
Kak Bima menepati semua ucapannya untuk membalas perbuatan Angga kepadanya. Kak Bima langsung menelepon semua investor dari Perusahaan Primadi agar memutuskan hubungan kerja dengan mereka.
"Kamu telah merebut dia dariku, jika aku tidak bisa mendapatkan dia kamu juga tidak akan bisa." ucap Kak Bima.
KANTOR PRIMADI.
Hari itu ada rapat seperti biasa antar karyawan. Mereka menyambut kembali hadirnya Ila untuk bekerja kembali disana. Semua sangat senang karena Ila kembali kerja disana tak terkecuali Jesi sahabatnya itu.
Angga sebagai bos disana ingin mengadakan family gathering bersama para pegawainya. Angga pun menyampaikan niatnya itu kepada semuanya. Respon yang tak terduga, semua mengikuti kegiatan itu tanpa terkecuali.
Kegiatan itu akan diadakan besok pagi, sehingga pagi hari sekali mereka harus sudah berkumpul di depan kantor.
Hal tersebut juga mendapat respon yang baik dari Ila. Angga sangat senang melihat senyum yang terpancar di wajah Ila saat itu.
...----------------...
MALAM HARI DI RUMAH ILA.
Semua keluarga Ila telah selesai makan malam, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya.
tok..tok..tok (suara pintu)
"Biar aku yang buka." ucap Ila
Saat Ila membuka pintu rumahnya, ternyata yang ada disana adalah Kak Bima.
"Selamat malam, Ila." kata Kak Bima seperti tanpa dosa.
"Ada apa kakak kesini?"
Ibu yang melihat Ila di pintu sedang berbicara menyuruhnya untuk mengajak tamunya masuk dan mempersilahkan untuk duduk.
"Terima kasih sudah memperbolehkanku duduk." kata Kak Bima.
Ila memasang wajah tanpa senyum saat itu di depan Kak Bima. Rasa simpati dia kepada kakak seniornya kini berkurang saat dia melakukan hal yang rendahan seperti itu.
"Apa yang ingin kakak katakan?"
Kak Bima mencoba mengancam Ila kembali dengan menawarkan pekerjaan kepadanya. Ila merasa hatinya terombang-ambing kembali dengan ucapan Kak Bima yang saat itu mengancam akan meruntuhkan Perusahaan Primadi jika Ila tidak kembali bekerja dengannya.
"Aku beri waktu kamu 1 x 24 jam untuk memikirkan ini." ucap Kak Bima
__ADS_1
Dia langsung meninggalkan rumah Ila kala itu.
"Aku harap rencana ini berhasil, aku ancam kembali dia dengan kekuasaan yang aku miliki." ucap Kak Bima dalam hati.
Di malam yang sunyi, Ila tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan ucapan Kak Bima. Dia takut Kak Bima akan nekat melakukan hal itu.
"Oh tuhan, mengapa ini terjadi lagi." kata Ila
Ila tidak bisa tidur hingga larut malam karena terus memikirkan pilihan yang harus ia tentukan.
Hingga menunjukkan pukul 7 pagi dia masih belum bangun. Namun suatu ketika suara ponselnya berdering cukup keras, Ila langsung kaget dan terbangun dari tidurnya.
Itu panggilan dari Jesi. Jesi telah menelepon Ila beberapa kali tetapi tidak ada balasan darinya.
Mulai tersadar kalau hari itu ada acara family garhering, semua karyawan disuruh untuk datang lebih pagi. Kali ini acara akan diadakan di pantai, sehingga perusahaan telah menyewa bus untuk itu.
Ila pun dengan cepat mandi dan bersiap diri. Dia tidak ada waktu untuk sarapan. Ila langsung berangkat ke kantornya.
Ila tidak bersama Jesi karena saat itu sepeda motor Jesi sedang di service di bengkel.
...****************...
KANTOR PRIMADI
huu.huuu..huuum..(suara nafas pendek Ila yang ngos-ngosan)
"Dari mana saja kamu? kami sudah menunggumu dari tadi." ucap salah satu pegawai.
