Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 92 : KITA PUTUS


__ADS_3

Hari ini Angga dan Ila di sibukkan dengan persiapan untuk pernikahan mereka. Meskipun masih beberapa bulan lagi, Ila dan Angga mulai menyicil untuk mempersiapkannya.


Setelah kebalikan Alex yang kini mulai menetap di Indonesia kembali karena ia tak ingin jauh dari kekasihnya yaitu Jesi. Alex yang menggantikan Angga jika Angga sedang tidak ada di kantor.


"Apa kamu mau ke kantor?" tanya Ila


"Iya, kamu mau ikut?"


"Nggak, aku ada urusan ke restoran dulu." ucap Ila


Akhirnya mereka berdua berpisah karena urusan masing-masing.


...****************...


Sesampainya di restoran, karyawan Ila menghampirinya.


"Bu, ada yang cari ibu."


"Siapa?"


"Saya tidak tahu bu, sepertinya dia orang penting bu." jawab karyawan itu.


"Baiklah, aku akan kesana." ucap Ila


Ila menghampiri orang yang dimaksud oleh karyawannya itu.


Tampak itu adalah seorang laki-laki, memakai jas rapi sepatu hitam dan sangat gagah.


"Permisi pak." ucap Ila


"Oh iya, dengan Bu Ila ya."


Ila menanyakan alasan kedatangan dia ke restorannya.


Lelaki itu menawarkan kerja sama dengan restoran milik Ila. Dia ingin sekali melakukan itu karena keuntungan yang akan didapat juga akan besar jika Ila ingin bekerja sama dengan perusahaan miliki lelaki itu. Lelaki itu bernama Bapak Devan.


"Bagaimana Bu Ila?"


Setelah dipikir-pikir Ila tak tertarik dengan ajakan Pak Devan itu karena menurut dia sangat beresiko.


"Begini pak, mohon maaf pak. Saya sangat senang sekali Bapak mau bekerja sama dengan restoran milik kami. Tetapi jujur saya masih belum tertarik dengan ajakan dari Bapak. Mohon maaf sekali Pak."


"Ah begitu, tidak apa-apa Bu Ila, Kalau begitu hubungi saja kalau ibu berminat bekerja sama dengan kami." kata Pak Devan.


"Bagaimana pun caranya aku harus berhasil." ucap Devan dalam hatinya.


Mereka berdua mengakhiri percakapan itu dan Ila kembali menuju belakang untuk mengecek pegawainya.


...****************...


Matahari mulai terbenam, Angga dan Alex pulang ke rumah. Kebetulan saat itu yang membukan pintu adalah mama Angga


"Sudah pulang kalian, tak seperti biasanya pulangnya kok lebih cepat."


"Biasa tan, pekerjaan sudah beres semua jadi bisa pulang cepat deh."

__ADS_1


"Kalau begitu ayo makan malam, itu sudah mama siapin."


Alex dan Angga masuk ke kamar masing-masing, sebelum makan malam mereka mau mandi dan bersih-bersih terlebih dahulu.


Setelah selesai semua, Angga dan Alex turun untuk makan malam bersama


"Wah enak nih." ucap Alex


"Iya, ini tante masak makanan kesukaan Angga."


"Beruntung banget punya ibu kayak mamamu ya Ngga dimasakin enak-enak terus setiap hari." kata Alex


Angga hanya berekspresi datar tak ada senyum-senyumnya sama sekali.


"Angga." panggil Papa


"Iya pa." ucap Angga


"Papa mau tanya boleh?"


"Iya pa, silahkan."


Papa Angga bertanya mengenai sikap Angga yang berubah beberapa bulan ini. Dia sering melamun sendiri, karena papa sering melihatnya melamun sendiri di taman belakang. Sikapnya yang mulai tak sopan kepada mamanya membuat ia bingung dengan tingkah laku putranya.


"Sebenarnya kamu ini kenapa?" tanya Papa


Angga menjelaskan semua apa yang ia rasakan saat itu, ia juga mengungkapkan kalau ia telah mengetahui rahasia masa lalu papa dan mamanya.


"Aku tak sengaja mendengar semua percakapan kalian waktu itu di kamar."


