Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 48 : KEMARAHAN ANGGA


__ADS_3

Ila mengajak Kak Bima untuk segera pergi dari sana, karena dia harus kembali ke kantor secepat mungkin. Kak Bima menuruti semua perkataan Ila, dia mengantar kembali Ila ke kantornya.



Kak Bima kembali ke kantornya. Ketika dia telah tiba di kantor, terlihat Angga yang duduk di sofa. Angga menghadang langkah Kak Bima.


"Kemana Ila?" tanya Angga dengan nada tinggi sambil melihat belakang Kak Bima.


"Dia ada di kantormu." kata Kak Bima


"Mengapa kamu disini? apa kita mempunyai janji?" lanjut Kak Bima


"Aku cukup menghargaimu sebagai seniorku, tetapi kamu sudah membawa pegawaiku tanpa seizinku itu sudah sangat keterlaluan." ucap Angga


"Itu dia yang mau, aku harus apa." kata Kak Bima dengan senyum kecut.


Angga tidak bisa menahannya, dia memukul wajah Kak Bima.


"Itu hanya peringatan dariku." kata Angga sambil meninggalkannya.


Kak Bima juga sangat marah dengan perbuatan dia kepadanya. Angga telah mempermalukan dirinya di depan banyak karyawannya disana. Kak Bima tidak akan tinggal diam, ia akan membalasnya.


...----------------...


KANTOR PRIMADI


Angga berjalan dengan cepat, dia menanyakan kepada salah satu pegawai disana apakah dia melihat Ila. Kemudian dia mengatakan kalau dia melihatnya.


Jesi dari kejauhan melihat Angga, dia pun menghampirinya.


"Aku melihat Ila sudah datang dan dia ada di ruangannya saat ini." kata Jesi


"Baiklah, terima kasih. Aku akan kesana sekarang." ucap Angga


Angga melangkahkan kakinya dengan cepat, dia sampai di ruangannya. Ia melihat Ila berada di meja kerjanya



Plak..plak..plak..(suara tepukan tangan Angga)


"Bagus..bagus ya, sekretarisku ini."


"Kamu habis dari mana?" tanya Angga dengan emosi.


"E...e...e...aku dari keluar tadi."


"Keluar sama siapa?" (sambil memukul meja di depannya)

__ADS_1


"Hmm..dengan Kak Bima." jawab Ila dengan takut, karena Angga berasa sedang menyidang dirinya.


Angga memarahi Ila, karena dia tidak seharusnya melakukan itu tanpa seizin dirinya. Apalagi dia pergi dengan Kak Bima yang merupakan saingan Angga dalam memperebutkan hatinya.


"Kamu tahu tidak, kamu melakukan kesalahan tidak izin denganku."


Ila hanya menundukkan kepalanya, dia ingin menepis ucapannya itu tetapi dia tidak diberi ruang untuk bicara oleh Angga.


"Kamu sangat gampang sekali ya, diajak oleh laki-laki." kata Angga sambil tersenyum menyindir Ila.


Ila sangat kesal dengan omongan Angga. Dia mengerti kalau dia salah karena tidak izin kepada Angga. Ila melakukan semua itu juga ada alasannya. Dia tidak akan pergi sembarangan dengan begitu saja.


"Cukup ya, apa cuma kamu ya bisa marah, aku juga bisa." kata Ila (sambil memukul meja)


"Aku sudah cukup ya, menghargaimu sebagai atasanku. Tapi kalau kamu bicara seolah merendahkanku, aku tidak akan tinggal diam." lanjut Ila



Angga menelan ludahnya, dia tidak menyangka Ila akan semarah itu. Angga tidak sadar bahwa kemarahan yang ia luapkan kepada Ila itu adalah perasaan cemburunya kepada Kak Bima.


"Kamu sekalian pecat aku saja kalau kamu menyebut aku wanita gampangan. aku kecewa sama kamu." ucap Ila (pergi meninggalkan Angga sambil menangis).


Setelah kepergian Ila, Angga membanting semua barang yang ada disana sebagai bentuk kekesalannya. Dia merenungkan perbuatannya saat itu. Dia seketika mulai sadar kalau dia tidak seharusnya melakukan itu kepada Ila, apalagi mengucapkan kata-kata yang tidak sepantasnya.