"Maaf maafkan aku." ucap Ila dengan tangan memohon.
Ila pun mencari tempat duduk. Disana terlihat ada Jesi yang sudah menyiapkan tempat duduk untuknya, sehingga dia tinggal duduk saja.
"Ada apa denganmu, apa ada masalah?" tanya Jesi
Ila hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan di sebelah Ila saat itu adalah Angga.
Ila di sepanjang perjalanan, mukanya tampak gelisah dan terkadang melamun. Angga melihat itu semua diraut wajahnya. Angga pun tidak menanyakan hal itu karena saat itu suasana di bus sangat ramai.
...----------------...
SAMPAI DI PANTAI.
Akhirnya setelah beberapa jam perjalanan, mereka sampai juga. Semua karyawan turun dari bus tak terkecuali Ila dan Jesi. Ila saat itu sering melamun, Jesi juga sesekali menyadarkan lamunan Ila.
__ADS_1
Semua para karyawan tampak senang ada yang melakukan outbond, menikmati ombak pantai, maupun melakukan olahraga disana. Acara demi acara mereka lewati.
Ila saat itu duduk termenung di ayunan sambil melihat acara hiburan yang ada disana namun pikiran dia masih dengan ucapan dari Kak Bima. Tiba-tiba ayunan itu seperti ada yang mendorongnya dari belakang, benar saja itu adalah Angga. Ila menoleh ke arah belakang.
"Ada apa kamu kesini?" tanya Ila
"Seharusnya aku yang tanya kepadamu, ada apa denganmu?" (sambil duduk di sebelah ayunan Ila)
"Aku? memang aku tampak seperti apa? aku baik-baik saja." ucap Ila (berusaha menutupi perasaannya yang sedang bimbang)
"Kamu tidak bisa menutupi perasaanmu kepadaku, aku tahu kamu berbohong." kata Angga
Ila langsung berdiri dan pergi dari sana, dia menuju ke tempat duduk semua pegawai yang ada di tepi pantai. Angga yang melihat itu langsung mengikutinya.
"Apa yang kamu lakukan." ucap Angga (berbicara di dekat telinga Ila karena suasana disana sangat ramai)
Ila mengabaikan perkataan Angga, dia berpura-pura fokus menikmati hiburan disana. Angga yang melihat itu semua merasa sangat geram, dia pun menarik tangan Ila dan membawanya pergi dari sana.
"Kamu harus ikut denganku, disini sangat ramai. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu pikirkan hingga kamu seperti ini." kata Angga di dalam hatinya.
Ila pun ikut saja tangannya ditarik oleh Angga. Dia saat itu tidak cukup energi untuk melawan, karena dia sangat letih sekali. Ila habis begadang dan kini jadwalnya juga cukup padat sehingga tubuhnya sangat lemas.
"Oke, sekarang katakan padaku."
Ada di tempat yang cukup hening dan tidak terlalu berisik.
"Apa yang harus katakan?" tanya Ila
"Apa yang kamu pikirkan?"
Ila hanya diam saja, dia tidak mau masalahnya ini akan menjadi beban bagi banyak orang.
"Kamu kalau aku tanya jawab." kata Angga dengan sedikit emosi
Angga terus menerus memaksa Ila untuk bicara terus terang kepadanya, dia sampai menggoyangkan tubuh Ila dengan memegang bahunya. Tetap saja dengan pendiriannya saat itu. Ila menundukkan kepala dan bungkam.
"Mengapa kamu hanya menunduk saja, ha? tanya Angga dengan sudah sangat emosi.
Ila pun menunjukkan wajahnya kepada Angga dan apa yang telah terjadi kepadanya. Ternyata dia selama itu terus saja menundukkan kepalanya karena dia tidak mau sampai ketahuan kalau dirinya sedang sakit saat itu.
BERSAMBUNG.
Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)
__ADS_1
Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