
Ila menghela nafas, karena ponselnya sudah ada di genggamannya. Akhirnya Ila melanjutkan pekerjaan kantornya.
Sepanjang hari Ila sudah sangat bekerja keras dan bertanggung jawab atas pekerjaannya itu. Hingga waktu menjelang sore ia pun sudah beberes mejanya. Ila hari itu tidak akan bekerja terlalu lama di kantor karena dia sudah berjanji kepada ibunya untuk pulang lebih cepat.
Dan saat Ila hendak keluar dari ruangannya dia melihat teman saat masa kuliahnya dulu dan bukan lain yang menjadi teman sekelasnya dulu yaitu Mira. Ila merasa heran dengan keberadaan Mira di kantornya, tetapi seketika dia mengingat semua yang telah mereka lalui saat kuliah dulu dimana Mira sangat menyukai Angga dan karena itu semua Mira sangat membenci Ila sampai sekarang.
"Buat apa aku mencampuri urusan mereka" ucap Ila pada dirinya sendiri
Tiba-tiba dari belakang badan Ila ada Jesi yang mengagetkan sahabatnya itu dan sontak Ila terkejut.
"Hayo, ada apa kamu di sini lagi lihat apa nih?" ucap Jesi (Jesi bingung melihat di sekeliling apa yang sebenarnya dilihat oleh Ila)
Ila pun menjelaskan kepada Jessi bahwa dia melihat teman kuliahnya dulu masuk ke dalam ruangan bos besar. Karena melihat wajah Ila yang begitu ingin tahunya, Jesi meledek Ila kalau dia masih perhatian dengan Angga dan Ila langsung menyela perkataan Jesi itu.
Mereka berdua saling bersitegang dengan pendapatnya masing-masing akhirnya Ila memilih pergi dari sana dan meninggalkan sahabatnya itu karena sudah merasa emosi dengan semua perkataan yang dibilang oleh Jesi yang jelas-jelas itu tidak menggambarkan perasaan dia kepada Angga.
Ila tidak akan memikirkan apapun yang berhubungan dengan Angga karena itu bukan urusannya, saat itu Ila memutuskan untuk pulang saja. Saat hendak melangkahkan kaki, ada yang memanggil dia dari kejauhan dan saat ia menoleh itu ternyata bos besar Angga. Ila mencoba menghindar darinya dan pergi dari sana tetapi saat Ila berlari kabur, Angga mengejarnya dan menarik tangannya. Lalu Angga menyeret tangan Ila hingga Ila merasa kesakitan.
"Lepaskan tanganku, apakah kamu tidak malu kamu melakukan ini di kantormu." ucap Ila mengoceh atas perbuatan Angga kepadanya
Angga fokus berjalan melangkah kakinya menuju ruangannya dengan diikuti Ila dibelakangnya sambil memegangi tangan Ila dan mereka pun menjadi pusat perhatian pegawai disana. Mereka pun seringkali sebagai bahan gosip karena seringkali melakukan tingkah yang aneh dan membuat penasaran orang lain sebenarnya hubungan antara bos besar Angga dan Ila yang cuma bawahannya sedekat apakah itu.
...----------------...
Sesampainya di ruangan Angga dia melepaskan genggamannya dari tangan Ila dan Ila tidak tinggal diam dia sudah muak dengan tingkah Angga kepadanya yang semakin lama seenaknya sendiri dan dia memutuskan untuk pergi dari sana. Saat langkah kakinya berjalan bos besar Angga mulai mengancamnya.
__ADS_1
"Mau coba pergi dari tanggung jawab, aku ini atasanmu." ucap Angga (seakan akan dia telah melupakan persahabatannya dulu dan ini bukan Angga seperti biasanya. Entah jiwa apa yang merasuk tubuh Angga).
