Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 41: HARI PERTUNANGAN


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling bahagia untuk Mira. Pertunangan yang telah dia impikan bersama Angga beberapa saat lagi segera terwujud. Meskipun bukan inilah akhir dari segalanya, karena Mira belum seutuhnya memiliki Angga.


Di sisi lain Angga sangat tidak bersemangat untuk melakukan pertunangan ini karena hatinya bukan untuk Mira. Dia saat itu sedang memikirkan perasaan Ila, ia merasa bersalah kepadanya. Dia secara tidak langsung mengkhianati cintanya untuk Ila. Memang benar Ila mengetahui alasan Angga menjadi pasangan Mira. Ila pun menyuruh Angga agar tetap bersamanya, tetapi hati tidak bisa dipaksakan. Angga sudah berusaha untuk menerima Mira, tetapi tetap saja Ila yang ada di hatinya.



Pesta pertunangan akan segera dimulai, semua tamu berkumpul disana tak terkecuali keluarga, rekan kerja Angga, dan teman-teman Mira.


Hati Ila sangat terluka melihat Angga bersamanya. Namun ia harus bisa menerima ini semuanya, sebisa mungkin dia menampakkan wajah yang terlihat bahagia. Ila hanya tidak mau saja terjadi perseteruan antara dirinya dengan Mira, dia membiarkan dirinya untuk mengalah.


"Kalau dia memang jodohku, ia pasti akan kembali dan bersamaku." ucap Ila dalam hatinya.


Tak lama kemudian ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Ila pun langsung menoleh ke arah belakang.


"Kak Bima." kata Ila


Kak Bima juga menghadiri pertunangan itu karena dia adalah rekan bisnis Angga.


Saat itu acara yang telah ditunggu-tunggu akhirnya telah tiba. Momen pertukaran cincin antara Angga dan Mira dimulai. Semua mata tertuju kepada mereka berdua. Kak Bima, Ila, dan Jesi pun ikut menyaksikannya.



Setelah Angga selesai menyematkan cincin ke jari Mira, Ila pun tak kuat membendung perasaan sakitnya saat itu. Ila memutuskan untuk pergi ke belakang menuju toilet. Kak Bima melihat Ila yang berlari ke arah belakang. Begitu juga dengan Angga yang melihat Ila berlari meninggalkan acara itu.


TOILET.


Sampai di toilet, Ila menangis sepuasnya. Ila sebenarnya mempunyai perasaan yang sama dengan Angga, semenjak Angga menyatakan perasaannya Ila pun semakin yakin kalau Angga benar-benar mencintainya.


"Setelah aku tahu, keluarganya tidak ada sangkut paut dengan kecelakaaan ayah dan aku perlahan mulai menerimanya. Mengapa engkau membiarkan dia pergi jauh dariku." kata Ila sambil menangis di depan kaca dekat wastafel."


...----------------...


Hingga acara pertukaran cincin telah selesai, semua tamu undangan disuruh untuk kembali menikmati hidangan yang ada disana.


Angga yang sedari tadi ingin sekali mencari keberadaan Ila, ia pun membuat alasan ke toilet kepada Mira yang ada di sampingnya saat itu.


__ADS_1


Angga telah menemukan keberadaan Ila yang saat itu membelakangi dirinya. Di saat Ila menoleh, betapa terkejutnya dia ketika melihat Angga yang ada disana. Ila membelakangi Angga lagi dan membenahi wajahnya agar tidak kelihatan sembab karena habis menangis.


Angga pun menghampiri Ila disana.


"Kamu sedang apa disini?" tanya Angga kepada Ila


"Aku..aku..aku..habis dari toilet." ucap Ila dengan terbelit-belit.


Ila hanya menunduk saja tidak berani untuk menatap Angga, dia tidak ingin kalau Angga sampai tahu kalau dirinya habis menangis. Kalau Angga sampai tahu, nanti akan membuat dirinya semakin kasihan kepada Ila.


"Mengapa kamu melihat ke arah bawah?" tanya Angga


Ila diam beberapa saat, sambil memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan dari Angga. Setelah otaknya berkeliling untuk mendapatkan ide, akhirnya tanpa membutuhkan waktu yang lama, Ila pun mengalihkan pembicaraannya.


