Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 39 : BERTEMU KAKEK DI TKP


__ADS_3

Pagi sudah menjelang. Matahari mulai menyinari hari itu. Semalam mereka bertemu dengan seseorang yang telah membantunya. Mereka menginap di suatu gubuk kecil di sebuah kampung kecil di daerah pegunungan. Orang itu telah membantu Angga dan Ila saat mobil yang Angga kendarai mogok.


Pak Aris adalah nama yang telah membantu mereka. Angga pun menjelaskan maksutnya pergi ke kampung itu adalah untuk mencari Kakek Danu.


"Sebentar, Kakek Danu ini pernah merantau ke ibukota atau tidak? soalnya bapak saya namanya Danu juga." ucap Pak Aris


"Iya pak..iya pak." jawab Angga.


Angga pun menunjukkan foto kakek itu kepada Pak Aris. Ternyata memang benar itu adalah bapak dari Pak Aris yaitu Kakek Danu.



Angga pun bersama Ila mengajak Pak Aris untuk menemui Kakek Danu. Tempat tinggal Kakek Danu kira-kira dapat ditempuh setengah jam dengan memakai mobil. Hati Angga sangat senang dan bersemangat sekali saat ia akan bertemu Kakek Danu. Dia berharap Kakek Danu mengetahui kejadian kecelakaan itu.


Sesampainya di rumah Kakek Danu.


Mereka turun dari mobil, Pak Aris selaku anaknya mengetuk pintu rumah beliau. Tiba-tiba ada seorang laki-laki tua yang membukakan pintu itu, dia adalah Kakek Danu. Semua mencium tangan kakek sebagai tanda hormat mereka kepada orang yang lebih tua.


"Ada apa nak?" tanya kakek kepada anaknya Aris


"Ini pak, ada yang mau bertemu dengan bapak dari kota." jawab Pak Aris


Angga pun menjelaskan kepada Kakek Danu maksut kedatangan dia kesana. Dia ingin mencari tahu kejadian kecelakaan yang terjadi 1 tahun lalu sesuai dengan penglihatan Kakek Danu.


"Kalau boleh tahu, apa yang kakek lihat saat disana?" tanya Angga.


"Sebenarnya aku tidak mau membuka kenangan lama yang sangat mengerikan itu, tetapi jika kalian ingin tahu maka aku akan menceritakannya." jawab Kakek Danu.


Kakek Danu menceritakan kecelakaan itu sesuai dengan penglihatannya. Ternyata apa yang mereka dengar, sesuai dengan yang Angga tahu bahwa ada mobil hitam disana sebelum mobil kakaknya. Namun saat di cctv memang kebanyakan terekam mobil kakaknya.


"Aku tahu saat itu, sepeda itu terjatuh karena kondisi jalan saat itu licin." ucap kakek


"kemudian mobil hitam itu dari arah belakang, kemudian mobil putih dari arah berlawanan...mereka saling berpapasan." lanjut kakek.


braakk....(suara remuk sepeda)


Mobil itu melarikan diri, mobil satu lagi menghindari hingga menabrak pohon di arah seberangnya.


"Mobil yang kakek maksut yang mana?" kata Angga


"Mobil hitam." jawab kakek


Akhirnya Angga sudah menemukan siapa yang bersalah. Sudah jelas itu bukan salah kakaknya. Berarti apa yang ayah Angga katakan benar, kalau saat itu mereka mencoba menghindari suatu sepeda yang tergeletak di tengah jalan.


"Lalu mengapa kakek tidak mengatakan ini semua kepada polisi?" tanya Angga

__ADS_1


"Sebenarnya kakek ingin mengatakannya, saat itu kakek takut dan kebetulan sekali saat itu istri kakek masuk rumah sakit hingga kakek harus pulang kampung."


Kakek Danu juga menjelaskan kalau polisi juga tidak mencari tahu keberadaannya saat itu, hingga dia berpikir tidak mau ikut campur dan juga saat itu dia takut sekali karena itu pertama kali dia melihat kecelakaan di depan matanya dengan sangat jelas sekali. Selama polisi tidak mencari dia sebagai saksi, kakek tidak akan mau angkat bicara kecuali jika polisi menemuinya saat itu.



