
Pagi ini, Alex untuk sementara waktu ikut Angga untuk bekerja di perusahaan Primadi karena Angga sangat membutuhkan kemampuan Alex saat itu.
Ada beberapa masalah di kantor yang Angga tidak bisa untuk mengatasinya sendiri jadi mau tidak mau ia memohon kepada sepupunya itu untuk datang ke Jakarta dan membantu permasalahan disana.
"Ayo kita masuk, nanti kamu akan aku kenalkan ke beberapa pegawai disini." kata Angga
"Iya baiklah." ucap Alex
Saat Angga memperkenalkan Alex kepada para pegawainya, semuanya sangat menyukai sosoknya sekaligus kagum kepada dia.
"Ternyata keturunan keluarga primadi semua ganteng semuanya ya." ucap pegawai perempuan disana
"Pak Alex juga ga kalah gantengnya dengan Pak Angga." ucap yang lain
"Tapi aku masih tim Pak Angga sih."
Angga menjelaskan kedatangan Alex adalah untuk membantu dirinya disana.
"Semisal tak ada aku, bisa langsung menemui Pak Alex ya." kata Angga kepada seluruh pegawainya.
Setelah selesai, semua kembali bekerja seperti biasanya.
"Ayo, aku tunjukkan ruanganmu." kata Angga
Semua berjalan seperti biasa, Angga dan Alex sedang sibuk membahas mengenai kemajuan Perusahaan Primadi. Kali ini terdapat masalah serius mengenai perusahaan Angga itu.
"Pasti ada jalan keluarnya, bagaimana kalau kita mengadakan pameran promosi untuk produk kita." kata Alex
Angga pun menyerahkan semuanya kepada Alex, ia percaya bahwa Alex bisa mengembangkan Perusahaan Primadi kembali.
"1 tahun belakangan ini memang banyak investor yang tak lagi bekerja sama dengan kantorku ini, sehingga banyak masalah finansial yang harus aku atasi, jika memang itu adalah solusi terbaik aku menyetujuinya." kata Angga
Mereka berdua pun saling berdiskusi dan menyusun strategi yang tepat untuk itu.
...****************...
Hari sudah semakin siang, Angga dan Alex pergi untuk makan siang di kantin kantor.
Tak lama kemudian datanglah Ila yang ditemani oleh Jesi.
"Kalian disini rupanya." kata Ila yang tiba-tiba datang mengagetkan Angga dan Alex
"Kamu, kenapa tiba-tiba datang kesini?" tanya Angga
"Memangnya tidak boleh aku datang kesini." ucap Ila
Angga mempersilahkan kekasihnya itu untuk duduk.
"Kamu kesini sendirian?" tanya Angga
"Tidak."
__ADS_1
"Lalu kamu siapa Ila?" tanya Alex sambil melihat arah belakang Ila tapi tak ada seorangpun disana.
Jesi pun datang dan menyapa mereka semua.
"Hai semua." kata Jesi
"Nah ini dia, aku kesini bersama Jesi." ucap Ila
Ila mengatakan kalau kedatangan mereka kesana karena ia mengantarkan Jesi yang ingin memberikan handphone yang diminta oleh Alex.
"Ini handphonenya, sama persis sesuai dengan yang kamu minta." kata Jesi
Alex membuka wadah dari handphone itu.
"Ini sama persis seperti handphoneku kemarin." ucap Alex dalam hatinya
"Oke baiklah aku terima." kata Alex setelah sekian lama mengecek dan melihat handphone itu.
"Akhirnya aku tak ada masalah lagi dengan lelaki ini." kata Jesi dalam hatinya.
Setelah semua beres dan karena mereka ada disana akhirnya Ila dan Jesi ikut makan siang disana saja.
"Kamu mau makan apa?" tanya Angga kepada Ila
Ila dan Jesi serasa flashback dengan makanan disana.
"Aku jadi ingat kita dulu pernah makan disini dengan menu seperti ini." ucap Ila kepada Jesi
"Iya aku jadi ingat dengan momen itu." kata Jesi
"Kalian memangnya sering makan disini?" tanya Alex
Angga pun tersenyum dengan perkataan kekasihnya itu.