"Aku harus ketemu sama dia." kata Angga


Angga pun pergi keluar untuk menanyakannya kepada satpam, tetapi dia juga tidak melihat Ila keluar. Tiba-tiba ada celetuk karyawan lain.


"Aku melihat Ila tadi pak, dia naik tangga ke lantai atas dengan buru-buru. Aku tidak tahu dia mau apa. Saat aku tanya, dia diam saja." ucap karyawan.


Angga mencoba mengecek keberadaan Ila di balkon letaknya di lantai paling atas kantor.



Ila berada di balkon, sambil menangis. Angga perlahan mendekati dia.


"Ila." panggil Angga


Ila menoleh ke arah sumber suara itu, dia melihat Angga disana. Tanpa bicara satu kata pun, dia tidak mau melihat mukanya. Ila pergi dari sana.


Hal itu tidak dibiarkan oleh Angga. Saat Ila hendak pergi, dia menghadangnya. Ila ke kanan, dia juga ikut ke kanan begitu juga sebaliknya kemanapun Ila hendak pergi, Angga selalu ada untuk menghentikannya.


"Uhhh..." (rasa kesal Ila karena Angga terus saja menghadangnya)


"Hentikan." teriak Ila


Ila kembali membelakangi Angga. Ila meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Apa kamu menangis?" kata Angga karena melihat Ila yang sesegukan.


"Apa pedulinya kamu, katakan apa maumu. Aku tidak punya banyak waktu, aku harus turun." ucap Ila


Angga mencoba mendekati Ila, dia meraih tangan Ila saat Ila membelakanginya. Namun yang terjadi, Ila menghempas pegangan tangan Angga. Kemudian dia wajahnya menghadap ke arahnya.


"Kamu menangis ya." kata Angga


Saat hendak menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya, Ila menghempas tangan Angga.


Angga merasa bersalah dengan sikapnya tadi, dia tidak seharusnya membuat Ila sampai sesedih itu. Dia terlihat banyak mengeluarkan air mata hingga matanya bengkak.


"Aku kesini untuk minta maaf kepadamu." kata Angga


Ila tidak mau menatap wajah Angga


"Aku tidak seharusnya melakukan itu kepadamu." lanjut Angga.


Ila hanya terdiam, air matanya terus saja mengalir membasahi wajahnya. Ila bolak-balik mengusapnya.


"Aku cukup tahu saja dari kamu. Ternyata selama ini kamu belum mengenal aku sepenuhnya. Kamu menganggapku wanita seperti itu." kata Ila


"Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu katakan lagi, aku pergi." lanjut Ila


Lagi-lagi Angga tidak memperbolehkan Ila untuk pergi. Dia menghentikan langkahnya dengan memeluk Ila dari belakang. Ila tidak senang dengan sikap Angga, dia berusaha melepas pelukan itu.


"Dengar dengat aku." kata Angga (Ila saat itu sambil berontak)


"Aku minta maaf kepadamu, aku melakukan itu karena aku cemburu."


Posisi mereka tetap sama, Angga memeluk Ila. Ila mendengar pernyataan itu merasa shock, tapi dia juga tidak membenarkan Angga. Meskipun dia cemburu, dia tidak akan mengucapkan kata-kata yang menyakitinya.


Angga melepaskan pelukan itu dan membalikkan badan Ila untuk menatapnya.


"Apa kamu masih marah kepadaku?" tanya Angga.


"Untuk apa aku marah, kamu adalah atasanku, kamu berhak mengatakan aku wanita gampangan." ucap Ila.


"Aku kan sudah bilang ke kamu, aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu. Tadi aku tersulut emosi karena aku cemburu, kamu harus tahu itu." kata Angga dengan memohon.


Ila masih tidak membenarkan sikap Angga yang dengan mudah mengatakan itu kepadanya. Dia masih bisa mengerti kalau dia cemburu, dia bisa marah. Tapi tidak perlu mengatakan hal rendah seperti itu. Itu yang membuat Ila kecewa kepadanya.


BERSAMBUNG.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)


Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2