Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 64 : RAHASIA BIMA


__ADS_3

Hubungan antara Ila dan Kak Bima berjalan dengan mulus dan baik baik saja hingga saat ini. Keduanya saling mendukung satu sama lain baik itu dari segi karirnya. Ila sudah merasa percaya dengan ketulusan cinta dari Kak Bima, tetapi Kak Bima masih menyimpan rasa was-was kepada perasaan Ila yang sebenarnya dia tahu kalau ia masih mencoba untuk mencintai Kak Bima.


Namun tak banyak yang tahu ternyata Kak Bima untuk mendapatkan hati Ila dengan cara tipu muslihatnya. Hal ini terjadi sekitar 1 tahun yang lalu, dia merencanakan banyak hal dengan Mira.


1 TAHUN LALU


Saat itu antara Mira dan Kak Bima sedang berada di suatu cafe.


"Bagaimana rencanamu selanjutnya." ucap Kak Bima


"Aku tidak tahu, aku masih ingin Angga menjadi milikku dengan segala yang telah aku lakukan selama ini, lalu bagaimana denganmu."


"Aku ingin Angga menjauhi kehidupan Ila, sehingga aku bisa dengan masuk ke dalam kehidupan Ila."


Mira pun menceritakan semuanya kepada Kak Bima, dia menaruh harapan kepada Kak Bima kalau dia bisa membantu dirinya untuk mendapatkan Angga begitu juga sebaliknya jika ia sudah bersama Angga dia akan dengan berbesar hati membantu Kak Bima mendapatkan Ila dalam pelukannya.


Mira tak tahu apa yang dalam otak Kak Bima. Dia sebenarnya bermuka dua. Di luar dia akan membuat orang percaya kepadanya dengan ekspresinya yang meyakinkan. Namun di dalam hatinya, dia ingin menyingkirkan Mira. Mengingat kalau Mira pernah banyak menyakiti Ila. Mulai zaman di kuliah sampai dia datang di kehidupan Ila. Hal ini membuat kehidupan Ila sengsara.



"Aku percaya padamu, Kak Bima." ucap Mira


Mira tak mengetahui bahwa sebenarnya di hari itu Kak Bima secara tidak langsung mengkhianatinya. Ia menyuruh Mira di malam itu agar tetap berada di rumahnya agar Ila dan tim kepolisian dengan mudah menangkapnya.


"Kamu malam ini adakah acara untuk keluar rumah?" tanya Kak Bima (seolah seolah tidak mengetahui apa yang akan terjadi di malam ini)


"Aku hari ini akan bertemu dengan Angga, karena ada masalah pekerjaan yang harus aku obrolkan."


"Kamu akan bertemu dengannya dimana?"

__ADS_1


"Kita tak sendiri, nanti juga akan ada pegawai lainnya. Tempatnya di rumahku karena sekalian ada permasalahan yang harus kita bahas disana."


Hari menjelang malam, saatnya Kak Bima merencanakan aksinya. Kala itu Mira sedang menghidupkan laptop dan berada di sofa ruang tamu. Mira sedang menunggu kedatangan Angga ke rumahnya.


"Kemana Angga, dia kok belum datang juga." kata Mira sambil mengecek jam dinding yang tertempel di rumahnya.


Terdengar bel rumah Mira


"Sepertinya itu Angga." kata Mira


Di saat Mira membuka pintu rumahnya, dia merasa kaget dan shock. Disana terlihat Angga sudah tergeletak di bawah lantai. Mira melihat arah kanan dan kiri yang ada sekelilingnya, disana tampak tak ada orang satupun.


"Angga bangun bangun, ada apa denganmu." kata Mira sambil menepuk badan Angga."


Angga yang tak sadarkan diri langsung dibawa ke dalam rumah Mira. Ia letakkan badan Angga di sofa ruang tamu lalu Mira tepat ada di atas angga menyodorkan minyak angin di hidungnya agar dia cepat sadar. Namun tiba-tiba polisi menggerebek rumah Mira, ia pun terkejut dan ketakutan.