Ila mendengarkan semua penjelasan Kakek Danu, dia merasa terkejut mendengar pernyataannya. Dia merasa sedih setiap mendengar kecelakaan yang menimpa ayahnya. Ila juga merasa bersalah pada Angga juga karena dia telah menuduhnya.


"Kamu kenapa?" tanya Angga karena melihat Ila seperti tercengang


"Aku tidak apa-apa." ucap Ila mengalihkan pandangannya sambil mengusap air mata yang tidak sengaja jatuh dari bola matanya saat itu.


Angga pun mengucapkan terima kasih kepada Kakek Danu karena sudah menceritakan semuanya. Dia saat itu memohon kepada beliau.


"Kek, apakah kakek bisa memberi kesaksian apabila polisi memintanya?" tanya Angga


"Tentu saja nak, kakek tidak mau orang yang tidak salah terus disalahkan seperti itu." ucap kakek


Angga pun sangat senang mendengar ucapan Kakek Danu yang mau bersedia untuk dimintai kesaksian. Angga dan Ila pun berpamitan untuk pergi dari sana sedangkan Pak Aris saat itu masih ingin tinggal disana.


Angga dan Ila mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka berdua dan berjalan menuju mobilnya.


"Angga, ayo. Ngga..Angga." ucap Ila dengan nada yang terus naik karena Angga saat itu sedang melamunkan sesuatu.


Angga pun menancap gas mobilnya dan mereka pun perjalanan untuk pulang.


SELAMA DI PERJALANAN.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Angga


"Iya aku baik-baik saja." jawab Ila


Tak lama kemudian terdengar bunyi perut Ila. Angga mendengarnya langsung tertawa.


"Kamu lapar?" tanya Angga sambil tertawa



Ila hanya diam, karena dia merasa malu saat itu.


"Kamu tidak bilang, kalau gitu ayo kita mampir pergi makan dulu." lanjut Angga


Angga pun mencari restoran yang ada di sekitar sana. Mereka pun berhenti untuk makan disana.


RESTORAN TEMPAT MAKAN.

__ADS_1


"Kamu mau pesan apa?" tanya Angga


"Aku sama sepertimu." ucap Ila


Tiba-tiba ponsel Ila berdering dan ada yang meneleponnya.



"Halo Kak Bima, ada apa?"


"Kamu ada dimana?" tanya Kak Bima


Ila pun menjelaskan kalau dia bersama Angga ada keperluan ke luar kota jadi dia belum pulang mulai kemarin.


"Ini adikmu jatuh dari sepeda, ini kakinya terluka."


"Astaga kok bisa kak, bagaimana keadaan dia sekarang?"


"Ini dia sudah aman, aku dan ibu juga disini sedang menjaganya."


Ila sangat bersyukur ada Kak Bima disana. Ila pun mengucapkan terima kasih karena sudah membantu keluarganya. Ila pun menutup ponselnya.


"Mengapa wajahmu tadi sangat khawatir seperti itu?" tanya Angga


"Ini adik jatuh dari sepeda, tapi untung saja ada Kak Bima yang membantunya." ucap Ila


"Apa? Kak Bima? buat apa Kak Bima ke rumahmu?"


"Aku tidak tahu mengapa dia datang ke rumah hari ini."


Angga sangat kesal karena Kak Bima sepertinya ingin mencoba untuk mendekati Ila lagi. Angga tidak mau kalah, dia akan melakukan sesuatu.


"Ok..Ila sekarang aku mau bicara serius denganmu." ucap Angga sambil mengambil nafas pendek


"Keluargaku tidak bersalah atas kecelakaan yang menimpa ayahmu. Kita ini adalah sama-sama korban dan kamu juga sudah dengar sendiri saksi mata mengatakan seperti itu. "


Diam sejenak sambil menatap Ila yang sedikit cemas.


Bagaimana perasaanmu saat ini kepadaku apakah tetap sama atau tidak? aku sedang menginginkan jawabanmu dari ungkapan perasaanku kepadamu. Apakah aku boleh tahu?" lanjut Angga dengan wajah yang serius dan memohon kepada Ila.


BERSAMBUNG.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)


Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2