Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 52 : KEBENARAN TERBONGKAR


__ADS_3

Ila pun membersihkan semua barang yang ada di tempat kerjanya saat itu. Wajah Angga terlihat terkejut dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Selesai membersihkan semuanya, Ila langsung keluar dari ruangannya. Disaat Ila pergi, Angga mengejarnya. Angga butuh penjelasan Ila mengapa dia sampai berhenti secara mendadak seperti ini.



Ila pergi dari kantor dengan menggunakan taksi. Dia pergi menuju ke kantor perusahaan Santoso Group. Tanpa Ila sadari, Angga mengikutinya dari belakang.


Saat Ila sudah sampai di kantor itu, Angga masih merasa ada yang aneh dengan Ila.


"Buat apa dia datang kesini." kata Angga


Dia turun dari mobil dan mencoba mengikuti langkah Ila yang entah mau kemana. Disana terlihat Ila masuk ke ruangan Kak Bima. Angga pun tidak langsung ikut masuk kesana. Dia melihat dari jendela yang mengarah pada ruangan itu.


"Apa yang Ila lakukan dengan Kak Bima. Apa kepentingannya datang kesini."


Percakapan mereka tidak bisa terdengar ataupun terbaca oleh Angga. Angga ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan, ia pun memutuskan untuk masuk kesana saja.


"Apa aku mengganggu kalian." kata Angga dengan teriak


Kedua mata itu, terkejut melihat kedatangan Angga. Kak Bima mencoba bersikap tenang dengan hal itu.


"Tentu saja tidak, Pak Angga." ucap Kak Bima dengan senyum palsu.


Angga mendekat ke mereka berdua.


"Lain kali, menuju ruanganku ketuk pintu dulu." kata Kak Bima dengan tatapan tajam.


Angga pun menatap tajam kembali Kak Bima.



Ila yang ada di belakang Kak Bima tidak berani untuk menampakkan dirinya di depan Angga. Angga mencoba melihat Ila di belakang Kak Bima tetapi Kak Bima selalu mencoba menghalangi Angga.


"Mau apa kamu datang kesini?" tanya Kak Bima.


"Aku hanya ingin bertemu dengan sekretarisku."


"Apa kamu bilang sekretarismu. Siapa yang kamu maksud?"


"Ila, siapa lagi kalau bukan Ila." kata Angga


"Ila sekarang adalah sekretarisku." ucap Kak Bima.


"Mana mungkin, dia masih tetap menjadi sekretarisku." ucap Angga


Untuk membuktikan perkataannya kepada Angga, dia menyuruh Ila untuk mendekat di sebelahnya.

__ADS_1


"Apakah kamu sekarang menjadi sekretarisku?" tanya Kak Bima kepada Ila


Ila tidak berani bicara, tatapan matanya menghadap ke bawah. Dia merespon pertanyaan Kak Bima dengan menganggukkan kepalanya.


"Itu kamu bisa lihat Pak Angga, Ila mengangguk yang menandakan dia adalah sekretarisku." ucap Kak Bima


Angga tidak percaya kalau Ila bisa melakukan ini kepadanya. Angga mencoba menarik tangan Ila, karena dia ingin bicara kepadanya. Namun saat hendak menarik tangannya, Kak Bima melepas tangan Angga dari Ila.


"Kamu tidak bisa membawanya begitu saja tanpa seiizinku Pak Angga." kata Kak Bima.


Wajah Angga tampak sangat marah, dia tidak bisa membendungnya lagi.


"Baiklah, ternyata ini yang membuatmu berhenti secara tiba-tiba dariku." kata Angga dengan berteriak di wajah Ila.


Ila hanya menundukkan kepalanya, dia tidak merespon semua perkataan Angga kepadanya.


"Aku masih tidak menyangka kamu bisa melakukan ini kepadaku." lanjut Angga kemudian dia meninggalkan ruangan itu.


Ila hendak mengejar, tetapi Kak Bima menghentikannya dengan meraih tangannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Kak Bima.


Dia tidak mengurungkan niatnya untuk mengejar Angga.


Kini Ila telah menjadi sekretaris dari Kak Bima. Angga masih tidak percaya dengan Ila yang pindah kerja dengan Kak Bima tanpa memberi alasan yang jelas atas kepergian dia dari Perusahaan Primadi.