"Eh..selamat ya atas pertunanganmu." kata Ila sambil memberikan tangannya sebagai tanda ucapannya.


Bukannya menjabat tangan Ila, Angga menarik tangan Ila dan mereka berdua menjadi semakin dekat.


Ila saat itu tetap saja menundukkan kepalanya, ia tidak berani untuk menatap Angga.


"Aku tidak apa-apa." ucap Ila sambil menggelengkan kepalanya.


"Apakah kamu sedih kalau aku bertunangan hari ini?" tanya Angga


Angga sebenarnya sudah tahu perasaan Ila kepadanya. Mata Ila tidak bisa membohongi dirinya sendiri.


"A..aku senang melihat kalian berdua bahagia." jawab Ila sambil terbata-bata


"Sekarang coba kamu lihat mata aku." kata Angga menyuruh Ila untuk menatap matanya.


Ila saat itu sangat bingung sekali apa yang harus ia perbuat, hingga akhirnya karena desakan Angga yang menyuruh Ila menatapnya. Saat itulah Ila memberanikan diri untuk menatap mata Angga.


Mereka berdua saling menatap, Angga menatap mata Ila begitu juga sebaliknya. Angga bisa melihat apa yang Ila rasakan, hingga Ila tak kuat menahannya sampai-sampai setetes air mata jatuh dari bola matanya.



Ila langsung mendorong tubuh Angga dari dekatnya dan dia pergi dari sana. Ila menyalahkan dirinya sendiri karena tidak seharusnya dia menangis di depannya.

__ADS_1


"Kamu bodoh..bodoh..sangat bodoh." kata Ila sambil berjalan cepat meninggalkan Angga


Angga tertegun saat itu, melihat Ila yang meneteskan air matanya. Dia pun tahu perasaan Ila , pasti dia sangat sakit melihatnya bertunangan. Meskipun Ila tidak memberitahu dia, Angga selalu bisa tahu dari matanya.


"Maafkan aku, maafkan aku." kata Angga sampai dia pun ikut menangis.


Dia pun melihat Ila meninggalkan dirinya. Angga saat itu masih melamun dan merenungi perbuatannya kepada Ila, dia pun duduk di sebuah kursi sambil menangis.


"Tidak seharusnya aku lakukan ini." ucap Angga menyalahkan dirinya sendiri.


Di saat itu Angga sangat marah pada dirinya sendiri. Angga melampiaskan kemarahannya dengan memukuli tembok secara terus menerus. Dia saat itu juga sama sakitnya dengan Ila. Angga pun merenungkan perbuatannya sambil duduk.


Di lain sisi, Ila tetap berlari sambil menangis karena air matanya tidak bisa berhenti mengalir membasahi wajahnya. Dia pun memutuskan untuk meninggalkan pesta pertunangan itu, karena kondisi dia sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan acaranya.


"Lebih baik aku pergi dari sini." ucap Ila


Saat Ila melangkahkan kakinya dengan sangat cepat karena ia ingin sekali dengan cepat pergi dari sana hingga hak sepatu Ila copot dan membuatnya terjatuh.


"Aahhhh..." teriak Ila


Ila yang saat itu terjatuh membuat kakinya sedikit terkilir, membuat jalannya agak sedikit lambat karena menahan sakit. Ila saat itu ingin sekali menghubungi Jesi, namun tidak ia lakukan karena dia tidak ingin selalu merepotkan sahabatnya itu.


"Aku harus segera bangun, sebelum ada yang melihatku seperti ini." kata Ila


Ila pun melanjutkan jalannya meskipun agak lambat, dia tetap melakukan itu sendiri. Ila pun bingung mau naik apa saat itu lalu dia memutuskan untuk naik ojek saja. Dia pun telah meninggalkan pesta itu.


Angga pun sudah merenungkan semuanya, dia memutuskan untuk mengejar Ila saja. Dia meninggalkan pesta pertunangannya dan memutuskan untuk meminta maaf kepada Ila.


Mira yang masih ada di pesta itu, dalam hatinya merasa heran karena Angga yang sangat lama sekali pergi ke toiletnya.


Lalu apa yang akan terjadi dengan mereka??


BERSAMBUNG.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)


Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2