Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 77 : MELAMAR


__ADS_3

Persiapan sudah di mulai, Angga telah mempersiapkan semuanya di taman dengan dihiasi bunga-bunga nan indah. Cincin yang hendak Angga berikan kepada Il sudah ia genggam di tangannya. Kini tinggal menunggu Ila untuk tiba disana.


"Hati-hati jalannya." kata Jesi


Jesi sedang membantu Ila untuk berjalan karena mata Ila yang sedang ditutup.


"Sebenarnya kamu mau mengajak aku kemana?" tanya Ila


Ila masih belum mengetahui kalau Angga telah menyiapkan kejutan untuk dirinya. Dia berpikir Jesi lah yang ingin mengajak dirinya untuk jalan-jalan karena sudah lama sekali Jesi dan Ila tak pergi keluar bersama.


"Kamu tunggu, hitungan ke tiga kamu boleh buka ini." ucap Ila


Setelah hitungan ketiga, Jesi pun pergi dan yang terlihat dihadapan Ila adalah Angga.


"Kejutan". teriak Angga


Muka Ila tercengang melihat sekelilingnya penuh dengan bunga dan lampu kerlip yang indah. Senyum lebar pun terlihat di raut wajahnya kala itu.


"Bagaimana, kamu senang?" tanya Angga



Ila mengangguk lalu ia memeluk Angga


"Terima kasih kejutannya, aku senang sekali." ucap Ila sambil memeluk Angga dengan erat.


"Iya sama-sama. Lagipula suasana seperti ini kan yang kamu inginkan." kata Angga


Ila tak hentinya memeluk Angga hingga dirinya menangis terharu. Angga pun merasa khawatir.


"Kamu menangis? ada apa? apa ada yang kurang ya?." kata Angga


"Tidak, ini sudah lebih dari cukup. Aku cuma terharu saja kamu memberiku seperti ini." ucap Ila


Angga tanpa berkata-kata langsung mengeluarkan cincin di hadapan Ila.


"Maksud kamu apa?" tanya Ila


"Aku tak perlu lagi berkata-kata panjang lebar di hadapanmu, karena kamu sudah cukup tahu bagaimana perasaanku kepadamu. Aku tak ingin kehilanganmu untuk kesekian kalinya. Mau kah kamu menikah denganku." kata Angga


Angga tiba-tiba khawatir karena Ila merengek menangis begitu kencang.


"Ila, apa aku salah." ucap Angga dengab khawatir


"Kamu membuatku seperti ini aku jadi terharu, kamu yakin dengan ucapanmu ini." kata Ila


"Uh..sayang cup cup." kata Angga yang menenangkan Ila sambil mengelus kepalanya.


"Tanggung jawab ya."


"Tanggung jawab untuk apa?" tanya Angga


"Tanggung jawab karena aku jadi mau menerima ini." ucap Ila sambil mengambil cincin yang ada di tangan Angga


"Jadi kamu mau menikah denganku?"

__ADS_1


"Iya aku mau." kata Ila dengan malu-malu.


"Ini aku masang sendiri cincinnya." lanjut Ila sambil meledek


"Iya iya aku lupa, sini aku pasangin."


Selesai bertukar cincin, mereka berdua saling berpelukan. Tiba-tiba saat itu ada kembang api yang muncul untuk melengkapi kebahagiaan mereka berdua. Alangkah bahagianya kala itu.


Setelah semua kejutan telah terlewati, kini mereka berdua sedang duduk disana sambil menikmati gemerlap bintang di malam hari


"Malam ini sungguh indah sekali. Lihat deh bintangnya, indah." ucap Ila


"Iya, bintangnya indah seperti kamu."


Semua mata tertuju ke atas melihat bintang. Namun seketika di saat Angga menggombal seperti itu, Ila pun menatap Angga dan salah tingkah sendiri.


"Ada apa nih, kok perhatiin muka ku. Kenapa? ganteng ya?" kata Angga


"Ih kamu nih, terlalu percaya diri sekali anda ini." ucap Ila


Angga pun menoleh ke arah Ila. Mereka berdua pun saling menatap satu sama lain disana.


