
Antara Kak Bima dan Ila sudah berada di restoran yang sama. Mereka berdua tampak membicarakan hal yang sangat penting. Tanpa mereka sadari Angga telah membuntuti mereka dari belakang. Disana terlihat Ila membicarakan hal serius kepada Kak Bima, namun Angga tidak mendengarnya begitu jelas saat itu. Terlihat mata Ila yang mencoba membendung air matanya.
"Sebenarnya apa yang Kak Bima katakan kepada Ila, hingga dia tanpa seperti itu." tanya Angga dalam benaknya.
"Seperti ada yang memperhatikan." kata Ila dengan melihat sekelilingnya.
"Ada apa?" tanya Kak Bima.
"Tidak apa-apa."
Karena sudah tidak ada yang dibahas lagi dengan Kak Bima, Ila pun bergegas untuk pulang.
Saat di perjalanan, Ila mengingat kembali perkataan dari Kak Bima. Sambil mengendarai sepeda motornya dia menyetir dengan sedikit melamun. Di saat ada kucing yang menyebrang jalan, seketika Ila mengerem mendadak hingga membuat Ila terjatuh dari sepeda. Suasana jalanan sangat sepi, hampir tak ada kendaraan yang lewat. Ila pun harus membopong dirinya sendiri, meskipun telapak tangannya sedang terluka. Dia memaksakan untuk menyetir motornya meskipun dia merasa sangat kesakitan.
TIBA DI RUMAH
"Tok..tok..tok..tok." (suara pintu rumah)
Adik Ila membukakan pintu dan melihat keadaan kakaknya yang sudah sangat lusuh.
"Ada apa denganmu?" tanya adik
Ila tak menjawab dan langsung masuk rumah begitu saja, duduk di sofa ruang tamu. Tubuhnya sangat lemas dan adik pun memanggil ibu yang saat itu sedang di dapur.
"Ada apa denganmu nak." sambil menyandarkan kepala anaknya di dekapannya.
Ibu menyuruh adik itu membuat minuman hangat untuk kakaknya itu.
"Sebenarnya ada apa denganmu nak? bagaimana kamu bisa seperti ini." sambil mengelus kepala Ila.
Ila saat itu sudah sangat lemas, dia tak mampu berkata-kata. Air matanya terus saja membasahi pipinya kala itu. Ibunya pun melihat kondisi anaknya saat itu merasa sangat kasihan.
KEESOKAN HARINYA.
Saat ibu membawakan sarapan pagi di kamarnya, tampak Ila yang saat itu sudah terbangun dengan tatapan yang kosong dan wajah yang sedih.
"Kamu sudah bangun nak. Ini ibu bawakan makan untukmu." kata Ibu
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Ila." (dalam hati ibu mengungkapkan perasaannya).
__ADS_1
Ila hanya terdiam membisu, saat ibu menyuapinya tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya. Padahal ibu sangat ingin tahu apa yang menyebabkan anaknya jadi seperti itu. Karena rasa penasarannya ibu langsung menanyakan hal itu selesai makan.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu?" tanya ibu
"Tidak begitu serius bu, kemarin hanya saja sewaktu pulang dari kerja tanpa sengaja aku hampir menabrak kucing kemudian aku banting setir lalu menabrak bagian trotoar jalan dan terjatuh jadi seperti ini."
"Lain kali hati-hati ya nak. Apakah kamu hari ini bekerja?" tanya ibu
Saat itu Ila hampir terlupa kalau hari itu hari dia bekerja. Ibunya melarangnya untuk dia bekerja, namun Ila memaksa agar dia tetap masuk kerja.
Dia pun siap untuk pergi ke kantor meskipun tangannya masih terluka.
"Semangat Ila demi misi mu." ucap Ila sambil menancap gas sepeda motornya.
SAMPAI DI KANTOR.
Ila menuju ruangannya dan beruntung saja saat itu bosnya Angga belum datang. Ila saat itu membuka laptopnya, dia sedang merencanakan sesuatu untuk mengungkapkan kejahatan dari Mira. Namun tiba-tiba di belakang Ila terlihat ada seseorang. Dia langsung menutup laptopnya dan menghadap ke arah belakang.
