Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 66 : MUSIBAH TAK TERDUGA


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan larut malam, saat itu Angga badannya sedang tidak enak badan. Ia menuju rumah sakit dan telah diperiksa oleh dokter. Ternyata Angga hanya flu saja karena terlalu lelah beraktivitas seharian. Saat itu cuaca juga tidak mendukung, hujan deras dan timbul petir.



Angga memutuskan untuk tidak pulang terlebih dahulu. Ia tidak ingin mengambil resiko pulang di cuaca seperti itu dengan keadaan dia yang tidak fit. Ia pun duduk di kursi rumah sakit sambil menunggu hujan reda. Untung saja ketika itu ia membawa jaket tebal sehingga dia tidak terasa kedinginan.


Ketika Angga menunggu, tiba-tiba dari kejauhan terlihat Kak Bima yang melintas dan berjalan dengan sangat cepat. Angga sempat berfikir kalau Kak Bima mungkin ingin mengecek kondisinya di kala itu. Namun untuk memastikan hal tersebut Angga pun mengikuti Kak Bima. Disana ia melihat Kak Bima berbicara dengan seorang perawat. Tampak Kak Bima memberikan uang kepada si perawat itu. Angga pun merasa curiga apa yang sebenarnya terjadi antara keduanya. Kak Bima meninggalkan tempat itu, Angga mencoba menghampiri si perawat.


"Tunggu, permisi." kata Angga


"Kenapa, mas. Ada yang bisa saya bantu." ucap si perawat


"Saya mau tanya, apa hubungan anda dengan orang yang tadi? mengapa dia memberikan uang kepada anda?" tanya Angga


Awalnya si perawat itu mencoba untuk menutupi apa yang terjadi antara dirinya dengan Kak Bima, tetapi setelah Angga memberikan penawaran mengenai imbalan yang jauh lebih besar daripada imbalan yang diberikan Kak Bima akhirnya perawat itu mau berkata jujur.


"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi." pinta Angga (merasa curiga dengan gelagat si perawat)


"Jadi seperti ini mas. Orang tadi menyuruh saya untuk membuat surat keterangan sakit seakan-akan ia mengidap penyakit yang parah, hanya seperti itu. Saya mohon mas jangan bilang ini informasi dari saya karena saya tidak ingin keluarga saya yang jadi taruhannya." kata perawat (ia telah diancam oleh Kak Bima sehingga ia harus melakukan hal yang tidak sepantasnya)


"Kamu tenang saja, rahasiamu aman di tanganku.Terima kasih atas informasinya." ucap Angga


Saat perjalanan pulang ke rumah, Angga masih memikirkan hal yang dikatakan perawat tadi. Ia mengambil kesimpulan Kak Bima telah membohonginya.


"Aku sungguh bodoh, telah percaya dengan laki-laki seperti itu."


Angga sungguh merasa menyesal telah merelakan Ila untuk Kak Bima. Angga pun mencoba untuk menelepon Ila, karena ada hal yang ingin ia sampaikan. Tanpa disadari di depannya ada truk yang melaju kencang dan kecelakaan antara mobil Angga dan truk itu terjadi.



Semua orang yang ada disana berbondong-bondong membantu Angga, mobil ambulans datang segera membawa Angga ke rumah sakit terdekat. Saat itu handphone Angga masih memanggil Ila dan salah satu orang yang ada disana mengangkat panggilan lalu mengatakan kalau Angga mengalami kecelakaan.


Ila pun bergegas menuju rumah sakit untuk mengecek keadaan Angga disana, ia telah mendapatkan informasi mengenai rumah sakit tempat Angga dibawa.


RUMAH SAKIT


__ADS_1


Ila langsung menuju IGD. Angga ternyata masih ditangani oleh dokter. Ila pun tahu kalau Angga disini sendirian, orang tuanya sedang berada di luar negeri menjalani pengobatan. Mau tidak mau Ila harus bertanggung jawab kepadanya karena Ila mengenal Angga dan kasihan kepadanya meskipun ia sudah lama tak bertemu dengan dirinya Ila pun akan dengan cepat menyesuaikannya.


"Ya tuhan, berilah kelancaran semoga Angga baik-baik saja."


