
Sesampainya di rumah Ila, dia merasa tubuhnya lelah dan lemas sekali.
Melihat itu semua, Jesi dan Angga membantu Ila karena tubuhnya masih sangat lemah saat itu.
Ibu saat itu berada di luar rumah karena cemas memikirkan anaknya yang masih belum pulang juga sedangkan adiknya sudah tertidur pulas. Ibu dari kejauhan melihat tiga orang berjalan menuju rumahnya dan seketika terkejut ternyata itu Ila dan teman-temannya. Melihat Ila yang terlihat lemas dengan dibantu kedua temannya, ibu menyuruh untuk membawa Ila ke kamarnya agar dia bisa langsung cepat berbaring saja.
"Mengapa dia sampai seperti ini?" (sambil terisak menangis)
"Maafkan saya bu, tadi ban motor bocor jadi kita tadi memutuskan jalan kaki sambil menuntunnya ditambah mungkin Ila sangat kelelahan karena aktivitas tadi waktu di puncak." penjelasan Jesi panjang lebar
"Ila memang anaknya mudah banget sakit kalau kelelahan yang berlebihan." ucap Ibu
"Ayo kalian duduk dulu, ibu buatkan teh hangat buat kalian." lanjut Ibu
Mereka berdua yaitu Jesi dan Angga berada di ruang tamu sambil meminum teh hangat buatan Ibu Ila. Ibu Ila mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka berdua karena telah mengantarkan Ila sampai di rumah dengan selamat.
...****************...
Keesokan harinya, Ila terbangun dan tubuhnya merasa sakit semua. Ibu pun datang menghampirinya dan membawakan sarapan pagi yang sehat dan obat untuk Ila.
"Ibu, maafkan aku." ucap Ila
"Minta maaf untuk apa nak. Kamu sudah ada disini ibu senang." kata Ibu
Ibu menyuruh Ila untuk makan sarapan paginya itu dan segera istirahat lagi. Namun Ila merasa heran karena dia hari itu harus kerja.
"Tunggu bu, aku harus segera siap-siap pergi ke kantor" ucap Ila kepada ibunya
"Kamu masih sakit nak, istirahat saja di rumah." pinta Ibu
"Aku sudah tidak apa-apa ibu, sangat sayang banget bu kalau aku libur nanti aku dipotong gaji kalau izin." ucap Ila
Dengan merengek Ila memohon kepada ibunya untuk mengizinkannya untuk bekerja hari itu. Ila pun berjanji kepada ibunya untuk tidak terlalu capek dan juga tidak lupa untuk makan agar tubuhnya lekas pulih.
Dia pun bersiap-siap dan bergegas berangkat. Saat dia keluar dari pintu rumah, datanglah Angga ke rumahnya. Ila mengusir Angga tetapi dia tidak mau, ibunya pun mendengar keributan dan akhirnya keluar.
"Oh nak Angga. Mau bertemu Ila ya?" tanya Ibu
"Iya, saya pikir Ila masih sakit. ternyata."
__ADS_1
"Iya nak, Ila memaksa untuk bekerja padahal tubuhnya masih lemas." ucap Ibu
"Tidak bu, aku sudah sehat." celetuk Ila
Angga mengajak Ila untuk berangkat bersama dengannya. Ila sempat menolak ajakan Angga, tetapi karena ibunya memaksanya akhirnya dia menuruti perkataan ibunya itu.
Selama diperjalanan mereka berdua hanya diam saja tanpa ada sepatah kata pun terucap dari mulut Angga maupun Ila. Angga tidak ingin membuat mood Ila menjadi tidak baik karena dia, jadi dia memilih untuk diam saja.
...----------------...
Telah sampai di kantor, Ila turun dari mobil Angga dan banyak orang yang menatap dirinya dengan sinis.
Ila tidak terlalu menanggapi itu semua, dia memilih untuk cepat-cepat masuk ke ruang kantornya saja. Disana sudah terlihat Jesi yang berada di ruangannya dan Ila pun menghampirinya.
"Kamu sudah sehat?" tanya Jesi
"Tentu saja, aku harus semangat mencari uang untuk keluargaku." ucap Ila dengan menghela nafasnya
"Bisa saja kamu, La." (dengan senyum menatap Ila)
Setelah menuju ruang Jesi, Ila menuju ke ruangannya. Disana sudah terlihat banyak sekali tumpukan pekerjaan yang belum ia selesaikan.
