila kepada dokter itu.


"Ibumu baik-baik saja, untung saja kalian membawanya tepat waktu. Kalau tidak, nyawa ibumu mungkin bisa melayang." ucap dokter


Ila menghela nafas lega karena keadaan ibunya baik-baik saja dan dokter pun mengizinkan untuk melihatnya. Setelah dokter dan perawat lainnya pergi, adik Ila langsung menuju ruangan ibunya. Ila yang hendak pergi tiba-tiba tangannya dipegang dan langkahnya dihentikan oleh Angga. Angga saat itu sangat reflek memeluk Ila. Dia ikut senang dengan keadaan ibu Ila. Ila yang terbawa suasana tangannya juga ikut memeluk Angga.



Ila mencoba menjelaskan kepada Angga bahwa dia sangat berterima kasih kepadanya. Mungkin kalau jika tidak Angga, ibu Ila akan terlambat di bawa ke rumah sakit.


"Tatapanmu yang seperti ini, membuatku jatuh cinta kepadamu Ila." ucap Angga dalam hatinya


Mereka berdua saling menatap satu sama lain, hingga dari arah ruang ICU adik Ila memanggil. Mereka berdua pun menuju ke ruang Ibu. Ibu Ila saat itu masih terlihat lemah, hingga harus di rawat inap dulu disana.


Suasana saat itu sudah sangat larut malam, Ibu Ila sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Malam itu Ila ketiduran di sebelah tempat tidur ibunya sedangkan Angga dan adik Ila tidur di sofa. Hingga pagi menjelang, yang bangun pertama kali adalah Angga.


Angga menuju ke dekat tempat tidur ibu, dimana Angga berada di dekat Ila. Angga menatap wajah Ila yang sedang tidur, dia merasa kasian kepada Ila karena dia pasti lelah. Angga mengelus-elus kepala Ila dan sesekali menyibak rambut Ila yang menutupi wajahnya yang cantik itu. Ibu yang terbangun tidak sengaja melihat sikap Angga kepada Ila. Ibu sangat tahu kalau Angga mempunyai perasaan kepada Ila, namun Ila jika di tanya ibu mengenai perasaannya kepada Angga dia selalu mengganti topik lain. Sebenarnya ibu serba mengetahui isi hati anak-anaknya itu. Ila memang juga ada hati untuk Angga, tetapi ibu masih belum tahu mengapa dia masih belum menjalani hubungan yang lebih serius dengan Angga. Lalu ibu mengatakan hal ini kepada Angga.


"Tolong jaga anak ibu ya Angga." ucap Ibu


Angga yang mendengar itu kaget dan menjauhkan tangannya dari kepala Ila. Angga merasa terciduk oleh calon mertuanya itu.

__ADS_1


"Ma..ma..maaf ya bu, bukan maksut Angga seperti itu." ucap Angga karena merasa grogi dan tidak enak kepada ibu.


Ibu mengatakan panjang lebar kepada Angga, kalau dia sebenarnya mengetahui perasaannya kepada anaknya itu. Ibu meminta Angga untuk selalu menjaga anaknya. Semenjak ditinggal oleh ayahnya, ibu mengatakan kalau Ila sering melamun dan mukanya juga sering saja murung. Ila sangat membutuhkan sosok laki-laki yang dapat membimbingnya dan menyayangi dia seperti apa yang dia dapatkan dari sosok ayahnya dulu. Ibu sambil meneteskan air mata menceritakan itu semua. Angga yang mendengar cerita ibu juga ikut terenyuh hatinya. Sambil menatap Ila, dalam hatinya Angga berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi wanita yang sangat ia cintai. Angga juga akan selalu ada untuk keluarga Ila dalam keadaan apapun.


"Ibu, terima kasih sudah mempercayai Angga. Angga akan berusaha melakukan semampu Angga amanah yang ibu kasihkan kepada Angga." ucap Angga sambil memegang tangan Ibu Ila.


Setelah melakukan perbincangan yang cukup lama antara ibu dan Angga hingga Angga selesai menyuapi ibu sarapan pagi. Tiba-tiba Ila mulai terbangun dari tidurnya.



Ila mengucek matanya, melihat keadaan disana semua sudah bangun kecuali adik kecilnya itu.


"Ibu sudah bangun, mengapa aku tidak dibangunkan. Maafkan aku ibu, ibu lapar ya?" kata Ila kepada Ibunya yang saat itu masih terbaring.


"Ibu tidak apa-apa, ibu sudah makan. Angga yang menyuapi ibu." ucap Ibu sambil tersenyum.


Ila mengucapkan terima kasih kepada Angga karena sudah menyuapi ibu. Lalu Ila memegang tangan ibunya dan meletakkan pipinya ke tangan sang ibu. Ila mengatakan kekhawatirannya dan tidak sanggup apabila harus ditinggal ibu saat itu.


"Ibu tidak apa-apa, sudah jangan katakan apa-apa." ucap Ibu


Ila menyeka air mata kebahagiaan karena ibunya sudah baik-baik saja. Lalu Ila menoleh ke arah Angga dan bertanya apakah Angga tidak pergi ke kantor. Angga hari itu juga ikut izin tidak masuk ke kantor karena dia tidak tega jika harus meninggalkan Ila sendirian. Ila mau bilang apa juga bingung, Angga adalah bos disana jadi terserah dia mau ke kantor atau tidak. Ila bukan siapa-siapa dan tidak mempunyai wewenang untuk melarangnya. Ila menjadi merasa tidak enak jika harus merepotkan seseorang dengan keadaan dia.


Bagaimana kelanjutan ceritanya, stay tune terus ya :)

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2