Ila langsung terkaget dengan pernyataan Angga kepadanya. Ila mulai takut dan berpikir bahwa dia tidak boleh egois dan harus memikirkan ibu dan adiknya di rumah karena pekerjaan ini sangat menentukan kehidupannya saat itu. Dengan menghela nafas panjang Ila memutuskan siap menghadapi Angga dengan segala perlakuan yang akan dia berikan kepadanya. Ila mulai mendekati Angga kembali dan menunduk kepalanya sebagai tanda dia akan menuruti semua yang diperintahkan bos nya itu.
"Ternyata kamu kembali lagi, saya pikir kamu masih egois saja." ucap Angga
Ila menyimpan amarah dalam hatinya tapi tidak berani untuk mengungkapkannya saat itu. Ila mencoba bersabar menghadapinya dan berusaha untuk tidak menyela setiap perkataan bos besar dan hanya tunduk terdiam mendengar semua ocehannya.
"Kamu sekarang ikut aku, jangan coba membantah atasanmu ini." perintah Angga
Ila hanya mengangguk dan dia masih sangat marah dengan sikap Angga kepadanya.
Mereka berdua akhirnya berjalan bersama karena Angga selalu menggenggam tangan Ila dengan erat. Ila tidak bisa melakukan apa-apa karena setiap Ila membantah Angga selalu mengancam dan mengungkit hutang budi kepadanya. Saat itu Ila sangat malu karena dilihat ratusan mata kalau dia sedang berjalan bersama dengan bos besar pemilik perusahaan.
...----------------...
"Mengapa kamu diam saja, dari tadi aku saja yang bicara." ucap Angga
Ila tidak menjawab perkataan dari Angga dan memilih untuk diam
Angga menepikan mobilnya dan mencoba menegaskan kembali kepada Ila mengapa dia tidak mau berbicara sepatah kata pun dari mulutnya.
"Aku tanya sekali lagi sama kamu, bicaralah ini perintah bosmu." ucap Angga
Ila mulai menatap wajah Angga dan mereka berdua saling bertatapan saat itu. Terlihat wajah Ila yang pucat dan berlinangan air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Aku mohon padamu, aku ingin pulang." ucap Ila dengan nada yang lemas seperti menahan sakit dan dia merasa kedinginan
Angga melihat kondisi Ila yang kedinginan langsung memberikan jasnya agar dia bisa sedikit lebih hangat, tetapi tetap saja Ila masih kedinginan. Angga pun memegangi tangan Ila dan meniupnya sambil menggosoknya agar Ila merasa hangat. Keadaan Ila saat itu sangat lemas, jadi dia tidak bisa melakukan apa-apa selain diam saja. Angga pun jadi merasa bersalah atas yang ia lakukan kepada Ila.
"Apakah aku terlalu keras kepadanya, andai saja kamu tahu aku lakukan ini agar kamu bisa memaafkan aku dan kita bisa seperti dulu lagi." ucap Angga sambil menatap Ila yang sedang tertidur lemas
...----------------...
Angga sampai di rumah Ila, dia menggendong Ila menuju rumahnya dan saat itu yang membuka pintu adalah adik Ila. Angga membaringkan Ila di sofa ruang tamu dan adik Ila panik melihat keadaan kakaknya seperti itu.
"Kenapa kak Ila?"
"Dia merasa lemas tadi saat perjalanan."
"Ibu kemana?" tanya Angga
"Itu kak, ibu masih pergi ke warung beli beras." jawab adik Ila
"Mungkin sebentar lagi tiba." lanjut adik Ila
Adik Ila pun membuatkan minuman hangat untuk kakaknya dan Angga. Di sisi lain Angga merasa sedih, dia mengenggam tangan Ila dengan mengelus kepalanya.
"Mengapa kamu jadi seperti ini." ucap Angga (dia tidak tega dengan kondisi Ila yang berbaring lemas)
Tiba-tiba tangan Ila bergerak dan dia mulai sadar. Kebetulan saat itu minuman hangat yang dibuat adik Ila sudah datang. Angga membantu Ila bangun dan memintanya untuk minum dulu.
Mereka pun malam itu merasa dekat sekali Angga yang membantu Ila dari sakitnya dan Ila tanpa berkata kata apa-apa seperti tidak ada dendam yang tersulut di hatinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.