Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 51 : KEPUTUSAN ILA


__ADS_3

Di balik pintu, Ila mendengar percakapan antara Angga dan pegawainya itu.


Ila bergegas pergi dari sana dan menarik tangan Jesi.


"Ada apa ini?" tanya Jesi


"Ayo antar aku, nanti aku beri tahu." ucap Ila


Ternyata saat itu Ila menuju ke kantor Santoso untuk menemui Kak Bima.


"Kamu yakin." kata Jesi


Ila mengangguk menandakan kalau dia yakin dengan sikapnya untuk mendatangi Kak Bima.



Dia menuju ke ruangan Kak Bima. Mereka duduk saling bertatapan satu sama lain.


"Ada apa kamu kesini Ila, apa ada yang bisa kakak bantu?" tanya Kak Bima


"Apa benar kakak yang menyuruh investor untuk tidak berinvestasi di perusahaan primadi?"


"Bukan aku yang menyuruhnya, aku hanya memberi masukan saja kepada mereka."


"Jika mereka memutuskan kontrak dengan perusahaan primadi, itu bukan salah aku." lanjut Kak Bima


Dalam hati, Ila tidak menyangka kalau Kak Bima akan melakukan itu kepada perusahaan milik Angga. Ila masih berpikir apakah ini ada kaitannya dengan pemukulan Kak Bima oleh Angga saat itu.


"Ila, ada apa?" tanya Kak Bima karena melihat Ila seperti sedang memikirkan sesuatu hal.


"Baiklah kak, aku pergi dulu."


Ila meninggalkan tempat itu, tetapi saat hendak pergi Kak Bima menghentikan langkahnya.


"Aku bisa bantu perusahaanmu."


"Bagaimana caranya kak?" tanya Ila


Angga memberi syarat kepada Ila, jika perusahaan milik Angga ingin mendapatkan investor itu lagi maka Ila harus bersedia bekerja dengannya dan meninggalkan pekerjaannya saat itu juga.


"Itu pilihan kamu La." ucap Kak Bima


Ila berpikir sangat keras. Satu sisi Ila sangat ingin membantu perusahaan tempat dia bekerja, karena jika bangkrut maka pegawai lain pasti akan kena pecat semuanya. Ila tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Namun Ila sebenarnya tidak ingin bekerja dengan Kak Bima, yang nantinya seolah-olah dia telah mengkhianati Perusahaan Primadi jika dia bekerja dengannya.


"Kamu pilih perusahaan itu bangkrut, kamu dipecat lalu kamu harus kerja apa untuk memenuhi kebutuhan keluargamu atau memilih bekerja denganku, aku jamin kamu akan nyaman bekerja denganku." ucap Kak Bima yang berusaha mempengaruhi Ila.



Wajah bahagia tampak jelas di Kak Bima. Dia merasa puas telah membuat Angga seperti ini. Tetapi ini belum berarti apa-apa untuk Kak Bima sebelum Ila setuju untuk berkerja dengannya.


"Huu..Baiklah aku terima tawaran dari Kak Bima." kata Ila


"Maafkan aku semuanya, aku melakukan ini juga untuk kebaikan kalian." ucap Ila dalam hatinya.


"Oke kalau begitu, mulai hari ini kamu bisa urus surat kepindahanmu."


Kak Bima langsung menelepon semua investor untuk berinvestasi kembali ke Perusahaan Primadi. Ila saat itu mendengarnya sangat lega dan tersenyum bahagia karena perusahaannya tidak jadi mengalami kebangkrutan.

__ADS_1


Ila berpamitan kepada Kak Bima untuk kembali.


"Jangan lupa, kamu sudah menerima tawaranku untuk bekerja di Perusahaan Santoso. Segera urus dan kembalilah kesini." kata Kak Bima


Ila hanya mengangguk dan keluar dari sana. Di luar Jesi menunggunya dan terlihat wajahnya sangat senang sekali.


"Barusan aku mendapat telepon dan aku ada kabar gembira La, perusahaan kita tidak jadi bangkrut. Semua investor kembali menaruh sahamnya di perusahaan primadi." kata Jesi dengan senyum bahagia.


Ila tampak termenung saat itu, Ila bingung harus berekspresi seperti apa. Haruskah dia senang atau sedih. Dia telah menerima tawaran dari Kak Bima, Ila mulai berpikir kembali apakah keputusannya ini benar.