"Apa yang sedang kamu kerjakan?" tanya Angga
"Bukan apa-apa." ucap Ila sambil berdiri menghadap Ila sambil menyembunyikan laptop itu di belakangnya.
Tangan Angga mencoba untuk mengambil laptop milik Ila, tetapi Ila mencoba menghalanginya.
"Aku hanya ingin tahu apa yang kamu kerjakan di laptopmu." ucap Angga
"Aku sudah bilang bukan apa-apa, seharusnya bapak tidak seperti ini. Ini adalah privasi milik karyawanmu."
Angga menghentikan sikapnya yang ingin meraih laptop Ila. Ila sudah sangat kelelahan menghadapi Angga, hinga nafasnya tak terkendali.
"Aku mohon padamu hentikan." ucap Ila dengan dirinya kembali duduk.
Angga melihat nafas Ila yang terengah-engah langsung bergegas mengambilkan dia minum.
"Kamu minum dulu." ucap Angga
"Aku tidak mau."
"Kamu minum, ini perintah dari atasan."
Ila tetap saja tidak mau minuman dari Angga.
__ADS_1
"Aku tak mau dapat minum dari orang yang bermuka dua sepertimu." ucap Ila dengan suara kecil.
Ucapan Ila sedikit terdengar di telinga Angga.
"Apa yang kamu katakan." kata Angga
"Bukan apa-apa, aku tidak mau minuman darimu." ucap Ila.
Angga merasa geram dengan sikap Ila yang kekanak-kanakan menurutnya.
"Kamu seperti anak kecil saja Ila, tinggal minum saja tidak mau." ucap Angga
"Oke baiklah aku memang kekanak-kanakan. (meninggalkan Angga dan pergi dari sana).
Ila sangat kesal dengan ucapan Angga. Dia pun keluar dari ruangannya namun saat ia berjalan tangannya diraih oleh Angga. Angga mencengkeram tangan Ila, seperti yang biasa ia lakukan kepadanya.
"Mau kemana kamu? urusanmu denganku belum selesai." (menariknya kembali ke ruangan).
Ila terus berteriak agar Angga melepas genggamannya itu. Hingga mereka berdua di ruangan yang sama. Angga mengehempas tangan Ila dan disana Ila tampak menangis dan Angga melihat itu.
"Aku tidak melakukan hal yang sadis tetapi kamu sudah menangis seperti ini. Apa aku sekejam itu? hah? jawab pertanyaanku? sambil berteriak Angga mengucapkan itu di depan muka Ila.
Ila masih merintih kesakitan, dia menangis karena tangannya saat itu merasa sangat sakit sekali. Ila mendengar semua perkataan Angga namun dia tak menggubrisnya sama sekali. Dia kembali ke tempat duduknya dan Angga mencoba mengikutinya. Angga terus saja mencecarnya dengan pertanyaan dia yang belum Ila jawab sama sekali.
"Hentikan aku mohon." ucap Ila sambil berteriak dan menangis
Ila terus saja menangis saat itu dan pamit pulang kepada bosnya Angga.
Ila pun bergegas untuk pulang tanpa Angga mengizinkan dia ataupun tidak, dengan keadaan tangan yang semakin memar dia memaksakan diri untuk menyetir sepeda motor.
Hingga sampai di rumah, ibu melihat kedatangan anaknya. Ila merintih kesakitan dan menangis menangkat tangannya menandakan tangannya tidak sedang dalam keadaan baik.
"Ila ada apa dengan tanganmu nak, apakah sakit lagi."
"Ibu.." ucap Ila sambil menangis merintih kesakitan dengan tangannya.
Ibu pun mencoba mengompres tangan Ila itu.
Tiba-tiba dari luar datanglah Angga. Dia saat itu melihat keadaan Ila dengan wajah yang sembab dan air mata yang terus membasahi pipinya sedangkan ibu yang sedang mengompres tangan Ila.
"Angga, ada apa kesini?" tanya ibu
"Ila masih butuh istirahat, dia izin kerja dulu untuk hari ini ya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.