Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 72 : PERTEMUAN KEMBALI


__ADS_3

Ila saat ini ada di restorannya untuk mengontrol segala pekerjaan disana. Hari ini ia merasa sangat lelah sekali karena hari itu benar-benar membuat dia merasa campur aduk.


"Sangat melelahkan sekali, harus mengurus ini itu." kata Ila


Demi mendinginkan pikirannya ia meminta untuk dibuatkan ice. Setelah ice yang ia pesan datang, Ila pun langsung menyantapnya. Ila sangat menikmatinya, ditambah lagi cuaca di luar sangat panas jadi ice adalah menu yang cocok untuknya kali ini.


"Sebentar lagi aku harus mengantar ibu ke rumah sakit." ucap Ila


Akhir-akhir ini kesehatan ibu mulai menurun, hingga Ila harus mengantar ibunya untuk kontrol secara berkala ke rumah sakit.


Ila mengendarai mobilnya menuju rumah dan membawa ibunya segera ke rumah sakit.


RUMAH SAKIT.


Setelah ibu selesai melakukan kontrol, Ila menyuruh ibu untuk menunggu dan duduk di kursi saja karena dirinya ingin menebus obat yang telah di resepkan oleh dokter.


Tanpa sengaja saat selesai menebus obat dan Ila membalikkan tubuhnya, ia bertemu dengan Jesi.


"Jesi." kata Ila


"Ila." kata Jesi


Mereka tersenyum lebar dan saling berpelukan satu sama lain.


"Sudah lama kita tak bertemu." kata Ila


"Iya aku kangen sama kamu." ucap Jesi


"Mengapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah ada di Indonesia."


"Ceritanya panjang, nanti aku beri tahu. Kamu ada apa disini?" tanya Jesi


Ila menjelaskan kalau ia sedang mengantarkan ibunya kesini dan dia sedang menebus obat.


"Kalau begitu, aku mau bertemu ibumu." kata Jesi


Setelah Jesi bertemu ibu Ila, raut wajah mereka sangat senang. Ibu Ila sudah menganggap Jesi sebagai anaknya sendiri. Semenjak Jesi memutuskan untuk ke luar negeri menyusul orang tuanya, ibu Ila juga merasa kehilangan juga sama seperti Ila.


"Ayo nak, ajak Jesi ke rumah kita. Nanti ibu masakin yang spesial untuknya." ucap ibu dengan tersenyum


Ila pun mengajak Jesi untuk berkunjung ke rumahnya. Namun saat itu Jesi tidak bisa karena ia ada urusan yang sangat penting.


"Lain kali saja aku akan kesana." kata Jesi


"Sayang sekali, padahal ibu ingin memasakanmu hidangan yang spesial." kata Ila


Jesi pergi dari sana dan Ila juga memegangi ibu untuk masuk di mobilnya.


"Ibu apa perlu kita makan terlebih dahulu, kita ke resto dulu ya bu." ucap Ibu

__ADS_1


Ila mengajak ibu untuk ke resto karena waktu itu menunjukkan jika ibu harus makan siang dan segera minum obatnya dan kebetulan juga resto Ila dekat dengan sana.


"Ayo ibu turun, duduk disini ya bu. Aku akan membawakan makanan untuk ibu." ucap Ila


Saat menunggu Ila membawakan makanan untuk ibunya, tanpa sengaja ibu melihat Angga dari kejauhan.



Saat Angga berpapasan dengan ibu Ila, dia berjalan begitu saja tanpa menyapa sama sekali


"Ada apa dengan dirinya, apa dia tak melihatku disini." kata Ibu


Ibu pun menghampiri meja Angga


"Angga, kamu Angga kan." kata Ibu


"Iya, ada apa bu."


Ada apa dengan anak ini apa dia tak mengenalku sama sekali.


Ila datang dan melihat ibu tak ada di kursi. Ila mencoba melihat disekelilingnya dan ternyata ibu sedang berdiri seperti berbicara dengan seseorang. Setelah mengetahui itu, Ila menghampiri ibunya.


"Ibu, ada apa? ayo kita kembali." ucap Ila dengan arah matanya ke ibu tanpa melihat yang ternyata disana ada Angga.


