Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 58 : PELAKU BERSEMBUNYI


__ADS_3

Saat pagi hari, matahari mulai menyinari kamar Angga dia pun terbangun dan bersiap untuk pergi kerja. Saat dia hendak pergi kerja dan keluar rumah, dia melihat ada Mira di luar rumahnya. Tak lama kemudian dia pergi dan saat itu posisinya dia masih belum menemui Angga.


"Dia mau kemana." ucap Angga.



Mira pergi dari sana dan Angga pun mengikuti mobilnya.


"Sebenarnya dia mau kemana lagi." kata Angga (dengan mengendarai mobil)


Angga terus saja mengikuti mobil Mira dan dia menuju ke sebuah desa.


"Jalan ini sepertinya tidak asing lagi." ucap Angga.


Mira pun berhenti di sebuah rumah dan benar saja itu adalah rumah Kakek Danu.


"Ada apa dia kesini." kata Angga


Angga melihat Mira seperti memarahi Kakek Danu dan dia saat itu dia tidak mendengar apapun pembicaraannya. Dia pun turun dari mobilnya dan mendekat ke arah mereka.


Betapa kagetnya Angga saat itu, ternyata Mira adalah pelaku kecelakaan yang menimpa Ayah Ila. Angga tidak tinggal diam, dia pun menghampiri Mira.


"Oh jadi ternyata kamu." ucap Angga


"A..a..angga kamu ada disini." kata Mira (wajah yang sangat tegang dan ketakutan)


"Jangan libatkan Kakek Danu, aku yang menyuruhnya untuk bersaksi di depan polisi." kata Angga.


Mira sangat ketakutan dan dia pun hendak lari dari sana tetapi Angga memegang tangannya.


"Mau kemana kamu Mir, sekarang kamu ikut aku." (menarik tangan Mira)


Angga membawa Mira ke dalam mobilnya dan ingin membawa dia ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya itu.


"Kamu mau bawa aku kemana, aku tidak mau." kata Mira.



Disana sangat terlihat Angga memaksa Mira ikut dengannya dan mereka pun di dalam satu mobil. Angga mengendarai mobilnya dengan sangat cepat saat itu. Dia tidak ingin Mira lolos dari kejahatannya.


"Hentikan Angga, aku tidak mau di penjara." kata Mira

__ADS_1


"Bagaimana pun juga kamu harus bertanggung jawab Mir." ucap Angga


"Aku bilang hentikan, Sebelum kamu membawaku ke kantor polisi, aku tidak akan membiarkan Ila mu hidup. Aku akan menghubungi anak buahku untuk menghabisinya." kata Mira


Seketika mobil Angga mendadak berhenti.


"Jangan pernah kamu menyakiti Ila." kata Angga (terlihat sangat marah kepada Mira)


"Baiklah aku tidak akan menyakiti Ila." (menurunkan ponselnya)


"Aku mau kamu rahasiakan ini." lanjut Mira


"Apa kamu sudah gila ya, kamu telah membunuh ayah Ila dan kamu mau aku merahasiakannya." kata Angga.


"Aku sudah cukup sabar menghadapimu selama ini, aku tahu kamu telah bekerja sama dengan Kak Bima untuk memisahkanku dengan Ila. Aku juga tahu selama ini kamu diam-diam menyakiti Ila dari belakang. Sekarang tidak akan lagi, kamu akan aku bawa ke kantor polisi." lanjut Angga


"Aku serius dengan perkataanku, sekali kamu menancap gas aku tidak segan-segan menghubungi anak buahku untuk menghabisinya." ancap Mira.


Wajah Angga terlihat sangat marah dan emosi. Disaat Angga hendak menampar Mira apa yang ia katakan.


"Tampar saja aku, anak dari orang yang sudah membantumu selama ini. Ketika ayahmu sudah tak berdaya lagi, siapa yang membantumu dari awal untuk mengurus perusahaan." ucap Mira


Angga sangat mengerti kalau Ayah Mira adalah orang yang telah membantunya selama ini. Dia sudah Angga anggap sebagai orang tuanya sendiri. Dia telah membantu Angga selama ayahnya duduk di kursi roda. Angga pun mengingat masa-masa itu.