Setelah semua selesai makan, Ila dan Jesi memutuskan untuk kembali.
"Kalau begitu aku kembali ke restoran ya." kata Ila
"Aku juga mau kembali ke butik." kata Jesi
Semua pun pergi meninggalkan kantin itu karena mereka memiliki kesibukan masing-masing.
...****************...
MALAM HARI.
Angga dan Alex telah tiba di rumah setelah bekerja di hari yang cukup melelahkan di saat itu . Ketika Angga hendak pergi ke kamarnya, ia melihat pintu kamar papa mamanya sedikit terbuka.
"Kok bisa terbuka sih, apa mereka sudah tidur ya." kata Angga
Di saat dirinya hendak menutup pintu kamar kedua orang tuanya, tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan dari papa mamanya itu.
Suara itu terdengar sedikit jelas di telinga Angga lalu apa yang di dengar oleh Angga saat itu membuat dirinya sangat shock dan seperti tak bisa berkata-kata lagi.
"Jadi, selama ini dia bukan ibu kandungku." ucap Angga
__ADS_1
Angga langsung pergi ke kamarnya dan dia masih tidak menyangka dengan semua itu.
"Dia bukan ibu kandungku, bagaimana dia bisa menikah dengan papa padahal ia adalah sahabat dari ibu kandungku sendiri." kata Angga
"Apa jangan-jangan mereka berdua.." lanjut ucap Angga
Banyak sekali spekulasi yang muncul dalam pikiran Angga. Angga sampai tidak bisa tidur memikirkan itu semua.
"Mengapa mereka tak mengatakan ini semua kepadaku. Aku sangat kecewa pada mereka." kata Angga
...****************...
KEESOKAN HARI.
Angga seperti biasa pergi ke kantor. Saat semua sedang sarapan di meja makan tak terkecuali Alex juga ikut lalu inilah yang Angga katakan.
"Nak ayo sarapan dulu." kata mama
"Tidak aku buru-buru, aku sarapan di luar saja."
"Ayo nak, mumpung mama masak makanan kesukaanmu ini." kata papa
"Tidak, papa makan sana. Aku berangkat." ucap Angga dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.
"Kamu mau kemana?" tanya Alex
"Aku ada urusan, aku tunggu kamu di kantor ya. Nanti kamu bisa pakai mobil yang satunya itu." kata Angga
Ibunya saat itu sangat kebingungan dengan tingkah laku anaknya, karena tak seperti biasa Angga tak sarapan di rumah. Kalau tak sarapan di rumah pasti ia minta dibawakan bekal kepada ibunya itu.
Saat keluar rumah, wajahnya tampak sangat lusuh seperti tak bersemangat.
"Bisa-bisanya dia bertingkah seperti tak ada yang mereka rahasiakan dariku." kata Angga
Karena ia tak fokus menyetir, saat ada kucing lewat di depannya ia langsung berhenti mendadak. Hal ini membuat tangan Angga sakit.
"Astaga." ucap Angga
Menghela nafas dan melanjutkan menyetir.
Sesampainya di kantor, tangan Angga sudah kelihatan memar. Kebetulan sekali, di kantor sudah ada Ila yang sedang menunggunya.
"Kamu sudah datang." kata Ila
"Iya." ucap Angga sambil merintih kesakitan
"Ada apa denganmu? tanganmu, kok bisa jadi seperti ini." kata Ila
Angga menceritakan kejadian saat ia menuju perjalanan ke kantor. Dia mengerem mendadak saat ada kucing yang melintas di depan mobilnya saat itu.
"Kalau begitu kita tunda untuk dulu fitting bajunya, kita ke rumah sakit sekarang ya biar aku yang menyetir." ucap Ila
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa dikompres mungkin sakitnya langsung reda." ungkap Angga
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Iya, aku tidak apa-apa."
"Kalau begitu aku kompres ya, sebentar." ucap Ila sembari mengambil air untuk mengompres Angga.