Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 54 : KEJUTAN 2


__ADS_3

Pagi hari ini, Jesi dan Ila siap untuk pergi berkerja. Mereka berdua berangkat masing-masing karena arah jalan mereka berbeda.


Sesampainya di kantor Santoso Group, semua mata tertuju pada Ila. Dia kebingungan dengan sikap pegawai disana yang terus memandanginya.


"Sebenarnya ada apa ini." ucap Ila dalam hatinya (sambil menundukkan kepala).


Ila pun menuju ruangannya, kemudian dia dikagetkan dengan suara confetti. Itu dia kejutan dari Kak Bima.


"Surprise..." teriak mereka (beberapa pegawai ada disana).



"Ada apa ini?." (dari dalam benak hati Ila bertanya-tanya)


"Apakah ada yang ulang tahun." lanjut Ila.


Kemudian datanglah sosok lelaki dengan penampilan yang rapi dan tampan. Benar itu dia Kak Bima dengan membawa rangkaian bunga di tangannya saat itu.


Kak Bima mulai mendekat ke arah Ila. Dia seperti ingin mengungkapkan sesuatu kepada Ila.


"Apa lagi ini tuhan." ucap Ila dalam hatinya.


Kak Bima telah ada di hadapan Ila, dia mencoba meraih satu tangan Ila dan mengelus lembut tangannya.


Ekspresi Ila kebingungan saat itu hingga dia tidak bisa berkata apa-apa.


"Ila.." kata Kak Bima dengan tatapan yang serius dia memandangi Ila.


"Iya Kak." jawab Ila dengan rasa takut karena Kak Bima memandanginya dengan tatapan seperti itu.


"Aku tahu, mungkin ini tidaklah hal yang baru lagi untukmu. Kamu tahu aku menyukaimu sejak kita masih duduk di bangku kuliah. Aku dulu pernah menyatakan perasaanku kepadamu dan kini hal itu akan aku ulangi kembali." kata Kak Bima.



Memang benar hari itu Kak Bima menyatakan kembali perasaannya kepada Ila, dia ternyata selama ini masih menyukai Ila.


"Apakah kamu mau?" tanya Kak Bima


Ila terdiam membisu, mulutnya saat itu tak bisa mengatakan satu kata apapun karena dia sampai hari itu tidak memiliki perasaan apapun kepada Kak Bima. Ila menganggap Kak Bima hanya sekedar teman tidak lebih. Ila sedang memikirkan bagaimana cara menolak Kak Bima tanpa harus menyakitinya untuk yang kedua kali.


Sedangkan di lain sisi, disana ada beberapa pegawai yang berteriak agar Ila menerima cinta dari bosnya itu. Hal itu semakin membuat Ila bingung. Dia tidak ingin mempermalukan Kak Bima di mata para pegawainya saat itu. Akhirnya dia meminta untuk bicara berdua saja dengan Kak Bima.


"Aku boleh meminta sesuatu?" tanya Ila

__ADS_1


"Kamu minta apa?" ucap Kak Bima


"Bisa tidak kalau kita bicara berdua saja?" kata Ila


Kak Bima mengabulkan permintaan Ila itu. Dia menyuruh pegawainya untuk bubar dan kembali ke tempat kerjanya masing-masing. Ruangan kini hanya terisi Kak Bima dengan Ila saja saat itu.


"Semua orang sudah pergi. Apa jawaban kamu untukku?" tanya Kak Bima.


"E..e..ehmm." (Ila masih bingung harus memulai percakapan dari mana)


Kak Bima menaruh bunga itu di meja dan memegang kedua tangan Ila.


"Jika kamu belum siap untuk jawab, aku akan selalu menunggu. Aku tidak memaksamu menjawab sekarang." kata Kak Bima


Ila menjadi tidak enak kepada Kak Bima.


"Tapi Kak ..." ucap Ila (tangan Kak Bima menghentikan mulut Ila yang hendak bicara).


