Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 68 : PERAYAAN REUNI


__ADS_3

Malam ini adalah perayaan reuni kuliah untuk fakultas pertanian untuk 2 periode, tak terkecuali Ila, Angga dan Kak Bima juga terlibat di dalamnya. Hari ini Kak Bima hendak menggandeng kekasihnya Ila dan ingin ia berangkat bersamanya. Ila pun menyampaikan kalau ia harus berangkat terlebih dahulu karena ia adalah panitia untuk reuni tersebut. Kak Bima pun tak akan membiarkan Ila sendirian, sehingga ia menemaninya datang lebih awal.


"Aku sudah ada di depan rumahmu, keluarlah." itulah isi pesan Kak Bima untuk Ila


Ila pun keluar dengan menggunakan gaun yang indah. Ia sangat begitu anggun dan cantik malam itu, bukan rahasia lagi ia adalah primadona saat ia masih kuliah dulu.


Kak Bima turun untuk menjemput Ila yang sedang berjalan. Ia menggandeng tangannya.



Mobil pun melaju menuju ke lokasi tempat reuni. Kak Bima tak berhenti menatap Ila yang begitu cantiknya. Namun wajah Ila tak terlihat bersemangat, entah apa yang ada dipikirannya kala itu.


PESTA REUNI


Pesta perayaan masih sedikit orang yang datang disana. Ila segera mempersiapkan tugasnya sesuai dengan jobdesk yang ia miliki agar acara reuni bisa berjalan dengan lancar.


"Aku pergi kesana dulu kak." kata Ila kepada Kak Bima.


Ila sedang mempersiapkan panggung acara yang ada disana. Ia bekerja sangat keras malam itu. Tak lama kemudian datanglah Angga.



Semua orang menatap kedatangan Angga disana. Tak diragukan lagi ia sangat tampan di pesta itu. Banyak orang yang mengagumi sosok Angga saat masih zaman kuliah dahulu. Ia tak berubah sedikitpun, ketampanannya semakin bertambah. Itulah tutur kebanyakan orang disana.


Angga masih sangatlah asing dengan orang-orang disana. Ia tak dapat mengenali satu orang pun yang ada disana, yang hanya ia ingat adalah Ila. Lalu ia langsung mencari keberadaan Ila disana.


"Hai, La." kata Angga


"Hai, Angga. Kamu jadi datang, aku pikir kamu memilih istirahat di rumah." ucap Ila dengan sedikit khawatir dengan keadaan Angga


Tiba-tiba Angga merengek kepalanya sakit. Ila langsung panik


"Apa kepalamu sakit." ucap Ila sambil memegang kepala Angga


Ila mencoba untuk membopong Angga dan duduk di kursi. Ila kembali memegang kepala Angga dan mencoba menenangkannya.

__ADS_1


"Apa kamu agak lebih mendingan?" tanya Ila


Angga hanya mengangguk yang menandakan kalau dirinya sudah lebih mendingan daripada yang tadi.


Tampak dari kejauhan Kak Bima melihat Ila dan Angga sedang berduaan. Hal itu membuat dirinya terbakar api cemburu. Ia pun mendatangi mereka berdua.


"Apa yang kamu lakukan." kata Kak Bima sambil menghempas tangan Ila yang sedang memegangi kepala Angga


Kak Bima pun langsung menyeret tangan Ila dan ia ingin berbicara empat mata dengannya.



"Lepaskan tanganku, sakit." kata Ila


"Apa yang kamu lakukan tadi? apa kamu tidak memikirkan perasaanku sama sekali." ucap Kak Bima


"Kak..aku harus berapa kali bicara sama kamu, aku disini bertanggung jawab atas kesehatan Angga. Aku harap kamu bisa mengerti itu." kata Ila


"Kamu bilang orang tua Angga akan tiba seminggu ini tapi mana buktinya? ini sudah seminggu berjalan tapi mereka tak kunjung datang."