Sudah hampir 2 bulan setelah berpindahnya Ila ke Perusahaan Santoso Group, Angga tidak ingin untuk mencari sekretaris baru pengganti Ila. Selama itu pula mereka tidak saling kontak satu sama lain. Angga masih memiliki rasa marah dan kecewa pada dirinya.


"Aku tidak boleh hanya diam seperti ini, aku harus mencari tahu sebenarnya, mengapa dia bisa berhenti kerja dari sini." kata Angga yang berada di meja kerjanya.



Saat itu tanpa sengaja Angga berpapasan dengan Jesi yang selesai dari toilet.


"Jes."


"Iya Pak, ada apa?." tanya Jesi


"Aku butuh bicara denganmu tapi jangan disini, kamu ikut denganku." kata Angga.


Jesi menuruti permintaan bos nya itu. Mereka pergi ke suatu cafe dekat sana.


"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu." kata Angga


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


"Ini tentang Ila. Kamu tahu tidak alasan dia berhenti dari perusahaan kita?"


"Pernah tidak dia curhat kepadamu tentang ini?" lanjut Angga.


Jesi terdiam saat itu, dia masih berpikir apakah ini waktunya untuk mengatakan kepada bos nya itu. Dia tahu selama ini, Ila merasa merasa sedih akan kondisi ini. Ila juga sering bercerita kepada Jesi kalau dirinya masih merasa bersalah karena secara tidak langsung mengkhianati Angga dengan pindah ke Perusahaan Santoso Group.


Jesi juga sering melihat Bos Angga melamun dan wajahnya selalu terlihat murung saat di kantor seperti tidak ada semangat. Jesi juga sering melihat Bos Angga memperhatikan meja kerja dari Ila.


Hal ini membuat Jesi menjadi prihatin dengan kondisi saat ini. Di saat Jesi memikirkan hal itu semua, Angga memanggil nama Jesi berulang-ulang hingga Jesi tersadar akan itu.


"Jadi..jadi..eehmm.."


Jesi masih ragu untuk mengatakannya, karena pesan Ila saat itu kalau rahasia itu hanya untuk mereka berdua saja.


"Katakan saja Jes, aku mohon kepadamu." kata Angga dengan tangan memohon kepada Jesi.


Jesi yang melihatnya tidak tega dan akhirnya Jesi bersedia untuk menceritakan semuanya.


Jesi menceritakan kesepakatan antara Kak Bima dan Ila. Jesi mengatakan jika Ila melakukan itu hanya untuk menyelamatkan Perusahaan Primadi. Dia tidak ingin semua pegawai mengalami pemutusan kontrak kerja secara mendadak.


"Waktu itu, aku yang mengantarkan dia ke kantor Santoso Group." kata Jesi


"Bapak ingat tidak, waktu itu kita berdua dari pergi keluar kantor dan saat tiba semua pegawai sangat senang saat itu tidak terjadi pemutusan kerja." lanjut Jesi.


Angga mengingat saat itu, dia pernah bertanya kepada Ila mengapa dirinya tidak ada saat semua pegawai berkumpul, tetapi dirinya berkata kalau ingin berhenti bekerja.


"Aku ingat saat itu." kata Angga


Angga melamun memikirkan semua yang telah terjadi. Dia mulai merasa bersalah karena berteriak di wajah Ila dengan nada membentak. Disana terlihat wajah Ila yang sangat ketakutan dengan dirinya.


"Seharusnya aku tidak melakukan itu." ucap Angga (dalam keadaan melamun)


"Melakukan apa, Pak?" tanya Jesi (merasa bingung dengan pernyataan Angga yang tidak ada kaitannya dengan yang Jesi bicarakan)


"Tidak apa-apa, maafkan aku." kata Angga


"Aku hanya merasa bersalah, karena aku saat itu pernah membentak Ila." lanjut Angga


Jesi pun meminta maaf kepada Angga karena tidak menceritakan kejadian ini dari awal, karena Ila ingin kalau hal ini cukup mereka yang tahu.


"Kamu tidak salah, ini salahku karena tidak pernah mencari tahu alasan dia melakukan ini. Aku masih di selimuti dengan rasa kecewaku karena dia dengan begitu mudahnya pindah ke perusahaan lain, hingga aku menutup mata akan semua hal tentang dirinya. ucap Angga dengan mata berkaca-kaca.


BERSAMBUNG.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)

__ADS_1


Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏


__ADS_2