
Ila dan Angga masih terjebak bersama di jurang, mereka tak bisa keluar dari sana. Jalan menuju ke atas sangatlah curam sekali.
Angga telah membawakan beberapa kayu untuk membuat api unggun disana.
"Aku buatkan api unggun dulu ya." ucap Angga
Setelah beberapa menit Angga berusaha membuat api unggun itu, akhirnya mereka bisa duduk berdampingan sambil menikmati kehangatannya.
"Kamu jangan takut ya, ada aku disini." kata Angga
"Iya." ucap Ila
Suasana hening seketika, Ila merasa kedinginan. Dia menggosok-gosok kedua tangannya lalu mendekatkannya di api unggun. Melihat kekasihnya seperti itu Angga tidak tega. Ia pun membantu Ila, kedua tangannya memegang tangan Ila dan berusaha agar Ila tak kedinginan.
"Bagaimana, sudah mendingan?" tanya Angga
"Iya sudah, terima kasih." ucap Ila
"Syukurlah, kalau dilihat sepertinya kita akan semalaman disini." kata Angga
Ila pun menangis dengan apa yang menimpa dirinya dan Angga. Ila sebelumnya tak pernah mengalami kejadian yang seperti itu.
"Mengapa kamu menangis, ada aku disini." kata Angga
"Aku memikirkan orang rumah, pasti mereka lagi khawatir mencari kita sekarang."
Angga mencoba menenangkan Ila saat itu. Ia mengusap air mata yang jatuh membasahi wajahnya.
"Sudah kamu jangan menangis lagi, seperti anak kecil." ucap Angga sambil bercanda kepada Ila
"Mana ada seperti anak kecil." ucap Ila dengan raut wajah cemberut.
"Jangan cemberut dong, aku kan bercanda biar kamu tidak sedih lagi." kata Angga
Pembicaraan mereka kali ini mulai serius. Ila menanyakan perihal permasalahan Angga yang sedang ia hadapi hingga dirinya sampai menangis.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi." ucap Ila
Karena dirasa itu adalah momen yang pas untuk ia bercerita kepada Ila, akhirnya ia menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi dengan dirinya.
Ila merasa prihatin dengan keadaan Angga, Ila sangat tahu rasanya dibohongi seperti apa, apalagi sampai ia sudah beranjak dewasa kebohongan itu baru terbongkar.
"Apa mereka sudah tahu kalau kamu telah mengetahui rahasia ini?" tanya Ila
"Mereka belum tahu, tapi yang jelas aku benci pada mereka." kata Angga
Ila mencoba tak memihak pada siapapun, dengan keadaan seperti ini pasti yang Angga butuhkan adalah teman untuk bercerita. Ila berusaha tak membela siapapun, tetapi Ila memberi semangat kepada kekasihnya itu untuk meneruskan hidupnya.
"Aku cuma mau bilang padamu, aku tak memihak antara kamu dan mereka. Tetapi yang harus selalu kamu ingat, jangan terlalu membenci seseorang karena dibalik kebencian itu tersimpan lah banyak cinta yang mungkin sudah tertutup oleh perasaan benci dan kecewa." ucap Ila
__ADS_1
Angga hanya terdiam termenung memikirkan semua perkataan Ila.
...****************...
Matahari mulai terbit, Angga dan Ila masih terjebak di semak belukar. Lalu tiba-tiba Ila terbangun dari tidurnya. Ila saat itu bangun terlebih dahulu karena mendengar suara orang yang berteriak.
"Angga Angga bangun." kata Ila sambil membangunkan Angga
"Ada apa?" tanya Angga
"Kamu dengar suara orang tidak?"
Angga diam sejenak, lalu indra pendengarannya terangsang mendengar seseorang yang sedang berteriak.
"Ayo kita ke arah sana." ucap Angga sambil menggandeng tangan Ila.
Angga dan Ila mencoba mencari sumber suara itu, mereka berkeliling ke area sana tapi belum ketemu juga. Setelah melewati medan yang tak mudah, akhirnya mereka bertemu dengan bapak polisi.