"Hei..apa yang kamu pikirkan?" tanya Jesi


"Sebenarnya..e..sebenarnya aku yang telah meminta kepada Kak Bima agar para investor kembali lagi."


"Jadi kamu barusan bilang ke Pak Bima. Terima kasih Ila." (memeluk Ila sebagai tanda ucapan terima kasihnya).


"Tapi..."


Ila menceritakan semuanya kepada Jesi apa yang sebenarnya terjadi. Percakapan antara dia dan Kak Bima tadi. Sontak hal tersebut membuat Ila kaget.



Ila menangis di sebelah Jesi


"Apakah keputusanku ini benar, Jes?" tanya Ila


Jesi tidak bisa memberi saran kepada Ila, Jesi pun ikut bingung. Namun Jesi mendoakan segala apapun keputusan dia itu yang terbaik dan selalu mendukung sahabatnya itu. Jesi juga berterima kasih kepadanya karena harus mengorbankan dirinya untuknya maupun pegawai lainnya.


"Kamu mulai pindah kapan?" tanya Jesi


"Hari ini."


Ila dan Jesi pun pergi meninggalkan kantor itu dan kembali ke kantor Primadi.


KANTOR PRIMADI.


Suasana disana tampak begitu riang.


(PERCAKAPAN ANTAR PEGAWAI)


"Saat Pak Angga menyatakan bahwa investor tidak lagi menaruh sahamnya disana dan ada pengurangan karyawan, hatiku berdegup kencang."


"Iya, aku berpikir mungkin perusahaan ini akan bangkrut.


"Ternyata, ketika tiba-tiba Pak Angga dapat telepon lalu mengumumkan kalau perusahaan tidak jadi bangkrut dan ditutup, aku sangat senang sekali."


"Sungguh hebat Pak Angga ya bisa seketika membalikkan keadaan seperti semula."


Ila dan Jesi mendengar semua obrolan dari pegawai disana kalau mereka masih tetap bisa bekerja.


Ila hendak ke ruangannya untuk mengatakan semuanya kepada Angga tentang pengunduran dirinya.


TIBA DI RUANGAN.


Angga melihat Ila sudah tiba, kemudian dia menghampirinya.


"Dari mana saja kamu?" tanya Angga

__ADS_1


"Itu..eehmm. Ada yang ingin aku katakan kepadamu." ucap Ila


"Katakan saja."


Ila menjulurkan tangannya dengan memberikan surat kepada Angga.


"Apa ini?"


Angga membuka dan membaca surat itu.



Tanpa bilang apa-apa, dengan tatapan tajam Angga mendekat kepada Ila. Ila perlahan mundur sedikit demi sedikit. Hingga Ila memejamkan matanya.


"Apa maksudmu? kamu pasti bercanda" (berbicara berbisik di telinga Ila).


Mata Ila terbuka, dia mundur 1 langkah ke belakang.


"Aku serius." ucap Ila dengan terbata-bata


"Bisa beri alasan kepadaku, mengapa kamu secara tiba-tiba ingin berhenti?"


"Aku hanya ingin berhenti dan sudah cukup bosan disini." kata Ila dengan kepala menunduk.


"Kamu bohong, aku tahu kamu bohong."


"Aku serius."


Angga mendekat lagi ke arah Ila.


"Sekarang angkat kepalamu dan bilang kepadaku kamu tidak berhohong." kata Angga


Ila sedikit takut untuk mengangkat kepalanya. Jika dia angkat kepala, matanya juga akan ikut menatap mata Angga.


Ila perlahan mengangkat kepalanya, tetapi tiba-tiba Angga menyentuh dagu Ila dan menopangnya agar Ila tetap dengan kepala seperti itu.


"Cepat katakan padaku." kata Angga


Mereka berdua begitu sangat dekat saat itu.


"Aku tidak berbohong dan aku ingin berhenti dari sini." ucap Ila dengan memejamkan matanya.


Angga tersenyum tidak percaya.


"Kamu bohong."


"Aku bohong apa kepadamu?" tanya Ila


"Kamu bilang kamu bohong ya bohong."


"Aku Ila tidak ingin bekerja lagi dengan kamu Pak Angga dan sekarang aku ingin berhenti dari pekerjaanku ini." ucap Ila dengan kesal karena Angga masih menganggapnya berbohong.


Seketika Angga kaget dengan pernyataan yang keluar dari mulut Ila.


BERSAMBUNG.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)

__ADS_1


Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏


__ADS_2