Kak Bima yang melihat peristiwa itu semua sangat senang karena rencana yang ia buat matang-matang akhirnya bisa terealisasikan.


"Tepat sekali." hati Kak Bima bersuara


Kak Bima pun melirik ekspresi Ila, ia seperti kesal sekali. Bagaimana bisa Angga berduaan dengan Mira di malam seperti ini. Kak Bima pun mengikuti pihak kepolisian dalam proses penangkapan dari Mira. Ia bak seorang pahlawan penyelamat dari Ila. Kak Bima lah yang menyarankan Ila agar ia mengatakan pada polisi kalau penangkapan Mira dilakukan di rumahnya saja. Selain itu, kebetulan juga Mira ada disana tepat pada malam penangkapan.


KANTOR POLISI


Kak Bima mengikuti sampai ke kantor polisi. Saat itu Mira ingin berbicara empat mata dengan Kak Bima dan polisi pun mengizinkannya untuk beberapa menit saja.



"Apa yang mau kamu katakan Mir?" tanya Kak Bima

__ADS_1


"Aku mohon padamu bebaskan aku dari sini. Minta tolong beri tahu ke Ila aku minta maaf dan aku akan melakukan apapun yang ia mau sekalipun aku akan ikhlaskan Angga bersama dia."


Kak Bima dalam hatinya tak akan semudah itu untuk mengatakan hal itu, karena jika Mira sudah mengikhlaskan Angga lalu bagaimana dengan Kak Bima. Ia tidak semudah itu menyerahkan Ila ke pelukan Angga.


Kak Bima hanya mengangguk ragu dan polisi pun menyuruh Mira untuk segera masuk ke jeruji besi. Kak Bima pun pergi dari sana. Ia mulai merencanakan misi selanjutnya.


"Mira sudah aku singkirkan, kali ini tinggal Angga yang selalu menghalangi jalanku untuk dekat dengan Ila." ucap Kak Bima


Kak Bima sangat berhati-hati dalam menjalankan rencananya ini, ia ingin rencananya berjalan dengan mulus sesuai dengan ekspetasi yang ia inginkan.


Diam-diam sudah tengah malam, Kak Bima menuju rumah Angga. Namun saat itu terlihat masih ada Ila disana. Ketika Ila pergi, Kak Bima menjalankan aksinya. Kak Bima memencet bel rumah Angga. Di saat Angga membukakan pintu rumahnya, Kak Bima terlihat lemas dan tiba-tiba pingsan di pelukan Angga.


"Kak kak kak bima." Angga terus memanggil namanya


Tidak perlu tinggal lama, Angga dan temannya membopong Kak Bima ke dalam. Saat itu teman Angga mengambilkan minyak untuk dihirup di hidung Kak Bima agar segera siuman. Hal tersebut dilakukannya dan akhirnya Kak Bima siuman.


Saat Kak Bima mulai siuman, ada kertas yang ia sodorkan kepada Angga. Angga pun kebingungan apa maksud dari Kak Bima. Dengan wajah yang setengah sadar, Kak Bima menyuruh Angga untuk membuka kertas itu.


Pada kertas itu terbaca kalau Kak Bima mengidap kanker stadium akhir. Seketika Angga langsung shock. Dia merasa iba kepada Kak Bima.


"A..aku mau Ila, kamu bisa itu kan?" ungkap Kak Bima dengan nada terbata-bata


Angga hanya terdiam sambil berpikir keras


"Anggap saja ini permintaan terakhirku kepadamu, aku mohon. Aku ingin di sisa hidupku bersama orang yang aku cintai." lanjut Kak Bima


Angga pun masih bimbang dengan perasaannya kala itu hingga dia pun memutuskan untuk mengalah karena dia merasa kasihan kepada Kak Bima. Dia tidak tega dengan kondisinya yang sedang sakit kali ini. Angga hanya berharap jika Kak Bima bisa bahagia di sisa hidupnya ini.


"Aku berserah padamu tuhan, jika Ila memang jodohku di dunia maupun akhirat ia akan datang kepadaku dengan sendirinya." ucap Angga dengan pasrah dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2