Kak Bima memeluk Ila, dia mengelus rambutnya dan mengatakan kalau dia akan tetap bersabar menunggu jawaban dari Ila meskipun tidak hari ini. Selain itu, dia menegaskan kalau dia akan selalu menunggunya sampai kapan pun.


Tiba-tiba pintu terbuka di saat mereka sedang berpelukan kala itu.



"Apa maksudmu?" tanya Kak Bima dengan nada tinggi kepada Angga.


Angga pun memberikan sebuah map dengan melemparkan ke depan wajah Kak Bima. Saat itu tangan Angga masih menggenggam Ila yang ada di belakangnya. Dia lakukan itu karena tidak ingin Ila pergi darinya.


"Kamu baca dan kamu ambil investor semua yang kamu mau. Sekarang Ila akan kembali kepadaku dan bekerja kembali denganku." ucap Angga.


"Ti..tidak bisa begitu, perusahaanmu akan rugi besar karena itu." kata Kak Bima (rasa takut dan berusaha menggertak Angga)


"Kamu coba ambil semuanya, karena aku yakin mereka semua pasti akan kembali denganku." ucap Angga dengan sangat percaya diri.


"Kamu yakin dengan itu, para investor ini adalah kolegaku. Aku akan dengan mudah menyuruh mereka untuk berhenti berinvestasi di perusahaanmu." ucap Kak Bima.


Angga hanya memberikan ekspresi seperti masa bodoh kepada Kak Bima. Angga pun sangat yakin kalau para investor kali ini tidak akan mudah untuk meninggalkan perusahaannya.


"Baiklah kalau begitu."


(mengambil ponsel di sakunya dan hendak menelepin)


"Siapa yang hendak kamu hubungi? Mira ya?" kata Angga dengan senyum kecut.

__ADS_1


"Aku sudah tahu semua kebusukanmu dengan Mira." lanjut Angga.


Ila yang ada di belakang Angga seketika melangkah dan berdiri di hadapan mereka berdua saat itu.


"Kebusukan apa yang kamu maksud?" tanya Ila kepada Angga.


"Kebusukan karena telah merencanakan ini semuanya." ungkap Angga


"Rencana apa?" tanya Ila yang masih tidak mengerti dengan ucapan Angga.


Angga pun menceritakan semuanya kepada Ila di depan Kak Bima, kalau ternyata yang merencanakan kejadian ini semua adalah Mira dengan Kak Bima. Mereka berencana agar Ila dan Angga berjauhan satu sama lain. Oleh karena itu, mereka merencanakan hal itu semuanya.


"Apa.. jadi semua ini hanya settingan mereka." ucap Ila


"Iya, benar sekali." kata Angga sambil tersenyum.


Ila pun mengalihkan pandangannya kepada Kak Bima saat itu.


"Aku tidak menyangka Kak Bima bisa setega itu, ini lebih kejam dari apa yang aku bayangkan. Bisa-bisanya kalian merencanakan ini semua." kata Ila


"Aku bisa jelasin ini semua." kata Kak Bima sambil ingin meraih tangan Ila tetapi ia menghempasnya.


"Mulai sekarang aku berhenti bekerja dari sini. Aku tidak mau mempunyai atasan yang pembohong." kata Ila


Ila pun pergi dari sana, dia membersihkan semua barang-barangnya dari sana dan dia pun meninggalkan tempat itu.


"Sekarang kamu bisa rasakan, buah dari perbuatanmu. Cinta tidak dapat, malah kamu dapat kebencian." kata Angga kepada Kak Bima.


Angga pun ikut keluar menjemput Ila.


Kak Bima seketika langsung memukul meja, dia meluapkan amarahnya saat itu. Dia tidak menyangka kalau rencananya akan gagal di saat seperti ini.


"Ini semua gara-gara kamu." kata Kak Bima (kamu ditujukan kepada Angga).


"Sampai kapanpun Ila akan menjadi milikku, akan aku singkirkan kamu secepatnya dari hidupku maupun hidup Ila." lanjut Kak Bima


Kak Bima masih stress dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Dia membanting semua barang-barang yang ada disana. Ruangannya kini seperti kapal pecah.


BERSAMBUNG.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)


Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2