"Anda kan yang merebut Papa dari ibu kandungku sendiri. Anda sahabat ibuku yang tega mengkhianatinya dengan menikahi suaminya." ucap Angga sambil menunjuk mamanya.


"Cukup Angga hentikan." kata papa


Mama Angga hanya bisa menangis dengan ucapan Angga kepadanya.


"Ada apa? anda kaget aku bisa tahu. Jangan pikir aku akan menerima anda." kata Angga kepada mamanya dengan ketus hingga tanpa pikir panjang papanya langsung menampar anaknya itu.


"Tampar aku terus pa, belain wanita ini."


"Angga.." teriak papa


Angga pun meninggalkan ruang makan dan pergi dari sana.


Saat ia membuka pintu rumahnya diluar sudah ada dua wanita yaitu Jesi dan Ila


"Angga." kata Jesi


Wajah Angga tampak sangat marah dan menyimpan banyak amarah. Ia pun pergi tanpa menyapa dua wanita termasuk kekasihnya sendiri.


"Angga ada apa?" ucap Ila yang coba mengejar Angga yang tak tahu kemana ia akan pergi.


Ila terus saja meneriakinya tetapi ia tetap saja berjalan begitu cepat hingga membuat hak heels Ila copot membuat Ila terjatuh.


"Aduhh.." teriak Ila

__ADS_1


Angga mendengar teriakan Ila dan ia pun balik badan menghampiri Ila lalu membantunya.


"Terima kasih." ucap Ila karena Angga membantunya untuk berdiri.


Tanpa banyak bicara Angga kembali pergi begitu saja meninggalkan Ila.


"Angga tunggu.., kamu ada apa sih." teriak Ila berkali-kali.


"Berhenti ngikutin aku."


Dengan terus mengikuti Angga akhirnya Ila bisa memeluk Angga dari belakang.


"Berhenti aku bilang. Ada apa denganmu." kata Ila


Angga menghiraukan perkataan Ila dan sekuat tenaga melepas tangan Ila yang melingkar di perutnya. Angga melangkahkan kakinya kembali dan Ila hanya terdiam capek yang terus mengejar Angga.


"Kamu terus berjalan kita putus." teriak Ila


Ila pun tak sanggup lagi meladeni keras kepalanya Angga.


Di saat Ila teriak kata putus, langkah Angga seketika terhenti. Ia mulai berpikir lagi.


"Mending aku pulang, daripada meladeni dia terus. Aku bilang putus bukannya kembali dia terus aja. Sudah aku sabarin aku tanya kenapa dia diam saja." kata Ila yang sedang berjalan


Tiba-tiba dari arah belakang, ada yang menarik tangan Ila. Itu adalah beberapa preman yang ingin mengganggu Ila.


"Mau kemana cantik." ucap salah satu preman


"Apa yang kalian mau, lepaskan tanganku. Sakit." ucap Ila


Preman itu terus saja mengganggu Ila hingga Ila tak berdaya. Namun di waktu yang tepat, Angga datang untuk menyelamatkan Ila.


"Lepaskan dia." teriak Angga


Perkelahian pun terjadi antara Angga dan preman-preman itu, hingga akhirnya Angga berhasil mengusir preman itu untuk pergi dari sana.


"Kamu tidak apa-apa? tanya Angga


"Tidak apa-apa. Terima kasih." ucap Ila dengan cuek lalu pergi meninggalkan Angga


"Tunggu" ucap Angga sambil memegang tangan Ila


Ila merasa kesakitan saat tangannya dipegang oleh Angga karena ulah preman tadi. Angga mengetahuinya dan mengajak Ila untuk segera diobati.


"Tidak perlu, ini hanya sakit biasa." kata Ila


"Mana bisa, ayo ikut aku." ucap Angga


"Aku bilang ini cuma sakit biasa nanti atau besok juga sembuh. Jangan lebay deh." ucap Ila


"Ayo ikut aku saja."


"Apa aku harus terus mengikuti perkataanmu, kamu saja tak mau ikutin perkataanku. Sudahlah jangan paksa aku. Kamu terusin aja perjalananmu itu, tidak usah peduliin aku. Kita kan sudah pu to the tus."


Melihat Ila yang sedang marah padanya membuat Angga harus menggendong Ila agar dia mau ikut dengannya dan mengobati tangannya itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2