Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 73 : KEPUTUSANKU


__ADS_3

Ila saat itu sedang menuju ke restorannya. Ia kini sudah lama sekali tak berhubungan dengan Angga sejak ia bertemu terakhir di rumah sakit. Disamping Angga sudah ada yang menjaga yaitu kedua orang tuanya, ia mencoba untuk menghindarinya karena permintaan dari Kak Bima.


RESTORAN.


"Bagaimana resto hari ini? tanya Ila kepada salah satu karyawannya.


"Resto aman bu, penjualan kita alhamdulilah semakin meningkat."


"Syukurlah kalau begitu." kata Ila


"Oh iya, buatkan saya jus jeruk untuk dua orang. Saya tunggu di meja sana." lanjut Ila


"Baik bu."


Ila sedang menunggu Kak Bima datang, karena ada yang ingin ia bicarakan padanya. Kemudian tak lama itu Kak Bima datang.


"Sudah lama menunggu?" tanya Kak Bima


"Tidak, ini juga minumannya juga baru datang." kata Ila


"Kamu tak pesan makanan?"


"Nanti saja, oh iya Kak Bima mau ngomong apa? katanya ada hal penting yang ingin disampaikan." ucap Ila


"Iya begini, aku ingin bicara lebih serius denganmu."


Kak Bima memegang tangan Ila dan ia pun menjelaskan semua tujuannya bahwa ia ingin melamar Ila. Lalu Ila sangat shock mendengar itu.


"Apa Kak Bima yakin?" kata Ila sambil menelan ludahnya


"Iya aku yakin. Aku sangat mencintaimu dan aku mau kamu menjadi istriku."


"Apa tidak sebaiknya kita melakukan pertunangan saja dulu kak, kalau untuk pernikahan aku belum siap kak." kata Ila


Melihat Kak Bima yang terus menatapnya tanpa berkata satu kata pun


"Apa kakak tidak mau ya, maafkan aku ya kak." kata Ila yang merasa ketakutan jika Kak Bima marah


"Ada apa denganmu, aku tidak apa-apa jika kita melakukan pertunangan dulu." kata Kak Bima sambil tertawa


"Kamu lucu sekali dengan wajah tegangmu itu." lanjut Kak Bima


"Bagaimana aku tidak begini, tatapan Kak Bima membuatku takut." kata Ila


"Oh oh ya, maafkan aku. Aku hanya bercanda."


Lalu Kak Bima membicaran perihal pertunangannya, bagaimana konsepnya dan segera mencari kebutuhan untuk itu. Pertunangan antara Kak Bima dan Ila akan dilakukan 1 minggu lagi dan itu adalah keputusan dari mereka berdua.

__ADS_1


"Tak apa jika harus melakukan pertunangan, yang penting selangkah lagi aku bisa memilikimu seutuhnya Ila." ucap Kak Bima dalam hatinya.


Setelah melakukan pembahasan dengan Kak Bima, Ila sudah waktunya untuk pulang. Kak Bima pun mengantarkan Ila untuk pulang ke rumah.


"Sudah sampai, salam ke ibu dan adik ya." kata Kak Bima


"Iya nanti aku salamin." ucap Ila


Kak Bima pergi dan Ila pun masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamualaikum." ucap Ila saat masuk ke dalam rumahnya.


"Waalaikumsalam, kakak sudah pulang? kok tumben jam segini sudah pulang."


Iya, tadi di resto sudah pada beres semua. Mana ibu?" tanya Ila


"Ibu masih keluar, sepertinya ke supermarket."


"Oh begitu, kalau begitu kakak ke kamar dulu ya." ucap Ila


Saat berada di kamarnya ia masih merenungkan dengan keputusannya ini, apakah ia sudah membuat keputusan yang tepat atau belum.


"Apa aku sudah benar ya tuhan." ucap Ila dengan sedikit ragu


Tiba-tiba muncullah ibu yang masuk ke kamar Ila


"Ada apa nak?"


"Iya, tadi ibu mencari buat makan malam sekalian. Ibu pikir kamu akan pulang malam, jadi ibu membeli lauknya lumayan sedikit."


