Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 24 : MIRA DATANG


__ADS_3

Menuju dapur, Angga memerintahkan OB untuk membuatkannya teh hangat. Selesai itu dia memberikan teh itu kepada Ila yang saat itu sedang duduk di ruangannya dengan tangan dilipat di depan diatas meja sambil posisi kepala menunduk.


"Ila kamu minum dulu." ucap Angga sambil memberikan minuman itu


Ila meminumnya dan badan Ila sudah mulai lebih enak.


"Sekarang tugasku apa?" tanya Ila kepada Angga.


"Kamu istirahat saja, jangan bingung memikirkan tugas." jawab Angga


"Aku tidak mau memakan gaji buta, sekarang apa yang harus aku kerjakan. Disini niat ku untuk bekerja bukan untuk istirahat." ucap Ila dengan nada tegas (Ila tidak ingin terlihat lemah dan lemas saat itu padahal tubuhnya terasa masih sangat lemas sekali, tetapi jika dia memperlihatkan itu semua, Angga tidak akan memberinya pekerjaan)


Tanpa banyak bicara, Angga menuruti perkataan Ila tadi. Angga menuju ruangannya dan memberi Ila beberapa berkas untuk ia kerjakan.



Sebenarnya Angga masih tidak tega kepada Ila, tetapi mau bagaimana lagi Ila sangat keras kepala.Suasana menjadi hening dan tenang. Ila dengan kesibukannya sedang mengerjakan beberapa tugas yang Angga berikan kepadanya. Sedangkan Angga juga sibuk mengerjakan tugas kantornya.


Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu ruangan dan Ila langsung membukanya. Betapa dia kaget karena wajahnya sudah tidak asing menurutnya, ternyata dia adalah Mira temannya dulu saat masih di bangku perkuliahan.


"Silahkan." ucap Ila dengan sopan


"Kamu Ila ya?" tanya Mira dengan membuka kacamata hitamnya.


"Iya, apa kabar denganmu, Mir?" tanya Mira


Dengan sombong, sambil berjalan menuju ruangan Angga Mira mengatakan kalau dia sangat baik-baik saja terlebih lagi dia mempunyai calon tunangan seperti Angga.


Sontak Ila kaget dengan itu, ternyata Mira bisa juga mendapatkan Angga padahal dia dulu tidak suka sama Ila karena dia ingin memiliki Angga tapi kini dia mendapatkannya. Ila pun sangat senang dengan hal itu, dengan ini mungkin Mira sudah tidak lagi marah atau akan berteman lagi dengan Ila.


...----------------...


Di ruangan Angga


Mira menghampiri Angga di ruangannya dan membawakan makanan untuknya.


"Ini aku bawakan sesuatu untukmu." ucap Mira kepada Angga."

__ADS_1


Angga menerima pemberian dari Mira. Mereka berdua berada di ruangan yang sama sedangkan Ila di ruangan yang terpisah dengan mereka berdua. Tak lama kemudian Mira ingin menanyakan hal penting kepada Angga mengenai Ila


"Ila menjadi sekretarismu disini? sejak kapan?"


"Oh Ila, iya dia baru saja tadi aku angkat menjadi sekretaris pribadiku."


Mira merasa khawatir dengan keberadaan Ila disini karena dia tidak mau kalau lelaki yang sudah ia miliki saat itu direbut oleh wanita yang dulu pernah menjadi temannya saat kuliah.


"Bagaimana pun caranya aku harus menyingkirkan dia" ucap Mira dalam lubuk hatinya.


Angga sedang sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Mira menuju meja kerja Ila.


"Kamu lagi sibuk." tanya Mira


"Tidak, Mir." jawab Ila


"Apa? kamu panggil aku apa? Mira. Kamu panggil aku nyonya Mira karena sebentar lagi aku jadi istri dari bos mu itu. Selalu kamu ingat ya ini di kantor, kamu seharusnya tahu posisimu dimana, jangan sekali-kali kamu mencampurkan urusan pribadi ke dalam pekerjaanmu apalagi kamu coba-coba mendekat kepada seseorang yang ada di samping ini" (tangannya mengarah pada ruang Angga bekerja)


Ila hanya menundukkan kepala menandakan kalau dia mengerti dan paham apa yang dikatakan Mira.


