Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 29 : BERGANTIAN DATANG


__ADS_3

Ila mengerti topik pembahasan saat itu mau diarahkan kemana oleh Kak Bima. Namun di saat Ila hendak menjawab kalau dia masih belum mempunyai pacar, tiba-tiba Ibu Ila memanggilnya dari arah dapur. Ila sontak berdiri dan berlari menuju ibunya itu. Saat itu, Ila mengelus-elus dadanya karena dirinya merasa aman saat itu. Ila sangat berterima kasih kepada tuhan karena dia mengirim ibunya untuk dia yang sedang dalam situasi yang tidak nyaman.


"Ada apa bu?" tanya Ila


"Ini ibu telah buatkan camilan untuk temanmu di luar, ibu tidak bisa bawa ini sendirian."


Ila membawakan camilan menuju ke Kak Bima. Mereka pun melanjutkan percakapan yang tadi sempat terpotong. Namun Ila tidak ingin lagi membahas itu lagi. Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel Kak Bima berdering dan Kak Bima mengangkatnya.


Ila sedang memainkan ponselnya saat itu sedangkan Kak Bima sedang ditelepon oleh seseorang yang sepertinya penting karena Ila sampai bosan menunggu Kak Bima selesai.



Beberapa menit kemudian, akhirnya Kak Bima selesai berteleponan dan dia ingin berpamitan kepada Ila karena dia ada urusan yang mendadak. Dalam hatinya Ila saat itu cukup lega karena Kak Bima tidak melanjutkan percakapan yang tadi sempat ingin mereka bicarakan.


Kak Bima telah pulang..


Ila yang saat itu hendak masuk ke dalam rumahnya, terdapat bunyi klakson mobil dari kejauhan mendekati rumahnya. Ila menoleh ke arah belakang dan siapa yang datang bukan lain itu adalah Angga.


"Oh tuhan, apa lagi ini." ucap Ila (sambil menepuk dahinya)


Angga turun dari mobil dan menuju ke rumah Ila. Ila yang sudah ada di depan pintu langsung menemui Angga dan bertanya di hadapannya secara langsung tanpa basa-basi. Ila berpikir mengapa hari ini bisa dua orang sekaligus yang datang ke rumahnya, bergantian pula datangnya.

__ADS_1


"Apakah bapak ada tugas buat saya?" tanya Ila (ia mencoba bersikap profesional, karena menurutnya mungkin bos nya ingin ada keperluan yang sangat penting)


Angga menjelaskan kalau dia tidak ada tugas untuk Ila. Angga hanya ingin berkunjung ke rumah Ila karena mau bersilaturahmi dengan keluarga Ila terutama adiknya itu. Mau tidak mau Ila mempersilahkan Angga untuk masuk ke dalam. Keadaan di dalam masih berantakan, terdapat gelas kosong bekas minum Kak Bima tadi. Hal itu membuat Angga bertanya kepada Ila.


"Apakah sebelumnya ada tamu yang datang kesini?"


Ila menjawab pertanyaan Angga itu, kalau ada tamu sebelum dia dan memohon maaf karena tempatnya berantakan. Ila pun membersihkan itu semuanya sekaligus membuatkan minum untuk bosnya Angga.



"Terima kasih minumannya." ucap Angga kepada Ila


"Assalamualaikum" (suara ibu selesai mengantarkan pesanan)


Ila dan Angga menjawab salam ibu. Ibu yang sudah tidak asing lagi dengan Angga menanyakan kabar Angga saat itu dan ibu juga menceritakan kalau teman Ila juga sempat bertamu kesini. Ibu menyebut nama Bima di depan Angga dan itu membuat Angga bertanya-tanya, siapa Bima yang ibu maksud. Setelah ibu meninggalkan mereka berdua di ruang tamu, Angga mulai mengulik Bima yang ibu maksud itu sebenarnya siapa kepada Ila.


"Bima siapa Il, yang datang kesini?"


