
Mira datang menemui Angga di kantornya, dia ingin bertemu dengan Angga karena ingin Angga memilihkan gaun pengantin untuknya. Mira menganggap semua yang terjadi antara Angga dan Ila adalah angin lalu yang akan dia hempas sejauh-jauhnya. Sekarang Mira hanya ingin fokus dengan pernikahan dirinya dengan Angga yang akan dilangsungkan beberapa bulan lagi.
Mira mempunyai rencana untuk menyingkirkan Ila. Namun saat itu waktunya belum tepat.
Angga saat itu sungguh sangat merasa risih dengan tingkah Mira kepadanya, dia merasa terganggu karena dia terus saja bertanya-tanya kepadanya. Angga mau bagaimana lagi, dia harus terpaksa harus meladeni Mira yang disana sedang menunjukkan desain gaun pengantinnya.
Dari arah luar, pintu terbuka. Ternyata itu Ila yang ingin masuk ke dalam dan ingin ke meja kerjanya. Ila pun melihat kondisi saat itu, Mira yang menunjukkan gaunnya kepada Angga.
Ila tidak terlalu memperhatikan hal itu, dia menuju meja kerjanya dan fokus pada pekerjaannya.
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN..
Akhirnya Mira telah menemukan gaun yang tepat untuknya, dia pun pergi dan menuju meja kerja Ila.
"Kamu jangan macam-macam Ila, kamu akan tahu akibatnya jika kamu berani sama aku." ucap Ila dengan nada yang pelan agar Angga tidak mendengarnya.
Ila pun menyingkir dari hadapan Mira dia menuju toilet untuk menenangkan diri, karena tidak mau mengurusi Mira lagi. Ila bodoh amat dengan apapun yang ingin dilakukan Mira kepadanya.
Saat berada di toilet tiba-tiba ada yang menguncinya dari luar dan air jatuh dari atas seperti ada yang menyiramnya dari luar.
"Ini masih pemanasan Ila, kalau kamu masih berani denganku. Akan lebih parah daripada ini dan ini masih belum seberapa." kata Mira
Ila mengetahui kalau yang melakukan ini adalah Mira, suaranya sudah tidak asing di telinga Ila.
"Mir, buka pintunya." teriak Ila berkali-kali
Mira hanya tersenyum senang dan meninggalkan Ila disana dengan pintu yang terkunci. Untung saja saat itu terjadi Ila membawa ponselnya, namun di saat dia ingin menghubungi Jesi apa yang terjadi dengan ponsel Ila. Ponselnya mati karena terkena air. Ila bingung apa yang harus ia lakukan. Ila mencoba teriak dan memukul pintunya berkali-kali tetapi tidak ada orang yang membukakannya. Hingga Ila putus asa dan merasa lelah, dia pun duduk sambil menangis.
DI RUANGAN KANTOR..
Sudah menunjukkan waktu pulang, Jesi tidak melihat batang hidung Ila disana. Jesi mencari Ila di ruangannya tapi tidak ada. Dia sampai-sampai bertanya kepada satu persatu pegawai disana apakah mengetahui keberadaan Ila.
__ADS_1
Dia merasa kebingungan, dia chat dan menelepon ponsel Ila tetapi tidak ada balasan. Jesi sebagai sahabat Ila sangat khawatir. Tiada angin tiada hujan ada seseorang yang menghampirinya, OB itu merasa panik karena ada orang yang menangis di dalam kamar mandi. Tangisan itu seperti suara perempuan.
"Mbak Jes, sibuk tidak? aku boleh minta bantuannya?" ucap OB itu
"Iya, bantuan apa?" tanya Jesi
"Aku tadi membersihkan toilet, terus aku mendengar suara tangisan dari toilet wanita dan aku tidak berani membukanya mbak. Mungkin mbak Jesi bisa membantuku." (OB itu dengan tangan menggenggam meminta bantuan kepada Jesi)
Jesi pun mencoba membantu OB itu, mereka menuju toilet wanita.
Tiba disana Jesi memang mendengar suara tangisan sesenggukan. Dia mengetuk pelan-pelan pintu toilet itu.
"Permisi, apa ada orang di dalam?" tanya Jesi
Ila sontak langsung teriak minta tolong untuk membuka pintu toilet itu. Jesi panik saat itu, suara ini seperti tidak asing.