"Sekarang kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Ila


"Apa aku tidak boleh menatap calon istriku ini." kata Angga


"Ih kamu ini."


Disaat Ila memalingkan wajahnya dan kembali melihat ke atas langit, Angga mengembalikan tatapan itu.


"Ada apa sih, kok kamu melihat atas." kata Angga


"Buat apa malu, kalau aku jadi suamimu aku akan menatap seperti ini setiap hari."


"Ih..apaan sih."


Suasana menjadi hening, Angga dan Ila saling bertatapan. Antar mata ke mata yang seakan akan berbicara suatu hal.


"Kamu tahu tidak, hal ini yang aku tunggu-tunggu selama hidupku. Aku ingin memilikimu seutuhnya dan ini adalah prosesnya." ucap Angga


"Iya akhirnya, setelah sekian lama kita terpisah namun takdir menyatukan kita kembali. kata Ila


"Seperti janjiku dari dulu, aku akan selalu menjagamu seumur hidupku."


Angga dan Ila pun terhanyut dan emosional.


Tak beberapa lama kemudian handphone Angga berbunyi dan dirinya mengangkatnya sedikit berjauhan dengan Ila.


Tak tahu apa yang dibicarakan Angga di telepon. Setelah selesai itu, Angga mengantarkan Ila untuk pulang.


"Ayo kita pulang, sudah malam sekali ini." kata Ila


"Baiklah, ayo aku antar." ucap Angga


Angga mengantarkan Ila untuk pulang ke rumahnya. Namun dalam perjalanan pulang tak semulus itu.

__ADS_1


"Tunggu, ini lipstick siapa?" ucap Ila


Menemukan di lipatan kursi mobil terdapat lipstick berwarna merah muda.


"Lipstick apa, coba lihat." kata Angga, dimana posisi sedang menyetir.


Ila memperlihatkan ke Angga dengan jelas.


"Lipstick siapa ya aku tidak tahu." kata Angga


"Kamu bohong, bagaimana bisa barang ini ada di sini jika kamu tak mengetahuinya." ucap Ila


"Aku berani sumpah sayang, aku tidak tahu ini punya siapa."


Ila terdiam dan wajahnya berubah cemberut.


"Bagaimana bisa dia tidak tahu lipstick ini punya siapa." ucap Ila dalam hatinya.


"Lipstick siapa ya itu, bagaimana barang itu ada di mobilku." kata Angga dalam hatinya.


Semua terdiam, tak ada interaksi antara keduanya. Angga mengerti kondisi Ila saat itu yang sedang bad mood setelah pertengkaran kecil ini terjadi.


Tak mau tinggal diam, Angga memberhentikan mobilnya di tepi jalan.


"Kenapa berhenti?" kata Ila


Angga sedang menjelaskan dan membujuk Ila kembali agar tidak ngambek dan percaya lagi dengan dirinya.


"Buat apa aku berbohong padamu." kata Angga


Ila hanya terdiam, ia tak mau bicara dengan Angga.


"Sayang, kamu dengar aku kan." kata Angga


Ila tak menggubris dan akhirnya Angga memegang tangan Ila.


"Sayang, tolong percaya padaku." kata Angga sambil memegangi tangan Ila


Setelah terus menerus membujuk akhirnya Ila mau bicara.


"Kamu tidak perlu merengek seperti itu, aku akan memberimu kesempatan lagi. Namun jika kamu mencoba selingkuh dari aku, kita selesai sampai sini saja." kata Ila


"Terima kasih sayang." ucap Angga.


Mereka berdua melanjutkan perjalanan untuk pulang. Angga yang mengantarkan Ila ke rumahnya merasa lega karena Ila sudah tak mengambel lagi pada dirinya.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya."


"Iya salam ke ibu dan adik ya." kata Angga


"Besok kamu aku antar ya kalau mau ke restoran." kata Angga


"Tidak perlu aku bisa pergi sendiri."


Ila langsung pergi begitu saja meninggalkan mobil Angga.

__ADS_1


"Apakah dia masih marah ya." ucap Angga


"Besok aku harus kasih dia hadiah sebagai permintaan maaf." lanjut ucap Angga sambil melanjutkan perjalanan untuk pulang.


__ADS_2