Dia pun tetap semangat mengerjakan itu semuanya karena hal ini ia lakukan semata-mata hanya untuk menghidupi keluarganya.
Waktu menunjukkan sudah siang hari. Ila pun memutuskan pergi ke kantin kantor karena dia tidak membawa bekal dari rumah. Dia tidak hanya sendiri namun dia mengajak sahabatnya Jesi.
Mereka berdua pun makan siang di kantin itu, tak lama kemudian datanglah Angga menuju kursinya.
"Hai, bolehkah aku gabung disini?" tanya Angga
"Boleh..boleh bos besar." ucap Jesi (sebagai bentuk dia menghormati Bos besarnya itu)
Ila disana hanya diam saja tanpa berkata apa-apa karena dia tahu disana banyak orang dan dia tidak ingin meluapkan emosinya di depan orang banyak.
Suara ponsel Jesi pun berdering, dia mendapatkan telepon dari atasannya untuk segera mengirimkan file perusahaan. Jesi pun bergegas pamit dari sana dan izin kepada Ila dia harus dengan cepat mengirim file tersebut. Ila tidak bisa menahan Jesi untuk melakukan itu karena itu bentuk tanggung jawab dari pekerjaannya.
"Aku pergi dulu ya." ucap Jesi
"Iya." jawab Ila
__ADS_1
kini hanya ada mereka berdua yaitu Angga dan Ila. karena Ila sudah menyelesaikan makan siangnya dia pun memutuskan untuk segera pergi dari sana, namun hal itu dicegah oleh Angga dia beralasan ingin membicarakan sesuatu yang penting tentang pekerjaan kepada Ila. Ila tidak bisa menolak permintaan dari Angga, dia menuruti perkataannya.
"Jadi begini, kamu akan dipindahkan ke jabatan yang lebih tinggi oleh bos mu." kata Angga
"Apakah kamu senang karena hal itu?" lanjut Angga
"Tentu saja, siapa yang tidak mau naik jabatan." (menjawab dengan sikap sok cueknya)
Angga mengerti sekali keadaan Ila yang harus menjadi tulang punggung keluarganya sejak ayahnya meninggal sehingga dia memerintahkan kepada bos Ila untuk memindahkannya ke jabatan yang lebih tinggi tanpa sepengetahuannya.
"Apa itu saja yang ingin kamu katakan?" tanya Ila
" Iya." jawab Angga
"Baiklah kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi aku pergi sekarang." dengan senyum manis (Ila bersikap sok manis karena dia sekarang menjadi pusat perhatian di kantin karena berbicara dengan orang penting yaitu bos besar Angga).
"Kalau bukan dilihat orang banyak aku tidak akan bersikap seperti ini kepadanya." ungkap Ila di dalam hatinya
Ila melangkahkan kakinya dengan sangat senang karena mendengar informasi bahwa dia akan segera naik jabatan. Angga yang melihat Ila yang sangat senang juga ikut senang. Namun tanpa disadari ponsel Ila tertinggal di meja kantin tadi dan syukur saja Angga melihatnya dan dia bergegas ke ruangan Ila untuk memberikan ponselnya.
...----------------...
Angga mengetuk ruangan Ila
" Iya, masuk." ucap Ila
" Ada yang bisa dibantu?" tanya Ila (dia dalam posisi menatap laptop tanpa melihat siapa yang datang menghampirinya)
" Bisa bicara sebentar." (suara itu sudah tidak asing lagi di telinga Ila)
Ila yang melihat Angga yang merupakan bos besar perusahaan merasa kaget dan heran.
"Ini." (Angga menyodorkan ponsel ke Ila)
Ila mengambilnya dan mengucapkan terima kasih kepadanya sebagai bentuk rasa sopan dan hormat kepada atasan karena situasinya dia sekarang berada di kantor dan dia harus bersikap professional.
"Kamu berhutang kepadaku." (menujukkan jari telunjuknya ke hadapan wajah Ila dan selesai itu dia pergi)
"Dasar tukang ancam, kalau tidak mengancam dia memaksaku." gumam Ila.
BERSAMBUNG.
__ADS_1