Di sela itu, Ila pun mencoba menelepon orang tua Angga yang ada di luar negeri. Kebetulan ia menyimpan nomor ayah Angga, tetapi ia belum tahu apakah itu masih aktif jadi Ila mencoba untuk menelepon saja.


"Halo, assalamualaikum om."


"Iya waalaikumsalam, dengan siapa? saya istrinya, suami saya sedang menjalani pengobatan."


"Iya, mohon maaf tante saya Ila."


"Oh Ila, saya dengar dari ayahnya kamu sahabat anak saya ya."


"I..iya tante. saya mau mengabarkan."


"Ada apa?"


"Ini Angga mengalami kecelakaan dengan truk tan."


"Astaga, ya tuhan Angga. Ila tante minta tolong jaga Angga ya. Om dan tante tidak bisa datang hari ini karena ada jadwal pengobatan om, kemungkinan kami bisa datang seminggu lagi. Tante nitip ke kamu ya Ila."


"Iya nak, terima kasih ya."


Ila mendapat amanah dari orang tua Angga untuk menjaga Angga.


Setelah berjam-jam Ila menunggu di IGD, akhirnya keluarlah dokter yang menangani Angga.


"Dok, bagaimana dengan keadaan Angga?" tanya Ila


"Anda kerabatnya?" ucap Dokter


"Iya dok."


"Jadi begini, operasi terhadap saudara Angga berjalan dengan lancar. Namun ada gangguan terhadap otaknya, mungkin terlalu kerasnya benturan yang terjadi di kepalanya sehingga membuat sebagian ingatan Angga hilang.


"Jadi, Angga hilang ingatan dok."

__ADS_1


"Bisa dikatakan begitu."


"Sampai berapa lama dok?" tanya Ila


"Kalau itu kami masih belum mengetahuinya. Kami akan melakukan observasi terlebih dahulu dengan benturan yang ada di kepalanya itu.



Ila merasa sedih mendengar ucapan dokter mengenai kondisi Angga saat itu.


"Ya tuhan, mengapa musibah yang tak terduga ini bisa terjadi. Apa sebenarnya yang telah kau rencanakan." kata Ila dengan meneteskan air mata


Ila pun mencoba untuk kuat dengan keadaan kala itu. Ia mulai berpikir apakah Angga masih mengingatnya, ia pun takut ingatan Angga tentangnya tak ada. Lalu bagaimana ia akan merawatnya jika tak ada ingatan tentangnya di pikiran itu.


"Bagaimanapun kondisinya nanti aku akan tetap merawatnya, karena ini amanah dari orang tua Angga kepadanya." ucap Ila


Tiba-tiba saat ia mengecek handphonenya, ternyata banyak panggilan tak terjawab dan chat dari ibu. Ila pun dengan segera menelepon ibunya.


"Halo bu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, bagaimana nak keadaan Angga. Apakah dia baik-baik saja?"


"Alhamdulillah Angga baik-baik saja, operasinya berjalan dengan lancar tetapi ia masih belum sadarkan diri bu."


"Keluarganya bagaimana nak? apakah sudah tahu?."


Ila pun menjelaskan kepada ibunya mengenai amanah yang orang tua Angga berikan kepadanya.


"Baik nak kalau begitu."


"Oh iya bu, hari ini aku disini dulu ya bu sampai Angga sadarkan diri. Ibu tidurlah tidak perlu menungguku."


"Iya nak, hati-hati dan jaga dirimu baik-baik."


Setelah itu ibu menutup teleponnya dan Ila menunggu Angga sampai ia dipindahkan ke kamar rawat inap. Ila menunggu hingga ketiduran di kursi IGD sampai matahari pun mulai terbit di arah timur.


Ila menguap setelah ia bangun tidurnya. Saat itu ada perawat yang keluar dari ruang IGD. Ila pun bertanya kepada perawat itu.

__ADS_1


"Apakah Angga sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat inap, kemarin dokter bilang kalau sekarang sudah bisa dipindahkan karena kondisinya yang sudah stabil."


"Iya bisa, tunggu ia siuman dulu ya nanti bisa dipindahkan ke kamar rawat inap." ucap perawat.


__ADS_2