...----------------...


Siang nya, Jesi mengajak sahabatnya Ila untuk makan di kantin kantor. Mereka berdua saling bercengkrama, namun saat itu wajah Ila terlihat melamun dan di kageti oleh Jesi.


"Hayoo, ada apa? mengapa wajahmu seperti itu, apa ada masalah dengan pekerjaanmu? atau kamu tidak nyaman ya?."


"Mau bagaimana lagi, bos sudah memerintahkanku menjadi sekretaris." ucap Ila


"Kalau kamu tidak nyaman, kamu bilang saja."


"Tidak apa-apa, makasih sudah mengkhawatirkanku. Kalau dipikir juga jadi sekretaris gajinya juga besar." (sambil tersenyum bercanda kepada Jesi temannya itu).


"Oke baiklah."


Mereka berdua pun melanjutkan percakapan itu sambil menyantap makan siang di kantin kantor.


Tak lama kemudian Jesi melihat dari kejauhan Bos Angga sedang menggandeng seorang cewek dan Jesi coba bertanya kepada Ila.

__ADS_1


"Kamu tahu siapa yang menggandeng bos Angga?, mereka sepertinya mau kesini La."


"Mungkin calon istrinya." jawab Ila dengan santai seakan dia tidak mau tau tentang mereka berdua.


"Bos sudah punya calon istri." (dengan raut wajah terlihat kaget).


"Biasa saja, kenapa memangnya?"


"Tidak apa-apa, perasaanmu bagaimana?. tanya Jesi kepada Ila sambil bercanda


"Perasaan apa."


Mereka berdua saling meledek satu sama lain dan Jesi sempat bertanya kepada Ila apakah dia mengenal cewek yang menggandeng bos itu dan Ila mengatakan kalau itu Mira teman kuliahnya dulu. Ila menceritakan apa yang terjadi antara Mira dan dirinya dulu sejak ada di bangku kuliah kepada Jesi. Jesi yang mendengar itu semuanya merasa terkejut ternyata calon istri bos nya itu bukan perempuan baik-baik buktinya dia telah menyakiti Ila. Akhirnya Jesi memberikan saran kepada Ila untuk dia lebih berhati hati kepada Mira.


Dari arah kejauhan, Angga memperhatikan Ila yang sedang bersama Jesi. Namun hal itu terlihat oleh Jesi dan Jesi segera memberitahu Ila kalau Angga memperhatikan dia sejak tadi. Ila merasa risih dan akhirnya dia bergegas dengan cepat mengahabiskan makanannya dan menyuruh Jesi juga untuk cepat-cepat pergi dari sana.


...----------------...


Ruang kantor


Ila kembali ke ruangannya begitu pula juga Jesi. Saat Ila duduk di tempat kerja tak lama kemudian Angga datang bersama Mira dan mata Angga sempat melirik kepada Ila. Ila tak memperdulikan hal itu, dia tetap fokus pada pekerjaannya saat itu karena dia tidak ingin lagi mencari masalah kepada Mira dan tidak ingin Mira salah paham kepadanya.


Waktu berlalu begitu cepat...


Matahari mulai ingin tenggelam di arah barat, semua karyawan bersiap siap untuk pulang begitu juga dengan Ila yang bergegas membereskan meja kerjanya dan dengan cepat keluar dari ruangannya karena tak ingin bertemu dengan bos besarnya itu.


...----------------...


Luar kantor


Jesi dengan mengendarai sepeda motor dari kejauhan melihat Ila yang sedang merasa gelisah dan kebingungan lalu akhirnya dia mengahampirinya dan menanyakan kepadanya ada apa dengannya. Dimana seperti biasa Jesi menyuruh Ila untuk pulang bersamanya dan Ila pun mengangguk tetapi ketika dia ingin naik diboncengi oleh Jesi, terdengar suara seseorang yang memanggil nama Ila.


"Ila tunggu."


Ila menoleh dan dengan terpaksa dia turun dari boncengan itu. Angga langsung mengomeli Ila karena dia tidak berpamitan dulu kepadanya dan Angga pun menghukum perbuatan Ila tersebut dan menyuruh Jesi untuk pulang terlebih dahulu.


Lalu bagaimana kelanjutan antara Ila dan Angga..??

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2