"Jika dia tahu tentang ini, dia akan sangat shock." lanjut Mira.


"Aaargghhhh." teriak Angga (sambil memukul kemudi mobilnya)


Mira saat itu tersenyum senang karena dia akan terus mengancam Angga agar dia tidak membawanya ke kantor polisi.


Angga sangat dilema saat itu. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dia berada di situasi yang sangat sulit.


"Tidak perlu mengeluh seperti itu, caranya mudah sekali. Kamu tinggal merahasiakan ini, Ila mu akan aman dan kamu tidak akan merasa bersalah pada ayahku. simpel kan." kata Mira.


Otak Angga berpikir sangat keras mengenai keputusan yang harus ia pilih. Beberapa saat kemudian Angga bernafas pendek dan sepakat dengan Mira.


"Aku akan menurutimu, kamu masukkan ponselmu jangan telepon anak buahmu dan jangan pernah kamu menyakiti Ila. Aku melakukan ini hanya itu Ila dan menghormati ayahmu." ucap Angga


"Baiklah sayang, kamu memilih pilihan yang tepat." kata Mira sambil tersenyum.


"Aku akan menuruti semua permainanmu kali ini Mira, tapi aku tidak semudah itu kamu kalahkan. Aku akan segera menyeretmu ke kantor polisi. kata Angga dalam hatinya.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Angga berdering.



Itu adalah Ila yang meneleponnya. Ila menanyakan kabar Angga karena dia tidak masuk kantor hari itu.


"Aku tidak apa-apa, aku akan segera ke kantor karena aku masih ada urusan." ucap Angga


"Angga tidak apa-apa." celetuk Mira (sengaja agar Ila tahu kalau Angga sedang bersamanya)


Ila mendengar suara perempuan itu.


"Kamu sedang dengan siapa?"


"Dengan calon istrinya." ucap Mira


Angga pun memarahi Mira dan menyuruhnya berhenti untuk bicara lagi. Sedangkan Ila tidak asing dengan suara itu, benar saja itu adalah Mira.


"Baiklah aku tutup, selamat bersenang-senang dengan Mira." ucap Ila (wajahnya seketika berubah, dia tidak bisa membohongi perasaannya kalau di saat itu sedang cemburu)


Angga mengetahui dari nada bicara Ila yang saat itu terdengar marah. Dia pun merasa bersalah kepadanya.


Setelah Angga menutup telepon dari Ila, dia memperingatkan Mira untuk tidak menyakiti Ila.


"Aku tidak akan menyakitinya, asalkan kamu menjaga rahasia ini dan menjauhi wanita itu. Untung saja aku tidak menyuruhmu untuk memecatnya. Aku masih baik bukan." kata Mira (dengan tersenyum licik)


"Meskipun kamu suruh aku tidak akan memecatnya." kata Angga dengan tegas.


"Baiklah, asal kamu tidak selingkuh di belakangku aku percaya kepadamu sayang." kata Mira (berbisik di telinga Angga)


Angga saat itu langsung menancapkan gas mobilnya, dia masih sangat geram dengan sikap Mira. Dia benar-benar wanita yang sangat kejam yang pernah Angga temui di dunia ini.


"Oh tuhan, mengapa kamu hadirkan wanita ini untuk hubunganku dengan Ila. Wanita tidak punya hati, sangat licik, dan munafik. Aku harus hati-hati dengannya." ucap Angga dalam hatinya sambil mengemudikan mobilnya.


"Tidak semudah itu kamu hancurkan aku, kamu harus tetap menjadi milikku. Jika kamu tidak menjadi milikku begitu juga Ila tidak akan pernah memilikimu juga." kata Mira dalam hatinya.


Angga pun fokus mengemudi dan otaknya masih berpikir agar dia bisa segera mengungkan kejahatan Mira tanpa harus ada yang tersakiti.


BERSAMBUNG.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)

__ADS_1


Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏


__ADS_2