"Aku minta maaf kepadamu." kata Ila sambil meraih tangan Kak Bima


Kak Bima menatap Ila dengan tajam dan ia pun memeluk kekasihnya itu.


"Aku sangat takut kehilanganmu, aku sangat berjuang untuk mendapatkanmu. Tak akan aku lepaskan kau begitu saja dari genggamanku." kata Kak Bima dalam hatinya.


Masalah antara Ila dan Kak Bima telah selesai. Kini mereka kembali ke acara reuni itu.


Ila menghampiri Angga, ditemani Kak Bima.


"Kepalamu masih sakit?" tanya Ila


"Aku sudah tidak apa-apa. Kamu jangan khawatir. Ini siapa Ila?"


Angga menunjuk ke arah Kak Bima yang ada disamping Ila. Ila pun mengenalkan Kak Bima kepada Angga sebagai kakak seniornya dulu saat waktu kuliah. Ia tak berani mengakui Kak Bima sebagai kekasihnya karena ia tak mau kepala Angga pusing lagi jika terlalu berpikir keras.

__ADS_1


Angga pun menikmati suasana disana. Ia pun mengajak Ila untuk berdansa bersamanya. Angga menyeret tangan Ila untuk mau berdansa.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ila


"Tak apa, kita kan sudah lama tidak begini." ucap Angga


Kedua mata saling bertemu. Angga menatap mata Ila begitu pun juga sebaliknya. Tatapan Angga yang hangat kepada Ila, membuat dirinya terenyuh oleh perasaannya. Ia mulai mengingat kenangan-kenangan dirinya bersama Angga. Kenangan baik dan buruk, ia pernah membenci dirinya namun samakin ia membenci Angga tak tahu mengapa alam semesta selalu mendekatkan Ila dengan Angga.


Kak Bima melihat momen antara Angga dan Ila. Amarah dalam dadanya seperti terbakar api cemburu. Ia tak rela Ila berdansa dengan Angga seperti pemandangan yang ia lihat disana sangat penuh kemesraan.


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan." ucap Kak Bima


Kak Bima pun menghentikan musik disana lalu mengambil mic dan meminta perhatian kepada tamu undangan yang ada disana.


"Perhatian semuanya. Ada informasi penting yang ingin saya sampaikan di malam yang penuh kebahagiaan ini."


Ila mulai berpikir apa yang sebenarnya Kak Bima ingin sampaikan kepada orang banyak yang ada disini.


"Begini, aku ingin mengenalkan sosok perempuan yang sangat berharga dalam hidupkan. Kita pun sudah membuat komitmen untuk saling bersama dan mungkin kalian juga tak asing dengan perempuan ini."


Ila sangat ketakutan, ia sudah mengira bahwa Kak Bima akan mengumumkan dirinya sebagai kekasihnya.


"Kak Bima jangan lakukan itu." (memberikan kode lewat mata dan kepala yang terus menggeleng ke arah Kak Bima yang ada di panggung).


Momen saat Kak Bima menyebutkan nama Ila pun terjadi, tetapi saat itu tiba-tiba listrik mati dan disana kemudian gelap.


"Ini saat yang tepat aku membawanya, sebelum listrik hidup lagi." ucap Ila


Sebelum ketahuan semuanya ia akan membawa Kak Bima dari sana. Ila pun memegang tangan Kak Bima dan mengajak dia untuk keluar dari sana. Ila pun mengajak Kak Bima ke tempat parkir.


"Kak, apa yang kakak lakukan." kata Ila


"Mengapa kamu tanya kepadaku, seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kamu lakukan dengan Angga. Bisa-bisanya kamu bermesraan seperti itu, seperti wanita yang sana sini mau saja."


"Apa Kak Bima bilang. Aku wanita yang sana sini mau? keterlaluan kamu Kak." ucap Ila yang sangat tersinggung dengan perkataan Kak Bima.

__ADS_1


Ila memutuskan pergi saja dan tak mau bertengkar disana karena sudah tidak mau meladeni Kak Bima, ia pun memilih untuk masuk kembali.


__ADS_2