"Tunggu sebentar, ini Angga mengapa seperti tak mengenal ibu." kata ibu


"Apa? Angga."


"Ibu, ibu tidak ingat ya. Angga hilang ingatan, jadi sangat butuh proses untuk pemulihan." kata Ila sambil berbisik.


"Oh iya ibu lupa Ila, makanya dari tadi ibu berbicara tapi ia seperti bingung sendiri."


Ibu pun mengajak Angga untuk bergabung bersama ibu dan Ila di meja yang sama.


"Ini ibumu Ila? tanya Angga


"Iya ini ibuku, apa kamu tidak mengingat dia sama sekali." ucap Ila


Angga hanya menggeleng saja, ia benar-benar tidak mengingatnya.


"Oh iya, mengapa kamu kesini?" tanya Ila kepada Angga


"Begini, aku ingin menambah porsi untuk makan siang para karyawanku." kata Angga


Ila pun mendiskusikan kepada Angga mengenai permintaan yang ia kehendaki, hingga muncul kata deal antara mereka berdua.


"Ibu sudah selesai makan ya."


"Iya nak, ibu sudah kenyang." kata Ibu

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu, sekarang ibu minum obatnya ya." ucap Ila


Ila memberikan ibu obat sesuai dengan anjuran dokter tadi.


"Ibu sakit apa?" tanya Angga


"Oh ini, ibu hanya kelelahan saja. Jadi ibu harus banyak-banyak istirahat juga." ucap Ila


"Maklum saja Angga, faktor U." kata Ibu sambil tersenyum


"Ibu masih kelihatan muda kok." kata Angga


Mereka pun saling melemparkan candaan dan mengobrol satu sama lain.


"Ini sudah mau sore bu, kita pulang saja ya." kata Ila


Ibu mengangguk dan Ila berjalan sambil memegangi tubuh ibu untuk masuk ke dalam mobil. Angga juga mengikuti mereka dari belakang, ia sangat khawatir dan berusaha untuk menjaganya.


Disaat Ila hendak masuk mobil, tiba-tiba kepalanya kejedot dan dia pun berteriak kesakitan.


"Kenapa nak?" tanya Ibu yang sudah ada di dalam mobil.


"Ini bu kepalaku." kata Ila sambil mengelus kepalanya.


Angga mengetahui Ila kejedot, ia pun mengelus kepala Ila dan menanyakan keadaannya.


"Sakit banget ini, kok bisa sih aku ini." ucap Ila yang jengkel


"Seharusnya kamu lebih hati-hati." ucap Angga sambil terus mengelus kepala Ila.


Ila pun terbawa suasana karena Angga sangat begitu baik kepadanya, ia pun terus saja menatapnya.


"Kenapa menatapku seperti itu? mulai suka dengan aku ya." kata Angga


"Sudah sudah apaan sih." ucap Ila dan menghentikan Angga untuk mengelus kepalanya.


"Gitu saja marah."


"Siapa yang marah. Aku pulang saja." kata Ila


Ila bergegas untuk masuk mobil karena dirinya sudah salah tingkah di depan Angga.


"Ibu sudah siap, kita pulang sekarang ya bu." ucap Ila


"Iya nak, bagaimana dengan kepalamu? apa sudah tidak sakit lagi?"


"Sudah sedikit mendingan bu, ibu jangan terlalu khawatir ya." kata Ila


Ila dan ibu pun pergi untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Apa yang aku pikirkan ini? bagaimana aku bisa terbuai dengan dirinya lagi. Ia terus saja ada di hadapanku, lalu bagaimana aku bisa melupakannya begitu saja. Rasa benci ku padanya juga tak bisa mengalahkan rasa kagum ku padanya. Bisakah aku terus menipu perasaanku seperti ini?. Kapan kau akan memberiku jalan yang tepat untuk diriku sendiri tuhan. Aku sudah semakin lelah. Manakah yang harus aku pilih. Orang yang tulus mencintaiku tapi aku tak mencintainya atau orang yang tiba-tiba menghilang tapi aku mencintainya.


__ADS_2