"Apakah kamu Ila?"
Ila panik keluar mencari bantuan dan OB itu mencoba mencari kunci cadangan. Beberapa pegawai yang melihat ikut panik. Hari itu sudah mulai petang jadi hanya ada sedikit pegawai yang tersisa disana. Disana tampak Angga melihat sikap Jesi yang panik dan dia mencoba bertanya kepadanya.
"Ada apa, Jes?" tanya Angga
"Ila..Ila terkunci di toilet." ucap Jesi dengan panik
Akhirnya OB itu menemukan kuncinya dan segera membuka kan pintu toilet Ila. Jesi dan Angga berada juga berada disana untuk membantu Ila.
"Krek.." (suara pintu terbuka )
Ila keluar dengan keadaan yang lusuh, pakaiannya yang basah karena disiram air oleh Mira. Ila memeluk sahabatnya Jesi.
Saat Angga menanyakan keadaan Ila, apakah Ila baik-baik saja. Ila hanya diam saja. Melihat kondisi seperti itu Jesi mengerti perasaan Ila, dia masih shock. Jesi merangkul Ila dan membopong dia keluar dari toilet itu.
__ADS_1
"Kamu duduk sini." ucap Jesi kepada Ila
"Aku tidak mau disini, aku ingin pulang saja." (air matanya terus saja keluar).
"Setidaknya kamu minum dulu air ini, tenangkan dirimu dulu." perintah Jesi kepada Ila
Ila menuruti perkataan Jesi, dia minum air putih itu dan sedikit mengehela nafasnya. Ila meminta kepada Jesi untuk pulang dan Jesi pun mengangguk setuju.
Ila keluar sambil Jesi memegangi tubuh Ila yang masih lemah saat itu. Angga yang berada di luar melihat mereka kemudian dia menghampirinya.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Angga kepada Ila
Ila tidak merespon pertanyaan Angga kepadanya, wajahnya menoleh ke arah lain. Jesi yang mengetahui gerak-gerik sahabatnya itu tahu kalau dia sedang tidak mau diajak bicara dengan Angga. Jesi menjawab pertanyaan Angga kalau Ila baik-baik saja.
Jesi pun berpamitan kepada bos nya itu kalau dia ingin mengantar Ila pulang. Angga meminta mereka berdua naik mobil dengannya saja, karena melihat kondisi pakaian Ila yang basah, pasti dia kedinginan. Ila memberi kode kepada temannya itu untuk menolak ajakan Angga sehingga Jesi menolak dengan sangat sopan dan hati-hati karena Angga saat itu masih bosnya. Angga tidak bisa memaksa dan mereka pun pergi meninggalkan Angga.
Menuju pintu keluar tiba-tiba ada yang memanggil.
"Jes, tunggu." ternyata yang memanggil adalah Angga
Jesi memberhentikan langkah kakinya dan menghampirinya.
"Iya ada apa Pak Angga?" tanya Jesi
"Ini kamu kasih kepada Ila ya, aku nitip Ila kepadamu ya." (itu adalah sebuah jaket milik Angga)
Jesi pun memberikan jaket itu untuk menutupi badan Ila. Ila saat itu hanya diam saja. Mereka pun meneruskan menuju ke parkiran sepeda motor.
Jesi memboncengi Ila, dia melihat dari kaca spion kalau dia sepertinya sangat shock dengan kejadian yang menimpanya. Jesi saat itu tidak berani untuk menanyakan mengapa Ila sampai terkunci di dalam toilet. Jesi memendam pertanyaan untuk besok hingga keadaan Ila sudah mulai membaik.
Tanpa mereka sadari, Angga membuntuti mereka berdua. Angga hanya ingin memastikan kalau Ila selamat sampai di rumahnya karena dia sangat mengkhawatirkannya. Dia juga merasa aneh dengan sikap Ila kepadanya yang dingin, tetapi dia sadar mungkin dia masih sangat shock. Angga pun tidak mengetahui penyebab Ila bisa terkunci di toilet.
"Ini pasti ada yang menguncinya dari luar, aku akan mencari tahu." kata Angga sambil menyetir.
Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)
__ADS_1
BERSAMBUNG..