"Kak Bima, senior kita dulu." (dengan nada yang sangat enteng Ila mengucapkan hal itu kepada Angga)


Angga mulai merasa tersaingi dengan adanya Kak Bima di sekitar Ila dan dia. Angga bertanya terus menerus kepada Ila bagaimana dia bisa bertemu dengan Kak Bima hingga dia bertanya apakah dia sudah menikah atau masih jomblo. Mendengar Angga yang sedari tadi mewawancarai Ila, membuat Ila capek meladeni semua pertanyaannya.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu sebenarnya kesini mau bertemu adik tetapi kamu membahas Kak Bima terus." ucap Ila yang sudah risih dengan sikap Angga


Angga hanya terdiam dan terdengar suara adik mengucapkan salam dari depan pintu. Angga langsung menyapanya dan tak luput Angga sudah membawakan hadiah untuknya. Saat itu adik Ila sangat senang bertemu dengan Angga. Mereka berdua pun saling mengobrol satu sama lain, sedangkan Ila meninggalkan mereka berdua yang asik bercerita.


Sewaktu Ila ingin mengambil minum air putih di dapur, Ila melihat ibu yang tertidur pulas di kursi dapur. Ila menatapi wajah ibunya, dia tahu benar bahwa ibunya sangat kelelahan. Ibu harus bekerja dari subuh untuk mencukupi keluarga ini. Ila sempat melarang ibunya untuk tidak bekerja karena sekarang gaji Ila sudah cukup untuk memenuhi keluarganya. Namun apa yang terjadi, ibu tidak mau menuruti perkataan anaknya. Mau bilang apa lagi, Ila sebagai anak hanya bisa menuruti kemauan ibunya itu.


...----------------...


KAMAR ILA


Menuju kamar, Ila sedang merebahkan badannya diatas kasur. Dia habis saja membersihkan rumahnya itu. Sedangkan di ruang tamu terdengar suara ketawa dari Angga dan adik. Ila sambil tiduran sedang memainkan ponselnya sambil menscroll foto-foto zaman dulu. Melihat foto-foto yang ada di ponselnya, Ila jadi teringat kenangannya dulu saat dia masih kuliah dan dia masih bersahabat dengan Mira dan Angga. Kini sahabatnya dulu seakan sudah jauh dari Ila. Saat ini yang Ila punya adalah Jesi. Saat asik memainkan ponsel, Ila mendengar suara seperti barang yang jatuh dengan sangat keras. Seketika Ila berdiri dan mengecek apa yang terjadi.



Ila melihat ibunya tergeletak di kamar mandi, sepertinya ibu terpeleset. Ila mulai berteriak minta tolong hingga Angga dan adiknya datang menghampirinya. Ila meminta tolong untuk membawa ibunya ke rumah sakit.


Dengan sigap Angga mengangkat ibu dan membawanya ke rumah sakit. Ila saat itu sangat panik dengan keadaan ibunya, sehingga menyuruh Angga untuk menyetir lebih cepat lagi. Ila dan adiknya saat itu menangis melihat kondisi ibunya, Ila tak henti menggenggam tangan ibunya itu. Ila tidak ingin kehilangan orang tua satu-satunya yang ia miliki. Dia tidak mau kejadian yang kedua kalinya terjadi dalam hidupnya. Memang manusia tidak ada yang abadi, namun jika tuhan ingin mengambil nyawa ibunya untuk sekarang Ila sangat tidak siap untuk itu semua. Ila masih sangat membutuhkan ibu di sampingnya, dia juga masih kurang untuk membahagiakan ibunya selama ini. Oleh karena itu, Ila sangat berjuang sekali untuk menyelamatkan ibunya. Di sisinya terdapat adiknya yang menangis tersedu-sedu. Ila mencoba menenangkan dia kalau tidak akan terjadi sesuatu pada ibu, ibu akan baik-baik saja dan sehat seperti semula.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2