"Tidak apa-apa bu, Ila juga lumayan kenyang kok. Ibu dan adik saja yang makan, nanti kalau Ila lapar kan bisa buat mie instan saja. kata Ila


"Oh iya, kenapa kamu pulangnya kok cepat sekali hari ini? karena tak biasanya kamu pulang lebih cepat seperti ini."


"Iya bu, tadi memang pekerjaan disana sudah beres jadi aku bisa pulang lebih cepat." kata Ila


Sekalian dalam obrolan itu, Ila pun menceritakan kepada ibunya kalau dirinya dilamar oleh Kak Bima. Tapi Ila menolaknya dengan lembut dan memintanya untuk melakukan pertunangan saja terlebih dahulu.


"Apa? Bima melamarmu?"


"Iya bu, tapi aku memintanya untuk tunangan saja terlebih dahulu."


"Ibu sih, terserah kamu saja nak. Keputusan semua ada di tanganmu sepenuhnya. Ibu sebagai orang tuamu satu-satunya akan selalu mendukungmu selama kamu yakin akan hal itu."


Ila memeluk ibunya, karena ia sangat terenyuh dengan perkataan ibunya.


"Aku pun masih bingung dengan keputusanku ini, apakah sudah tepat atau belum." ucap Ila dalam hatinya sambil berpelukan dengan ibunya.

__ADS_1



"Ibu kalau mau makan, makan dulu sana dengan adik." ucap Ila


"Iya, ibu makan dulu ya. Kamu kalau lapar, di dapur di rak bagian atas itu ada mie instan."


"Siap bos." ucap Ila dengan tersenyum.


Ila pun kembali merenung di kamarnya. Ia butuh teman untuk ia ceritakan semuanya. Lalu ia kepikiran untuk menghubungi Jesi. Ia pun mengirimkan chat kepada Jesi.


"Halo jes."


"Hai La, ada apa?"


"Kamu sibuk?"


"Ini aku rebahan."


"Aku ingin curhat ini, bagaimana kalau kita videocall saja."


Jesi dengan senang hati mau dengan permintaan Ila. Di saat mereka berdua melakukan videocall, Ila menceritakan kalau ia sudah berpacaran dengan Kak Bima selama 1 tahun ini.


"Apa? kamu berpacaran dengan Kak Bima Bima itu. Astaga Ila." kata Jesi


"Aku tahu kamu La, kamu kan sebenarnya suka nya ke pak bos kan." lanjut Jesi


"Itu kan sebelum ia tiba-tiba menghilang begitu saja."


Ila menceritakan semua awal mula ia bisa berpacaran dengan Kak Bima. Jesi pun mencoba mencerna semua cerita dari Ila. Sampai Ila menceritakan mengenai ia dilamar oleh Kak Bima.


"Oh my god, kamu mau dilamar dengannya?"


"Iya, tapi aku memintanya untuk tunangan saja."


"Oh kalau begitu, kau masih aman La" ucap Jesi


"Aman bagaimana?"


Aman yang dimaksud Jesi disini adalah seorang Ila telah membuat keputusan yang hampir tepat, mengapa dibilang seperi itu karena dapat dibilang keputusan paling tepatnya yaitu menolak dan mengakhiri hubungan dengan orang yang tidak dicintai. Jesi mengetahui pun kalau Ila tak mencintai Kak Bima, tetapi ia mencintai sahabatnya.


"Saranku sih, kamu jalani dulu saja. Jika memang Kak Bima bukan jodohmu pasti dengan tuhan akan langsung dipindahkan dan datanglah jodohmu yang sesungguhnya."


"Iya makasih ya Jes, aku sangat bahagia sekali karena mempunyai sahabat sepertimu."


Karena waktunya sudah malam, Ila ingin beristirahat dulu dan ia pun mematikan videocall dari Jesi.


"Mengapa tiba-tiba perutku bunyi." kata Ila sambil memegang perutnya

__ADS_1


"Mungkin nih perut sudah kelaparan dan waktunya aku makan saja dengan mie instan yang ada di dapur. lanjut Ila


Ila memutuskam untuk pergi ke dapur dan memasak mie instan saja. Meskipun makan malam untuk cewek membuatnya tambah berisi tapi itu tak jadi permasalahan bagi Ila


__ADS_2