"Pak, bantu kami." ucap Ila
Bapak polisi tersebut langsung memanggil pasukannya untuk mengevakuasi Angga dan Ila.
Alex dan Jesi sengaja menghubungi polisi untuk mencari keberadaan dari Angga dan Ila.
Alex dan Jesi sangat senang ketika Angga dan Ila sudah ditemukan. Mereka berduapun menghubungi masing-masing orang tua dari mereka. Angga dan Ila saat ini di bawah ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.
...****************...
"Nak." ucap Ibu sambil menangis
Ila yang sebelumnya tidur, langsung membuka matanya karena mendengar suara ibu tersayang.
"Ibu, aku tidak apa-apa bu jangan menangis." kata Ila yang tak tega melihat ibunya seperti itu.
"Kok bisa jadi seperti ini nak." kata ibu
"Ceritanya panjang bu, intinya ada orang jahat yang menembak mobil kami sehingga kami mengalami kecelakaan seperti ini."
"Astaga nak." kata ibu
"Ibu jangan menangis lagi, aku sudah ada disini di hadapan ibu." kata Ila
"Bagaimana dengan Angga?"
"Alhamdulillah dia baik bu, terdapat luka juga seperti aku ini." kata Ila
Ila pun mengucapkan terima kasih kepada Jesi karena telah membantu dirinya dengan memanggil polisi untuk keluar dari jurang itu dan terima kasih juga karena selalu ada untuk ibu selama Ila tak ada.
"Iya sama-sama Ila. Sekarang yang terpenting kesembuhanmu." kata Jesi.
__ADS_1
Saat Jesi keluar kamar Ila, tanpa sengaja ia melihat Alex dari kejauhan dan ia pun menghampirinya untuk sekedar menanyakan keadaan disana.
"Lex, bagaimana keadaan Angga?" sapa Jesi kepada Alex yang sedang duduk di depan kamar Alex
"Dia baik-baik saja, di dalam masih ada om dan tante yang sedang merawat Angga." ucap Alex
"Syukurlah kalau begitu, Ila juga keadaannya sudah mulai membaik." kata Jesi
"Syukurlah."
"Kalau begitu aku kesana dulu ya." kata Jesi
"Kamu mau kemana?"
Jesi hendak membeli makan siang untuk ibu dan adik Ila yang sedang menunggu Ila di kamarnya. Sekalian dia juga membeli makan untuk dirinya sendiri.
"Kalau begitu aku ikut ya." kata Alex
"Boleh."
Saat mereka sudah keluar dari rumah sakit, tampak banyak kerumunan tepat di sebelah rumah sakit.
"Ada apa ya?" tanya Jesi
"Aku juga tidak tahu. Bagaimana kalau kita cek saja kesana." ucap Alex
Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi kesana dan apa yang mereka lihat itu ternyata adalah sebuah pertunjukkan acrobat.
"Wah seru banget." ucap Jesi
"Kamu suka?"
"Apapun hiburannya aku selalu suka."
Alex tampak kagum dengan sosok Jesi yang sangat sederhana itu. Ia tak pernah memandang apapun rendah. Alex salut dengan sikap Jesi.
"Halo, ada yang kamu pikirkan?apa ada yang salah denganku?" kata Jesi yang melambaikan tangan melihat Alex sedang melamun sambil menatap dirinya.
"Ha..ha tidak ada. Bagaimana kalau kita mencari makan sekarang." ucap Alex yang sudah merasa salah tingkah
Alex dan Jesi pun mencari makanan di dekat sana dan akhirnya ada sebuah warung yang menyediakan menu lengkap sekali.
"Wah..enak nih." kata Jesi
"Kita duduk sana saja makan lalu kita pesan buat orang-orang yang ada di rumah sakit. Bagaimana menurutmu?"
"Aku sih setuju."
__ADS_1
"Oke kalau begitu aku pesan makanan dulu ya." kata Jesi.
Alex terus saja menatap Jesi karena sosok kepribadiannya itu yang sangat membuat ia tertarik akan diri seorang Jesi.